::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Trump Ancam Pangkas Bantuan, Palestina: Yerusalem Bukan untuk Dijual!

Kamis, 04 Januari 2018 02:00 Internasional

Bagikan

Trump Ancam Pangkas Bantuan, Palestina: Yerusalem Bukan untuk Dijual!
Ramallah, NU Online
Perintahan Palestina tidak gentar menanggapi ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang akan memotong bantuan keuangan untuk warga Palestina jika mereka tidak melanjutkan perundingan dengan Israel.

(Baca: Donald Trump Ancam Potong Bantuan untuk Palestina)
"Yerusalem dan tempat sucinya bukan untuk dijual, tidak dengan emas ataupun perak," kata Nabil Abu Rudeineh, juru bicara Presiden Mahmoud Abbas, Rabu (3/1), seperti diwartakan kantor berita Palestina, WAFA.

Abu Rudeineh menekankan bahwa kepemimpinan Palestina tidak akan kembali melakukan perundingan. Pihaknya mengatakan, perdamaian sejati dan perundingan harus didasarkan pada legitimasi Arab dan internasional dan Inisiatif Perdamaian Arab yang mengarah pada pembentukan negara Palestina merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya.

"Jika Amerika Serikat memiliki kepentingan untuk kepentingannya di Timur Tengah, ia harus mematuhi prinsip dan acuan Dewan Keamanan PBB dan Majelis Umum PBB. Jika tidak, AS akan mendorong kawasan ini ke jurang maut," katanya.

Trump dan duta besar PBB Nikky Haley mengatakan pada Selasa bahwa AS akan memotong dana untuk Palestina dan Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) guna memastikan Palestina kembali ke meja perundingan dengan Israel.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui, proses perdamaian di Timur Tengah telah mengalami kesulitan. Ia pun mengancam akan menyetop kucuran dana untuk warga Palestina senilai lebih dari $ 300 juta per tahun yang ia klaim sebagai bantuan.

Di Twitter, melalui akun Twitter, Trump mengungkapkan bahwa pihaknya membayar rakyat Palestina ratusan juta dolar setahun dan tidak mendapat apresiasi atau penghargaan.

"Dengan kondisi warga Palestina tidak lagi mau membincang soal perdamaian, mengapa kami mesti mengongkosi masa depan secara besar-besaran ini untuk mereka?" katanya. (Red: Mahbib)