::: ::: 

::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kiai Subkhan: Janganlah Menjauh dari Orang-orang Saleh

Jumat, 12 Januari 2018 18:35 Nasional

Bagikan

Kiai Subkhan: Janganlah Menjauh dari Orang-orang Saleh
Brebes, NU Online
Rais Syuriyah PBNU KH Subkhan Makmun mengajak Nahdliyin untuk selalu berkumpul dengan orang-orang saleh. Jangan sampai menjauhinya sebab menjauhkan diri dari orang saleh, hanya akan mendapatkan kehidupan dunia fana. 

“Jangan sampai kita terkecoh oleh kehidupan dunia sehingga menghindar dari orang-orang saleh karena menganggapnya tidak menguntungkan,” tutur KH Subkhan Makmun saat menyampaikan taushiyah pembinaan mental pada Aparatur Sipil Negara (ASN) Kabupaten Brebes, di pendopo Kabupaten Brebes, Jumat (12/1).

Ibarat bergaul dengan pedagang minyak wangi, maka akan ikut wangi. Demikian juga bila bergaul dengan orang yang jahat, kalau tidak kuat, maka akan terserempet juga ke jurang kejahatan. Bersahabat dengan semua orang itu penting, tetapi harus mampu mencermati tabiat dan akhlaknya.

Bisa saja, lanjutnya, kita akan tertutup hati sehingga tidak mampu melihat kebaikan, maka jadilah orang yang mencintai orang baik. Orang yang senantiasa menyebar kebaikan. 

“Jangan mudah percaya pada orang yang mengajak pada keburukan, meskipun kelihatannya menguntungkan keduniawian,” ujarnya.

Kiai Subkhan mencermati bahwa Islam saat ini terkesan kurang santun karena pengaruh dari luar akibat mengambil tanpa melihat kondisi riil di Indonesia. Seperti yang dilakukan oleh anak-anak muda yang langsung mengambil arti pakaian gamis yang diidentikan dengan Islam. Padahal Abu Lahab, Abu Jahal memakai gamis, tetapi dia kafir. 

Di Indonesia, tentu jangan menghilangkan budaya asli Indonesia. Budaya seperti itu contohnya adalah sarung yang merupakan warisan tempo dulu. Kemudian diadopsi umat Islam dengan sebaik-baiknya. Sarung kemudian menjadi identitas Muslim Indonesia. 

“Sebaik-baik pakaian itu berwarna putih, tetapi bukan gamis,” ungkapnya.

Ketahuilah, kata pengasuh pesantren Assalafiyah Luwungragi Brebes, manusia akan ditempatkan di kuburan seperti roudlah (taman) surga bagi orang-orang yang beriman. Namun juga akan ditempatkan di kuburan seperti kufroh (kubangan) bagi orang-orang yang tidak beriman.

Menjadi orang baik adalah pilihan utama, lanjutnya, walau jadi rakyat yang tidak punya apa-apa, tetapi punya harapan untuk membangun bangsa, ketimbang jadi raja, tetapi berperilaku zalim dan menindas rakyat. Untuk itu, raja pun harus berbuat lebih baik karena akan mendapatkan kebaikan yang berlipat-lipat. Semua punya rekam jejak (atsar) kebaikan dan keburukan. 

Semua tercetak segala perbuatan baik dan buruk kita. Nanti akan diperlihatkan pada saat hari perhitungan. Saat di perlihatkan amal jelek, ternyata minta diundurkan kematian. Dan berjanji akan shalat, sedekah, dan beramal saleh lainnya. 

Sebelum terlambat, Kiai Subkhan berpesan dengan tujuh hal yang perlu diperbuat manusia selagi masih di dunia dan pahalanya akan terus mengalir. Ketujuah hal itu adalah orang yang mengajarkan ilmu, orang yang mensedakahkan tanah untuk aliran air atau irigasi, orang.yang membuat sumur, orang yang menanam pohon atau penghijauan, orang yang membangun masjid, madrasah, maupun musholah, orang yang menjariyahkan Al-Qur’an dan orang yang meninggalkan anak shaleh atau pun membiayai anak yatim. 

Semua itu harus didasari rasa cinta, mengharap ridlo Allah. Ibarat kita rela mencuci mobil karena ada kecintaan pada mobil yang kita miliki. Cinta pada negara, juga harus berkorban rela bekerja semaksimal mungkin untuk kepentingan rakyat, untuk negara.

Rusaknya agama karena tamak, mengharap bukan kepada Alllah. Percayalah, dengan niatan yang saleh, seperti kita menanam benih yang ditaruh ditanah yang subur, menanam tidak hanya untuk diri sendiri tetapi untuk anak dan keturunan kelak. (Wasdiun/Abdullah Alawi)