::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Siapkan Masa Depan dengan Mencicil dari Sekarang

Rabu, 17 Januari 2018 20:50 Ngobrolin Duit

Bagikan

Siapkan Masa Depan dengan Mencicil dari Sekarang
Ilustrasi: Siapkan masa depan dengan mencicil dari sekarang
Cicil masa depan, jangan cuma panci dan hape, masa depan juga mesti dicicil dari sekarang.

Zaman sekarang, apa sih yang nggak bisa dicicil? Indahnya hidup di zaman sekarang: Semua bisa dicicil. Mulai dari baju, tas, motor, sampai mobil dan rumah. Bahkan, makan siang pun bisa dicicil. Ini fenomena ajaib. Padahal setelah sekali pergi ke toilet, tidak lagi tersisa jejak-jejak menu lezat makanan tadi siang. Yang tertinggal cuma tagihan yang lalu dilunasi dengan pembayaran minimum hingga berbulan-bulan kemudian. Jadi nggak asik, ya?

Kenapa ya, setiap kali mendengar kata “nyicil” yang melekat di benak adalah kegiatan memuaskan keinginan saat ini, walaupun sebenarnya belum mampu, dan membebankan tagihannya pada hidup kita selanjutnya? Padahal, nggak semua cicilan harus mengenai benda-benda yang berfungsi menyenangkan hati. Nggak semua cicilan musti mengenai konsumerisme, hidup berlebih-lebihan walaupun kantong merana.

Masa depan juga bisa dicicil!
Kalau kita kerap berjuang untuk memuaskan keinginan impulsif kita, kenapa kita tidak mengalokasikan jumlah usaha yang sama untuk hidup kita di kemudian hari? Ingatlah 5 perkara sebelum 5 perkara. Saat kita sedang berlebih kenapa kita tidak menyiapkan sedikit dari rejeki kita untuk menghadapi masa sulit yang mungkin bisa datang tanpa permisi.

Seperti hadits riwayat Al Bukhari:

“Simpanlah sebagian dari harta kamu untuk kebaikan masa depan kamu, karena itu jauh lebih baik bagimu.”

Jadi, dana untuk masa tua perlu kita persiapkan. Tapi berapa? Kebanyakan orang hanya tahu berkata bahwa bekal masa tua itu besar jumlahnya, tapi tak banyak orang yang sudah berhitung. Jika tak dihitung benar, lalu bagaimana caranya kita tahu berapa cicilan kita per bulan untuk masa tua kita?

Mari berhitung dengan asumsi berikut:

Biaya hidup kita setelah pensiun nanti Rp5 juta sebulan. Untuk karyawan rata-rata usia pensiun adalah 55 tahun, jika menengok usia Nabi Muhammad SAW yang wafat pada usia 63 tahun berarti kita harus menyiapkan biaya hidup minimal untuk 8 tahun atau 96 bulan, atau sekitar Rp480 juta. Itupun belum memperhitungkan kenaikan biaya hidup alias inflasi.

Enggak mungkin? Kata siapa?
Jelas nggak mungkin jika cuma mengandalkan celengan atau tabungan biasa? Cara cerdik kalo modal kita terbatas adalah: Cari suplemen yang lebih greng dibanding cara-cara konvensional.

Coba lirik alternatif investasi pasar modal syariah. Dalam jangka panjang, instrumen-instrumen pasar modal syariah seperti saham syariah, sukuk, dan pasar uang syariah, berpotensi memberikan imbal hasil lebih tinggi, sehingga kita bisa mengembangkan uang kita sesuai amanah dan bebas riba.

Sebagai perbandingan, misalnya kalau kita punya waktu 25 tahun sampai masa pensiun, Rp480 juta dapat dicapai dengan menyisihkan lebih dari Rp1,2 juta di tabungan syariah yang imbal hasil rata-ratanya 2% per tahun. Sedangkan, melalui investasi syariah dengan imbal hasil rata-rata 10% per tahun, kita cukup menyisihkan Rp360 ribu per bulan untuk mencapai angka yang sama. Jauh, kan?

Kunci berikutnya adalah waktu. Iya nggak sih, nyicil apapun, jika jangka waktunya panjang, akan lebih terjangkau dibandingkan dengan jangka waktu mepet. Nah, supaya nggak ngos-ngosan di akhir, jangan pernah menunda. Mulai investasimu sekarang juga!

Catatan Maha Penting
Walaupun kita bisa saja investasi di berbagai instrumen seperti emas, properti, kambing, lukisan, atau batu akik, ada satu alternatif investasi lagi yang perlu dikenal, yaitu Reksa Dana Syariah. Reksa dana syariah adalah produk investasi yang di dalamnya terdapat berbagai instrumen dasar seperti saham syariah, sukuk, dan pasar uang syariah yang terdaftar di Daftar Efek Syariah dan diterbitkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan MUI. Pengelolaannya pun sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.

Syarat utama investasi pasar modal adalah “jangan simpan telur di satu keranjang”. Nah karena reksa dana syariah sudah terdiri dari banyak saham syariah, sukuk, dan pasar uang syariah, maka syarat utama tersebut sudah terpenuhi.

Saat ini, reksa dana syariah sangat terjangkau, karena dapat dimulai dari Rp10.000,- Seru kan? Cari tau lebih jauh di www.reksadana-manulife.com