::: ::: 

::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Sejarah Nabi Muhammad (3): Keteladanan Manusia Paling Luhur

Ahad, 21 Januari 2018 08:10 Hikmah

Bagikan

Sejarah Nabi Muhammad (3): Keteladanan Manusia Paling Luhur
Ilustrasi (via Twitter)
Rasulullah sebagai suri teladan yang harus diikuti kaum Muslimin. Beliau memiliki akhlak yang agung dan luhur. Dengan keluhuran akhlak itulah beliau berdakwah, mengajak manusia menuju jalan yang diridhai oleh Allah Dengan akhlak yang mulia pula, dakwah beliau berhasil dengan gilang gemilang. Hanya dalam kurun waktu kurang dari 23 tahun, beliau berhasil merombak tatanan masyarakat yang dungu dan bodoh menjadi masyarakat yang maju dan berperadaban tinggi. Dalam waktu teramat singkat itu, beliau mengangkat kehidupan suatu bangsa yang tidak dikenal sejarah menjadi umat yang menentukan sejarah dunia.

Mengenai keluhuran akhlak Nabi, Allah berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ 

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS. al-Qalam, 68: 4).

Sebagian dari akhlak Nabi yang terpuji ialah sikap pemaaf dan kasih sayang terhadap sesama. Meskipun beliau sering dicemooh, dihina, difitnah, dan disakiti orang lain, beliau tetap tabah dan menerima perlakuan mereka dengan lapang dada. Bahkan beliau membalas perlakuan kasar mereka dengan lemah lembut dan kasih sayang serta mendoakan mereka agar segera menerima petunjuk dari Allah Hal ini sebagaimana dilansir dalam ayat suci al-Qur’an:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran, 3:159).

(Baca juga: Sejarah Nabi Muhammad (2): Wahyu Pertama yang Menggetarkan)
(Baca juga: Sejarah Nabi Muhammad (1): Yatim Piatu sejak Usia Enam Tahun)
Selain bersikap pemaaf, Nabi juga dikenal sebagai orang yang sangat menyayangi sesamanya. Beliau selalu mengasihi fakir miskin, anak-anak yatim, dan wanita-wanita jompo. Dalam berbagai kegiatan dakwahnya, beliau memulai kebaikan dari dirinya sendiri dan keluarganya. Ia senantiasa mengusahakan kebaikan dan memelihara umatnya dari kehancuran dan kenistaan. Dalam hal ini, Allah berfirman:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ 

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kalanganmu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. al-Taubah, 9:128).

Dalam al-Qur’an Surat al-A’raf ayat 199 disebutkan bahwa sekurang-kurangnya ada tiga macam sikap atau budi pekerti luhur, yaitu pemaaf, memerintahkan kebaikan, dan berpaling dari orang-orang jahil.
 
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma`ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. al-A’raf, 7: 199). 

Banyak riwayat dalam sejarah Islam yang menjelaskan sikap pemaaf Nabi terhadap umatnya. Beliau dengan ikhlas memberi maaf terhadap musuh-musuhnya yang mau bertobat dan mengakui kesalahan yang dilakukannya, meskipun pada awalnya mereka membuat hidup beliau menderita dan teraniaya.

Pada awal perkembangan Islam di Makkah, ada dua orang bersaudara kakak beradik bernama Ka’ab bin Zuhair dan Bujair bin Zuhair. Bujair telah masuk Islam terlebih dahulu, ia berjuang bersama Nabi dalam membela kebenaran dan ikut berhijrah ke Madinah. Sedangkan saudaranya, Ka’ab, termasuk kelompok radikal yang menolak agama Islam, ia bersama komplotannya dengan gencar melakukan intimidasi terhadap kaum Muslimin ketika itu. Sedemikian kerasnya permusuhan Ka’ab terhadap umat Islam, sehingga setelah Bujair adiknya berhijrah ke Madinah, ia masih tetap mengecam umat Islam dengan surat-suratnya yang dikirimkan kepada saudaranya tersebut. 

Melihat sikap Ka’ab yang membahayakan eksistensi umat Islam, akhirnya Nabi memasukkan namanya ke dalam daftar hitam, yaitu golongan penghianat yang senantiasa berbuat kerusakan dan memusuhi kaum Muslimin secara keseluruhan. Mengetahui hal itu, Bujair segera mengirimkan surat kepada saudaranya tentang pencatuman namanya pada daftar hitam tersebut. Dalam suratnya, ia juga menjelaskan mengenai sikap pemaaf Nabi dan akhlaknya yang luhur terhadap sesamanya. Akhlak beliau tersebut sekaligus menjadi suri teladan bagi umatnya. Bujair juga menceritakan dengan lengkap kehidupan kaum Muslimin di Madinah. Mereka berada dalam ketenangan, kedamaian, dan senantiasa dibimbing oleh Allah dengan perantaraan Rasul-Nya yang mulia. Setelah Ka’ab menerima surat itu di Makkah lalu memperhatikan dengan seksama isinya, tiba-tiba ada dorongan kebenaran dengan kuat yang mengetuk kalbunya. Ia segera bertobat dari kesalahan masa lalunya. Ia berniat untuk pergi meninggalkan Makkah menuju Madinah sesegera mungkin demi menemui Nabi dan menyatakan diri untuk bergabung dengan barisan kaum Muslimin di sana. 

Setibanya di Madinah, Ka’ab bin Zuhair segera menemui Nabi di masjid dengan diantar oleh Ali bin Abi Thalib, seorang sahabat setia sekaligus menantu Nabi Sampai di masjid, Ka’ab segera menyatakan diri untuk masuk agama Islam. Nabi pun menerima kehadirannya dengan tulus, bahagia, dan penuh bersyukur. Masuk islamnya Ka’ab sekaligus dicoretnya nama Ka’ab dari daftar hitam. Dengan serta merta, Nabi dan para sahabatnya mengampuni semua kesalahan Ka’ab di masa lalu, tanpa menyisakan perasaan dendam sedikitpun di dada mereka. 

Begitu pula ketika Nabi beserta para sahabatnya memasuki Kota Makkah pada tahun ke-8 H. Saat itu, beliau datang sebagai pemenang yang menaklukkan semua penduduk Makkah. Dengan penuh keikhlasan, beliau memaafkan semua kesalahan penduduk Makkah di masa lalu. Nama-nama mereka yang tertulis dalam daftar hitam, pada hari itu semuanya dimaafkan, termasuk Hindun binti Utbah, istri Abu Sufyan, yang pernah mencabik-cabik dada Pamandanya Hamzah bin Abdul Muthalib di perang Uhud dan mengunyah hatinya. Nabi dan para sahabatnya datang ke Kota Makkah, kota kelahirannya dengan membawa pengampunan agung, tidak ada setetes pun, darah balas dendam yang tumpah di sana. 

Nabi adalah Rasulullah, pemimpin umat, penghulu para Nabi, bahkan panutan seluruh alam, tetapi beliau tidak mau membanggakan diri dan bersikap sombong. Sebaliknya, beliau bersikap rendah hati. Kepada para sahabatnya, beliau meminta agar tidak dikultuskan dan dipuja seperti halnya orang-orang Nasrani memuja Isa putera Maryam. “Aku adalah hamba Allah Sebut sajalah hamba Allah dan Rasul-Nya.” Beliau adalah seorang yang rendah hati. Suatu ketika, para sahabat menghormati Nabi secara berlebihan begitu melihat Nabi datang. Maka beliau menegurnya agar tidak diperlakukan layaknya orang-orang ajam (non Arab) yang ingin diagungkan. Apabila mengunjungi sahabat-sahabatnya, beliau pun duduk di mana saja ada tempat yang kosong. Beliau bergurau dan bergaul dengan mereka. Anak-anak merekapun diajaknya bermain-main dan didudukkannya mereka di pangkuannya. Dalam memenuhi undangan, beliau tidak melihat faktor ekonomi ataupun status sosial seseorang. 

Jika ada orang yang sakit, beliau langsung menjenguknya, meskipun tempatnya jauh. Ketika bertemu dengan para sahabatnya, beliau adalah orang pertama yang mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan mereka. Apabila ada orang yang menunggu beliau sedang shalat, maka beliau mempercepat shalatnya lalu ditanya apa keperluannya. Setelah itu, beliau kembali meneruskan ibadahnya. Kepada siapa saja, beliau selalu baik hati dan murah senyum. Dalam urusan keluarga, beliau ikut memikul beban keluarga, seperti mencuci pakaian, menjahit, mengesol sandal, melayani sendiri dan mengurus unta. Beliau duduk makan bersama dengan pembantunya. 

Beliau juga mengurus orang yang menderita, lemah, kekurangan. Apabila melihat ada orang atau keluarga yang membutuhkan bantuan, beliau dan keluarganya memberikannya, sekalipun mereka sendiri dalam kekurangan dan tak ada sedikit pun makanan untuk keesokan hari. Hingga tatkala beliau wafat, baju besinya masih tergadai di tangan seorang Yahudi, karena untuk keperluan belanja keluarganya. Beliau selalu menepati janji dan melayani sendiri tamu-tamu yang menghadap kepadanya. (Haekal, 1998: 228-229) Masih banyak lagi sifat-sifat terpuji lainnya yang merupakan pengejewantahan dari nilai-nilai al-Qur’an. Aisyah ra memberikan kabar kepada seorang sahabat yang ingin mengetahui perilaku Nabi Ia mengatakan: 

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ 

“Budi pekertinya adalah al-Qur’an.” (HR. Ahmad: 24139)

Nabi merupakan manusia berakhlak mulia yang menjadikan dirinya sebagai orang pertama yang menerjemahkan al-Qur’an dalam kehidupannya. Sejatinya setiap mukmin mencontoh dan menjadikan beliau sebagai suri teladan, sebagaimana Allah berfirman: 

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا 

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS. al-Ahzab, 33: 21).


Dr. KH. Zakky Mubarak, MA, Rais Syuriyah PBNU