::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Sejarah Nabi Muhammad (5): Membangun Peradaban Kemanusiaan

Selasa, 23 Januari 2018 09:00 Hikmah

Bagikan

Sejarah Nabi Muhammad (5): Membangun Peradaban Kemanusiaan
Nabi Muhammad lahir di tengah-tengah jazirah Arab yang notabene memiliki kepercayaan terhadap berhala-berhala (paganisme). Beliau melihat langsung dari dekat bagaimana perilaku kaumnya. Mereka hidup terpecah belah, egoisme, dan barbarisme. Praktik perbudakan merajalela dan budaya kapitalisme sebagai pilar ekonomi mereka. Tak ayal lagi, sifat dan watak keras ini banyak menyulut peperangan dan pertumpahan darah antarsuku. Masing-masing membela dan mempertahankan kepentingannya. 

Melihat fenomena itu, Muhammad muda merasa prihatin. Beliau terus-menerus meluangkan waktunya untuk merenung dan mendekatkan diri kepada Dzat Yang Maha Pencipta. Pada usia 40 tahun, beliau diangkat oleh Allah menjadi seorang Rasul pilihan. Tujuannya tiada lain mengeluarkan manusia dari alam kegelapan menuju cahaya yang terang benderang. 

Semangat pembaharuan yang beliau bawa sangat kentara pada masa awal penyebaran Islam. Secara bertahap, beliau bersama para pengikutnya berhasil memporak-porandakan adat jahiliyyah yang menghamba pada berhala-berhala dan dewa-dewa. Sejarah juga mencatat, cahaya Islam mampu menyadarkan manusia untuk menghilangkan strata sosial yang membawa pada primordialisme, kolonialisme, dan perbudakan. 

Dengan cara dan metode yang baik, beliau mampu membawa umatnya pada nilai-nilai kemanusiaan yang anti kekerasan dan mencintai perdamaian. Tidak banyak waktu yang diperlukan Muhammad dalam menyampaikan sendi-sendi ajaran agamanya (Islam) ke seluruh dunia. Sebelum wafatnya (pada usia yang ke-63), Allah telah menyempurnakan agama ini bagi kaum Muslimin. 

Selama hidupnya, beliau telah meletakkan landasan penyebaran agama ini dengan penuh kesuksesan. Dikirimnya misi kepada Kisra, Heraclius, kepada raja-raja dan penguasa-penguasa lain supaya mereka sudi menerima Islam. Tak sampai seratus lima puluh tahun atau satu setengah abad setelah itu, bendera Islam sudah berkibar sampai ke Andalusia di Eropa sebelah Timur, ke India, Turkestan, sampai ke Tiongkok di Asia Timur. Lebih-lebih di negara-negara Timur Tengah, Islam menyebar ke seluruh pelosok Syam (meliputi Suria, Libanon, Yordania, dan Palestina sekarang), Irak, Persia (Iran) dan Afganistan. Begitu pula kerajaan-kerajaan Arab, sampai ke Mesir, Cyrenaica, Tunisia, Aljazair, dan Marokko (sekitar Eropa dan Afrika), semuanya telah dicapai oleh Misi Muhammad.

(Baca: Sejarah Nabi Muhammad (1): Yatim Piatu sejak Usia Enam Tahun) 
(Baca: Sejarah Nabi Muhammad (2): Wahyu Pertama yang Menggetarkan) 
Sejak saat itu sampai sekarang, panji Islam masih berkibar bahkan tambah kuat di daerah-daerah tersebut, kecuali Andalusia (Spanyol). Kebesaran Islam ketika itu, dilanjutkan oleh kaum Turki Usmani memasukkan dan memperkuat agama Muhammad di Konstantinopel. Dari sanalah ajaran Islam itu kemudian menyebar ke Balkan, dan memercik sinarnya sampai ke Rusia dan Polandia. Ini merupakan keberhasilan dengan cakupan dua kali lipat dari luas Andalusia. 

Sejak dari semula Islam tersebar hingga masa kita sekarang ini, memang belum ada agama-agama lain yang dapat mengalahkannya. Kalaupun ada diantara umat Islam yang ditaklukkan, itu hanya karena adanya berbagai macam kekerasan, kekejaman, dan despotisma. Semua itu sebenarnya malah menambah kekuatan iman kepada Allah, kepada Nabi-Nya, kepada hukum Islam, dengan memohonkan rahmat dan ampunan dari-Nya. Kekuatan inilah yang telah menyebabkan Islam itu tersebar. Muhammad telah berhasil melawan paganisme dan mengikisnya dari negeri-negeri Arab. Para penerus beliau yang gagah dan berani meneruskan perjuangan itu di Persia, Afganistan, dan di India. Bahkan mereka berhasil menaklukkan Hira, Yaman, Syam, Mesir, dan sampai ke Konstantinopel.

Karen Amstrong, mantan biarawati Katolik dalam bukunya A History of God: The 4,000 Year Quest of Judaism, Christianity and Islam, mengatakan bahwa Muhammad adalah seorang jenius yang sangat luar biasa. Tatkala wafat pada tahun 632 M, dia telah berhasil menyatukan hampir semua suku Arab menjadi sebuah komunitas baru, atau ummah. Dia telah mempersembahkan kepada orang-orang Arab sebuah spritualitas yang secara unik sesuai dengan tradisi mereka. Ia yang membukakan kunci bagi sumber kekuatan yang besar, sehingga dalam waktu seratus tahun mereka telah mendirikan imperium sendiri yang luas membentang dari Himalaya hingga Pirenia, dan membangun sebuah peradaban baru yang unik dan modern. (Karen Amstrong, 2002:190).

(Baca: Sejarah Nabi Muhammad (3): Keteladanan Manusia Paling Luhur)
(Baca: Sejarah Nabi Muhammad (4): Beberapa Keistimewaan Dibanding Para Nabi Lain)
Michael Hart dalam karyanya The 100, a Ranking of the Most Influental Person in History, memberi alasan mengapa Nabi Muhammad ditempatkan dalam urutan pertama daftar buku seratus tokoh paling berpengaruh yang ditulisnya. Menurut penilaiannya, Nabi Muhammad adalah satu-satunya orang dalam sejarah peradaban manusia yang telah berhasil meraih sukses luar biasa, baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup dunia. Nabi Muhammad juga telah berhasil meyakinkan masyarakat kafir Quraisy agar mau meninggalkan kebiasaan menyembah berhala menuju sikap ketauhidan yang hakiki, yakni meng-Esa-kan Tuhan. 
Ketika Muhammad duduk berdoa di gua Hira, selama masa ibadahnya pada bulan Ramadhan tahun 610 M, mungkin beliau tidak membayangkan kesuksesan fenomenal seperti itu. Kini empat belas abad lebih setelah wafatnya, agama Islam dengan kitab suci al-Qur’an serta perilaku beliau sebagai sunnahnya telah menjadi keyakinan, pedoman, dan pegangan hidup (way of life) sebagian besar umat di dunia. Namanya terus menerus disebut setiap saat. Jasanya dalam membangun peradaban yang progresif, dinamis, dan modern, senantiasa dikenang sepanjang masa. Semoga Allah selalu mencurahkan rahmat dan salam-Nya kepada manusia terbaik dan makhluk pilihan, Muhammad rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.


Dr. KH. Zakky Mubarak, MA, Rais Syuriyah PBNU