::: NU: Kepastian awal Ramadhan akan diikhbarkan pada 15 Mei 2018 petang hari ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Katib Aam PBNU Jelaskan Tujuan Didirikannya Negara Indonesia

Selasa, 23 Januari 2018 11:40 Nasional

Bagikan

Katib Aam PBNU Jelaskan Tujuan Didirikannya Negara Indonesia
Jakarta, NU Online 
Katim Aam PBNU KH Yahya Qholil Tsaquf menjelaskan bahwa negara dan bangsa Indonesia didirikan oleh para pendahulu dengan cita-cita yang tidak hanya menyangkut nasib bangsa Indonesia sendiri saja. 

"Negara dan bangsa Indonesia didirikan dengan cita-cita yang lebih mulia untuk peradaban seluruh umat manusia," katanya pada Multaqo ad-Duat al-Alami yang diselenggarakan Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (22/1) malam.

Pria yang akrab disapa Gus Yahya ini pun sempat mengutip Pembukaan UUD 1945, yaitu 'Bahwa sesungguhnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Dan bahwa segala bentuk penjajahan harus dihapuskan di atas dunia karena tidak sesuai dengan pri kemanusiaan dan pri keadilan'. 

Selain itu, menurut Gus Yahya, bangsa Indonesia juga didirikan dengan cita-cita untuk memperjuangkan ketertiban dunia, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. 

"Ini semua adalah pandangan-pandangan dan cita-cita yang diwariskan kepada kami warga nahdhiyin oleh para ulama dan para pendirian jamiyah ini," jelas Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang, Jawa Tengah ini. 

Hadir pada forum ini diantaranya Ketua PBNU KH Abdul Manan Ghani, Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin, Ketua Umum LD PBNU KH Maman Imanul Haq, Sekretaris LD PBNU KH Bukhori Muslim.

Forum juga dihadiri 13 ulama dari delapan negara, yaitu Syekh Ahmad Yusuf dari Kolumbia Syekh Bilal Hallak dari Amerika, Syekh Torrieq Ghannam dari Libanon, Syekh Bakr Abu Culleh dari Amerika, Syekh Ibrohim Asy-Syafi'i dari Australia, Syekh Mohammad Osman dari Palestina, Syekh Said Aboy Hammous dari Libanon, Syekh Khalid Halabie dari Australia, Syekh Muhammad Aukal dari Amerika, Syekh Amjad Arafat dari Australia, Syekh Muhammad Al-Faraj dari Libanon, dan Syekh Omar Dayah dari Denmark. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)