::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ceramah Duduk dan Berdiri

Selasa, 23 Januari 2018 13:45 Humor

Bagikan

Ceramah Duduk dan Berdiri
Ilustrasi (shutterstock).
KH Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus mendapat undangan pernikahan putra-putri pasangan kiai di Pesantren Lirboyo, Kediri tahun 2014 lalu. Mempelai putri bernama Khadijah, anak seorang kiai Lirboyo, sedangkan mempelai lelaki bernama Rajih, anak seorang kiai di Pesantren Sarang, Rembang.

Sejumlah kiai lain juga hadir, di antaranya KH Maimoen Zubair, KH Kafabihi Mahrus yang juga shohibul bait, KH Husein Muhammad, dan kiai-kiai lainnya.

Di tengah ngobrol asik dengan Kiai Husein, pembawa acara nikahan tiba-tiba mempersilakan Gus Mus untuk memberikan ceramah atau mau’izah hasanah di atas panggung. Gus Mus sedikit terkejut.

Loh, aku? Sopo sing njaluk aku mau’izah hasanah (Loh, aku? Siapa yang meminta saya mau’izah hasanah)?” gumamnya di samping Kiai Husein karena menurut Gus Mus kala itu banyak kiai sepuh yang lebih pantas memberikan mau’izah hasanah.

Seketika salah seorang dari pihak panitia mendekat ke Gus Mus dan menjawab, “Tuan rumah, kiai”.

Gus Mus sedikit mendebat, “Ah, tuan rumah enggak ngomong karo aku (Ah, tuan rumah enggak ngomong dengan saya).” Suasana tersebut akhirnya terselesaikan ketika Kiai Kafabihi matur sendiri ke Gus Mus.

Gus Mus akhirnya naik panggung. Spontan, panitia menawarkan ke Gus Mus, “Nopo lungguh dateng kursi, nopo ngadeg, kiai (mau duduk di kursi atau berdiri, kiai)?”

Ngadeg ae. Lungguh iso suwe, nek ngadeg iso sedelat (Berdiri saja. Duduk bisa lama, kalau berdiri bisa sebentar),” Gus Mus diplomatis. (Fathoni)

Cerita ini dinukil dari buku “Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus” (2015) karya KH Husein Muhammad.