::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kemerdekaan Jadi Resep Produktif Menulis

Kamis, 25 Januari 2018 15:38 Halaqoh

Bagikan

Kemerdekaan Jadi Resep Produktif Menulis
KH A Mustofa Bisri (Foto via Facebook Kays Mukhollad)
KH A Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus mendapat penghargaan di bidang Hak Asasi Manusia, Yap Thiam Hien Award, Rabu (24/1) malam. Meski selama ini tidak terlibat secara langsung ataupun bersuara lantang terkait isu-isu Hak Asasi Manusia di Indonesia, namun Gus Mus banyak menyuarakan penegakan HAM, di antaranya lewat karya tulisan.

Melalui sebuah kesempatan wawancara kala bersua Gus Mus di Kartasura Sukoharjo Jawa Tengah, belum lama ini (11/12), kontributor NU Online Ajie Najmuddin mendapatkan sekelumit kisah tentang awal mula Gus Mus mulai menulis. 

Kiai, apa resepnya sehingga dapat menghasilkan banyak karya?
Kemerdekaan! Alhamdulillah, saya memiliki guru yang banyak memberikan saya kemerdekaan, yang penting prinsip mereka kita laksanakan, yang lainnya bebas. Seperti Kiai Maksum dan Kiai Bisri. Saya banyak dididik dari mereka berdua. Beliau memiliki prinsip yang mesti saya tegakkan, misal prinsip saya kepada Tuhan, kemudian prinsip bahwa belajar itu tidak boleh saya tinggalkan sampai sekarang.

Di pesantren juga diajarkan sastra?
Alhamdulillah, di pesantren saya juga diajarkan selain gramatika ada pula ilmu balaghah, sebetulnya balaghah itu ilmu sastra. Ilmu balaghah ini juga digunakan untuk mengapresiasi keindahan Al-Qur’an. Jadi, kalau yang tidak belajar balaghah hanya membaca terjemahan bisa keliru memahami Al-Qur’an.

Karena Al-Qur’an itu justru keistimewannya di sastra itu. Disebut mukjizat, salah satunya karena ahli sastra pun tidak bisa mengungguli Al-Qur’an, bahkan menyebut Al-Qur’an di atas sastra. Kalau kita hanya melihat terjemahan Al-Qur’an akan kacau, lebih kacau lagi kalau menggunakannya untuk sastra.

Kembali pada ilmu balaghah, banyak kiai yang menggunakan balaghah tidak hanya untuk mengapresiasi keindahan Al-Qur’an, tapi juga untuk memproduksi karya sastra. Cuma karena kiai lebih akrab dengan bahasa Arab, maka kiai banyak memproduksi karya dengan bahasa arab.

Kita lihat Kiai Hasyim Asy’ari punya karya prosa dan puisi dalam bahasa Arab. Kiai Abdul Hamid Pasuruan sejak di Tremas dijuluki adib artinya satrawan, beliau punya antologi puisi dalam bahasa Arab. Kakak saya Kiai Cholil memiliki ta’lif dalam bahasa Arab, belum Kiai Mahfud Shiddiq, Kiai Mahfud Tremas.

Bukankah banyak kiai yang menulis kitab berbahasa Jawa (pegon)?
Belakangan ini saja banyak yang bahasa Jawa. Kalau yang akrab dengan bahasa Jawa, mereka akan produksi dalam bahasa Jawa, misal ayah saya (KH Bisri Musthofa, red) banyak karya dengan bahsa Jawa. Kiai Ali Maksum juga karya puisi yang sangat bagus dalam bahasa Jawa. Karena saya agak akrab dengan bahasa Indonesia, maka saya tulis dengan bahasa Indonesia, dan itu saya lakukan sejak di pesantren.

Sejak kapan kiai gemar menulis?
Sewaktu saya remaja, saya bersaing dengan Kiai Cholil (kakak Gus Mus, red). Kalau Kiai Cholil menulis di sebuah koran lokal, terus (karyanya) digunting ditempel di kamar kami di pondok, itu untuk manas-manasi saya saja, nama dia termuat di koran. Kemudian gantian, kalau saya yang dimuat saya tempel, dia terpacu lagi.

Ketika saya di Mesir saya diajak Gus Dur untuk membuat majalah HPPI. Majalah itu praktis hanya kami berdua saja yang buat, apakah cari berita, ngetik, jilid, sebarkan kami berdua terutama Gus Dur. Kalau tidak ada narasumber yang nulis, Gus Dur tulis sendiri. Kadang kalau masih ada yang kosong, saya isi dengan puisi, lukisan, ilustrasi, dan begitu berlangsung terus sampai ketika pulang (Indonesia).

Apa pentingnya menulis (di awal berkeluarga)?
Sewaktu saya pulang (dari Mesir) ke pesantren, tidak banyak keahlian yang saya miliki. Pun sewaktu sudah berkeluarga, yang saya pikirkan yang tersirat ya hanya menulis! Waktu itu pertama kali berkeluarga, hanya nyagerno (mengandalkan) tulisan.

Ayah saya pekerjaannya menulis, maka saya harus menulis! Karena tidak punya keahlian yang lain. Mau jadi pegawai tidak bisa, karena ijazah SR saya hilang. Habis itu saya tidak pernah sekolah, hanya mondok di Lirboyo, di Krapyak sekolah juga dropout. Jadi tidak ada instansi yang mau menerima ijazah hanya S-1 saja.

Saya tanya kepada paman saya Kiai Misbah, kalau saya menggunakan nulis sebagai maisyah bagaimana? Ya, bisa saja, jawab beliau. Saya begitu, ayah kamu juga menulis!

Bisa cerita pengalaman awal menulis di media?
Saya dulu aktif (menulis) di Intisari. Bukan apa-apa, karena waktu itu honornya paling tinggi, gambarannya kalau Suara Merdeka 1 artikel masih Rp. 2.500, intisari sudah Rp. 7.500. Kalau anak saya minta apa-apa, ya tunggu tulisan dimuat.

Sampai, ayah saya pernah bawakan tulisan di Intisari, tanya ini dapat berapa? Kemudian suatu hari minta saya menerjemahkan kitab kecil. Setelah saya terjemahkan, sebulan kemudian saya dikasih uang Rp. 50.000, sambil berkata: “ini honor terjemahan, banyak mana dengan Intisari? Sejak itu, saya terus berusaha menulis sendiri, saya terjemahkan kitab-kitab.

Di awal tahun ini, mungkin kami bisa mendengar nasihat ringkas dari kiai?
Saya selalu kalau dimintai nasihat, nasihat saya satu, jangan pernah berhenti belajar. Terutama, belajar tentang agama itu sendiri. Boleh berhenti sekolah tapi jangan berhenti belajar!

Sebab terbukti di dalam masyarakat yang banyak bikin masalah itu orang yang berhenti belajar, terutama mereka yang berhenti belajar karena merasa sudah pandai, lalu berfatwa dan kemudian menyalahkan orang lain.

Kalau mereka mau rendah hati untuk terus belajar, insya Allah hal itu tidak akan terjadi. Kita mesti ingat perintah Nabi, menuntut ilmu itu minal mahdi ila lahdi yakni sejak dalam ayunan hingga liang lahat.

(Red: Syaifullah)