::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mundur dari Panel Rohingya, Diplomat AS Tegur Keras Suu Kyi

Kamis, 25 Januari 2018 14:00 Internasional

Bagikan

Mundur dari Panel Rohingya, Diplomat AS Tegur Keras Suu Kyi
foto: Thet Htoo/Associated Press
Yangon, NU Online
Diplomat veteran Amerika Serikat (AS) Bill Richardson mengundurkan diri dari Dewan Penasehat Myanmar dalam Krisis Rohingya. Panel internasional ini dibentuk pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi tahun lalu dengan tugas untuk memberikan saran tentang krisis Rohingya. Dewan ini memiliki 10 anggota, setengahnya berasal dari luar negeri.

Bill menyebutkan, tim tersebut dewan tersebut dibuat tidak lain hanya sebagai tim pemandu sorak saja dan untuk menutup-nutupi kesalahan yang dilakukan Myanmar kepada warga Rohingya.

"Dia telah mengembangkan sebuah arogansi kekuasaan," kata Bill melalui telepon saat singgah di Tokyo dalam perjalanan kembali ke New Mexico dari Myanmar seperti dilansir The New York Times, Rabu (24/1). 

Ia mengaku sudah malam mengenal Suu Kyi dan menyukainya. Namun soal Rohingya, Bill menuduh Suu Kyi belum memiliki kemauan untuk mengungkap apa yang sebetulnya terjadi pada Rohingya. Karena Suu Kyi masih berupaya untuk menutup-nutupi kesalahannya terhadap warga Rohingya. 

“Tapi pada dasarnya dia (Suu Kyi) tidak mau mendengarkan kabar buruk, dan saya tidak ingin menjadi bagian dari upaya untuk menutup-nutupi kesalahan," lanjutnya.

Sekitar 650 ribu Muslim Rohingya telah meninggalkan Negara Bagian Rakhine di barat Myanmar pada Agustus tahun lalu setelah tentara Myanmar melakukan operasi militer di wilayah tersebut. Mereka mengungsi ke beberapa wilayah perbatasan Bangladesh.

Aung San Suu Kyi, peraih Nobel Perdamaian, menolak untuk berbicara secara tegas untuk menentang eksekusi militer Myanmar, pemerkosaan, dan pembakaran terhadap Rohingya. Dunia internasional, terutama Perserikatan Bangsa-Bangsa menganggap bahwa apa yang dilakukan tentara Myanmar tersebut sebagai upaya pembersihan etnis. (Red: Muchlishon Rochmat)