::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Agar Mampu Bersaing BUMN Harus Tekan Ongkos Produksi

Kamis, 25 Januari 2018 21:00 Nasional

Bagikan

Agar Mampu Bersaing BUMN Harus Tekan Ongkos Produksi
Jakarta, NU Online
Perusahaan-perusahaan yang berada bernaung di bawah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) harus mampu menekan ongkos produksi.

“Kalau ongkos produksi rendah baru bisa bersaing dengan BUMN negara lain yang masuk ke Indonesia. Harga jual tinggi karena cost (biaya produksi) yang tinggi,” kata Anggota DPR dari Fraksi PPP, Andi Jamaro Dulung pada Diskusi Terfokus
Penguatan BUMN Pertambangan Menghadapi Globalisasi di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Kamis (25/1).

“Semen (Indonesia) kalau apa yang dilakukan selama ini begitu terus, akan gulung tikar. Kalau semen Indonesia swasta turun harga, langsung kelabakan,” lanjut Andi.

Andi menyadari tingginya cost karena perusahaan harus membagi-bagi biaya tersebut kepada banyak pihak.

Dikatakan komponen terbesar energi adalah batu bara. Pembelian batu bara 400 ribu rupiah per ton bisa menjadi 600 ribu rupiah.

“Bayangkan 150 persen (terjadi kenaikan) harga. Lima puluh persennya dibagi-bagi untuk pejabat. Sementara perusahaan asing cukup 100 persen, kalau perlu diturunkan,” paparnya lagi.

Rendahnya ongkos produksi perusahaan asing disebabkan kemudahan mereka dalam mengurus operasional usaha di Indonesia. Andi menyebut jika BUMN harus berkoordinasi dengan sepuluh pihak, perusahaan BUMN dari Cina misalanya, cukup menghubungi satu pihak.

Rendahnya ongkos produksi menyebabkan rendahnya harga jual dan semakin mudah diterima masyarakat.

Karenanya, Andi menegaskan upaya untuk memajukan BUMN harus dilakukan dengan menghilangkan unit-unti cost.

“Hal yang sama berlaku dalam bidang (usaha) lain. Dalam era MEA, BUMN Indonesia nggak bisa masuk kalau tidak profesional,” pungkasnya. (Kendi Setiawan)