::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ketika Perut Lily Wahid Dipegang Pemuka Adat Papua

Ahad, 28 Januari 2018 09:00 Daerah

Bagikan

Ketika Perut Lily Wahid Dipegang Pemuka Adat Papua
Depok, NU Online
Adik kandung KH Abdurrahman Wahid, Hj Lily Chodidjah Wahid (Lily Wahid) menceritakan pengalamannya saat berkunjung ke Papua. Bersama beberapa teman kala itu, Lily disambut pemuka adat yang mengenakan pakaian tradisional mereka.

“Mereka mengenakan pakaian adat. Rombongan lalu dipegang bagian perut,” kata Lily pada penutupan Gelar Budaya Suluk Nusantara di Perumahan Depok Mulya 1, Beji, Depok, Jawa Barat, Sabtu (27/1). 

Tidak sekedar memegang perut, menurut Lily, para pemuka adat itu meneriakkan, “Wah, wah, wah.” 

Lily dan teman-temannya menjadi heran, apa maksud para pemuka adat itu.

“Apa mereka meledek atau menganggap lucu perut saya,” kata Lily tertawa disusul tawa hadirin.

(Baca: Lily Wahid: Orang Tua Harus Kendalikan Kids Zaman Now)
Namun, kemudan Lily tahu tindakan para pemuka adat itu sebagai bentuk menghormati kepada ibu. Juga ucapan “Wah, wah, wah” itu adalah ucapan penghormatan, hal yang sama mereka ucapkan kepada ibu yang menjadi anutan sesuai adat mereka.

Dari kejadian itu, Lily menegaskan banyak budaya yang tidak kita mengerti, sehingga generasi kini harus didekatkan dengan budaya yang beragam supaya mereka memahami budaya dan makna yang terkandung dalam budaya tersebut.

“Adanya perbedaan kalau tidak kita mengerti akan membuat kita sulit bersatu. Maka kita cari solusi dari setiap perbedaan,” kata perempuan kelahiran Jombang 4 Maret 1948.

Ia menyebut di kebudayaan Jawa juga terdapat tradisi sungkeman sebagai tanda bakti dan hormat kepada orang tua.

Lily mengingatkan budaya dan perbedaan yang ada sejatinya adalah sokoguru (tiang penyangga) bagi Indonesia. Ia berharap upaya pengenalan budaya kepada generasi muda harus terus dilakukan.

“Kalau tidak cepat-cepat (mengenalkan budaya) bagaimana cucu kita nanti. Mereka bisa semakin jauh dari cita-cita para founding father kita,” tandas dia.

Hari itu Gelar Budaya Suluk Nusantara yang pertama kalinya dihelat Paguyuban Budaya Suluk Nusantara bertema Ekspresi Seni Memahami Ilahi. Gelaran tersebut dihadiri para pegiat seni budaya.

Bersama para penampil, selain menyaksikan pementasan, pengunjung juga diberi kesempatan untuk menampilkan kebisaan mereka dalam unjuk budaya seperti melantunkan tembang Jawa atau bernyanyi dengan iringan irama keroncong. Tidak hanya pecinta budaya Jawa, pengunjung juga pegiat dan pecinta ragam budaya selain Jawa. (Kendi Setiawan)