::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Tembang Sawer Sunda dan Nilai-nilai Islam

Sabtu, 03 Februari 2018 07:26 Opini

Bagikan

Tembang Sawer Sunda dan Nilai-nilai Islam
Ilustrasi saweran (ist).
Oleh Nuri Farikhatin

Perkembangan Islam selalu dikaitkan dengan keadaan geografi atau kelokalan tertentu. Di mana Islam selalu mampu mewadahi seluruh aspek kehidupan di dalamnya, termasuk dalam menghadapi budaya lokal.

Keduanya berbaur dan bersama-sama mampu menghadirkan wacana Islam agama yang rahmatan lil alamin. Hal ini dapat dilihat ketika menelisik lebih jauh keterkaitan antara budaya Sunda dengan nilai-nilai Islam seperti dalam hal pesta perkawinan. 

Mengadopsi istilah walimah dalam teks hadits yang menyerukan upacara atau pesta perkawinan, tentu setiap wilayah memiliki ciri khas tersendiri dalam praktiknya. Jauh sebelum Islam datang, upacara adat seperti pernikahan diliputi oleh unsur-unsur tradisi dari kerajaan besar Sunda. Namun setelah Islam datang tradisi-tradisi tersebut tidak dihapuskan begitu saja, ia tetap berkembang dan unsur-unsur Islam dimasukkan yang kemudian secara tidak langsung Islam membentuk jati diri, yang sekaligus menjadi identitas permanen orang Sunda. (Kahmad, 2006:321)

Salah satu budaya Sunda yang sarat dengan ajaran dan hukum Islam adalah lagu-lagunya, baik yang melembaga, seperti lagu-agu Cigawiran, Ciawian, dan Cianjuran. (Nurjamin, t.th., 157-169), maupun lagu-lagu yang biasa didendangkan oleh para santri kalong di masjid, tajug (musholla), madrasah yang meliputi ajaran tauhid, hukum hingga ajaran tentang hidup berkeluarga yang sangat menarik untuk dikaji, seperti lagu-lagu sawer penganten.

Lagu-lagu atau tembang sawer penganten biasa didendangkan untuk memberi nasihat kepada kedua mempelai oleh juru sawer. Dilakukan dengan menebarkan benda-benda seperti koneng temen (kunyit), permen, artos kencering (uang koin), dan beas (beberapa genggam besar) yang masing-masing mengandung makna tertentu yang dalam.

Dalam tembang sawer, bahasa yang digunaan pada umumnya adalah bahasa yang lugas, magis dan simbolik. Tingkat bahasa yang dipakai ialah bahasa halus dan sedang, serta berbentuk pupuh dan puisi bebas yang banyak menggunakan kata-kata pilihan. Pada umumnya isi teks dari tembang saweran berisi tentang nasihat-nasihat, yang mana nasihat-nasihat tersebut serat dengan nilai-nilai Islam. Tersusun dalam tiga bagian, yakni pembukaan, inti dan penutup.

Pada bagian pembukaan, berisi permohonan maaf kepada Tuhan, Nabi, para Sahabat, Wali, leluhur, dan hadirin untuk melaksanakan sawer. Bagian inti berisikan nasihat-nasihat dan contoh-contoh kehidupan berumah tangga, dan bagian penutup berupa doa bagi mempelai, keluarga dan hadirin agar mendapat keselamatan dan rahmat Tuhan. 

Berikut adalah potongan syair yang sering disampaikan dalam pembukaan tembang sawer yang sudah dimasukkan unsur-unsur Islam di dalamnya:

Bismillah kawitaning muji
Muja nyebat asma Pangeran
Nu welas asih ka kabih
Ngurus sadya makhluk
Eusi alam taya nu kari
Gusti urang sadaya 
Geusan sumalindung
Ka bingah sareng ka sesah 
Nu karaos musibat ageung jeung alit
Mantna nu ngraksa

Sabdana mumuji ka Gusti
Ngahaturakeun salam miwah Rahmat
Ka panutan Rasulullah
Nabi agung panutup
Muhammad kakasih yang widi
Rahmat sadayana Alam
Ka Gusti diwuwuh
Kitu dei pra Sahabat
Abu Bakar, Umar, Utsaman, sareng Ali
Sami kenging Rahmat.

Dua bait pembukaan dari teks di atas telah nyata terdapat usaha untuk memasukkan unsur-unsur Islam dalam tradisi Sunda yang bermakna untuk meng-Esakan Tuhan yang disembah oleh umat Islam yaitu Allah SWT, dan penghormatan terhadap Nabi penutup yakni Nabi Muhammad saw yang merupakan utusan dari Allah yang terakhir serta penghormatan terhadap para sahabat.

Hal tersebut merupakan bukti corak Islam sunda yang dibalut dengan kebudayaan setempat. Dengan demikian Islamisasi di tanah Sunda berlangsung dengan damai, tidak ada upaya untuk saling memaksa antara satu kepentingan golongan dengan golongan lain. 

Penulis adalah Mahasiswi Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.