::: NU: Kepastian awal Ramadhan akan diikhbarkan pada 15 Mei 2018 petang hari ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

MUHASABAH KEBANGSAAN

Mencari Kang Slamet Pasrah

Sabtu, 03 Februari 2018 16:41 Opini

Bagikan

Mencari Kang Slamet Pasrah
Ilustrasi (ist).
Al-Zastrouw Ngatawi

Di dusun kami ada seseorang yang bernama Slamet. Tapi karena orangnya pasrah, semeleh dan legowo dia sering juga dipanggil Pasrah, sehingga kami manyebutnya kang Slamet Pasrah.

Kang Slamet alias Pasrah ini orangnya baik, ramah, suka senyum dan menyenangkan. Setiap orang yang bersamanya atau berada di dekatnya akan merasa damai dan tenteram. Hatinya lembut dan gak pernah marah. Kalaupun marah tidak meluap-luap dan memaki, tapi orang merasa kalau dia sedang marah. Sesekali marah kalau melihat orang-orang berlaku dzolim dan tidak adil

Sikapnya yang seperti ini membuat Kang Slamet menjadi panutan orang sedusun. Apa yang dilakukan akan diikuti dan diterima masyarakat tanpa syarat. Apa yang dilarang dan siapa saja dibenci oleh kang Slamet maka masyarakat akan ikut menjauhi dan membenci.

Selain karena perilakunya yang mulia, sikap masyarakat terhadap kang Slamet ini juga disebabkan oleh adanya pernyataan dari para sesepuh bahwa sesungguhnya yang paling baik dan benar itu ya Slamet atau Pasrah. Barang siapa yang berteman atau mencontoh selain kang Slamet alias Pasrah maka orang tersebut tidak akan diterima oleh para sesepuh dusun tersebut.

Saking cinta dan tàatnyanya pada kang Slamet orang-orang di dusun kami selalu menjaganya. Pernah suatu saat masyarakat disuruh kumpul di lapangan oleh tokoh-tokoh dusun dan orang-orang yang mengaku dekat dengan kang Slamet untuk membela kang Slamet yang katanya dilecehkan. Maka dengan serta merta seluruh penduduk dusun berkumpul. Tak ada yang berani melawan perintah tersebut karena yang tidak ikut membela akan dikucilkan bahkan dicap sebagai pembangkang.

Yang menarik orang yang mengaku dekat kang Slamet itu sering memerintahkan warga dusun kami agar tidak mendekati orang atau tokoh lain meski hanya untuk sekadar bergaul, apalagi meniru gayanya. Katanya kang Slamet melarang kita melakukan hal itu. Mereka selalu ciriga pada orang lain dan memandangnya sebagai musuh, bukan sebagai tetangga yang perlu dihormati atau sesama manusia yang perlu dimuliakan.

Pernah juga ada orang mencaci dan membenci sesama saudara katanya demi kang Slamet, menista dan merampas hak orang lain secara paksa demi menjaga mas Slamet. Bahkan ada yang rela pasang badan, mati demi membela kang Slamet.

Terus terang aku kagum pada militansi mereka, pada kegigihan dan semangat para pembela mas Slamet yang sampe gelap mata dan gelap pikir sehingga tidak bisa melihat kenyataan secara jujur. Orang-orang ini begitu tulus dan ikhlas mencintai dan membela mas Slamet karena ketaatan mereka pada dawuh leluhur.

Sebenarnya orang-orang di dusun itu juga tahu bahwa ada beberapa orang yang melakukan semua itu demi ambisi politik, kekuasaan, materi dan eksistensi diri. Meskipun mereka bilang bahwa yang mereka lakukan itu demi menjaga dan membela kang Slamet. Mereka ini menjadikang kang Slamet sebagai topeng menutupi hasrat dan ambisi pribadinya. Namun orang-orang ini diam karena takut dianggap melecehkan orang suci pembela mas Slamet, kalau menyampaikan hal ini.

Pernah ada yang mencoba kritis dan mengkritik tindakan mereka yang tidak sesuai dengan kelakuan kang Slamet, namun dengan serta merta orang tersebut dihujat habis habisan. Mereka dianggap pemecah belah warga dusun, merusak persaudaraan bahkan ada yg sampe dianggap sesat segala. Ada juga yg dikucilkan dan dimasukkan dalam rumah bantu yang ada di pojok dusun.

Melihat kelakuan orang-orang di dusun ini saya jadi merenung. Yang dimaksudkan Slamet alias Pasrah dalam pesan yang disampaikan oleh para leluhur dusun itu apa? Apakah benar-benar sosok individu mas Slamet yang ada di dusun kami yang sering juga dipanggil mas Pasrah karena kelakuannya yang selalu tuduk dan pasrah itu atau semua orang-orang yang selalu bisa memebar damai dan keselamatan pada sesama meskipun namanya tidak Slamet?

Pendeknya, pesan memgenai Slamet ini sebenarnya makna tekstual (denotatif) atau makna subatantif (komotatif) Artinya, kalau Slamet alias Pasrah ini dimaknai dan dipahami secara tekstual simbolik, maka dia bisa berwujud manusia yang bernama Slamet.

Dengan demikian yang diakui dan akan diterima oleh para leluhur dusun adalah orang atau sosok yang bernama Slamet alias Pasrah. Pemahaman ini membuat, orang berebut membela, mempertahankan dan menjaga figur atau sosok yang bernama Slamet alias Pasrah. Kemudian berupaya manarik orang sebanyak-banyaknya agar bisa bersama kang Slamet.

Sebaliknya, jika Slamet alias pasrah itu dipahami secara konotatif-substantif, maka dia berarti sikap, perilaku dan tindakan menebar keselamatan dan kedamaian sebagai wujud kepasarahan dan ketundukan kepada Yang Maha Kuasa. Dengan demikian, seseorang bisa saja menjadi Slamet asal bisa menjalankan laku hidup pasrah dan tunduk pada Allah serta menyebarkan keselamatan, kedamaian dan keadilan pada sesama, meskipun namanya bukan Slamet.

Jika pemaknaan tekstual simbolik justru bisa memancing kegaduhan dan rawan dimanipulasi, mengapa kita tidak memaknainya secara konatatif substantif? Atau tetap saja menggunakan makna tekstual tetapi tetap menjaga dan menggunakan makna substansial sebagai ukuran menilai tindakan setiap warga yang ada di dusun kami. Dengan demikian kita akan mudah menemukan dan mengenali sosok kang Slamet di antara berbagai ragam kenyatàan yang ada.

Sebenarnya ingin sekali aku bertanya dan melakukan konfirmasi pada leluhur yang menyampaikan pesan ini. Namun aku tak memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan mereka apalagi dengan yang membuat pesan tersebut.

Setiap kali ada gerakan membela kang Slamet di dusun kami dengan kegiatan yang hingar bingar, pertanyaan ini selalu muncul. Karena pada saat seperti ini, saat terjadi kegaduhan atas nama kang Slamet aku justru merasa sangat kehilangan kang Slamet dan menjadi jauh dari kang Slamet. Karena aku tidak melihat dan menemukan kang Slamet dalam kerumunan wajah sangat yang penuh kebencian dan prasangka.

Jika sudah demikian, kembali aku harus menyimpan pertanyaan ini rapat-rapat dalam bilik hatiku karena aku takut dibilang sesat, merusak ukhuwah dan akidah jika kusampaikan hal ini pada mereka yg sudah merasa menemukan atau merasa dekat dengan mas Slamet alias mas Pasrah itu.

Penulis adalah pegiat budaya, dosen Pascasarjana UNUSIA Jakarta.