::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Asmat Saya Belum Teruji

Selasa, 06 Februari 2018 23:46 Opini

Bagikan

Asmat Saya Belum Teruji
Oleh Moh. Agus Fuat
Hari-hari ini hampir di semua media sosial tengah membincangkan persoalan #KartuKuningJokowi. Bejibun komen sanjungan hingga seloroh kata "goblag goblog"  bersahut-sahutan di setiap kolom komentar.

Tetapi izinkanlah saya bicara soal Kejadian Luar Biasa (KLB) di Asmat.

Akhir Januari tahun ini, saya tergabung dalam tim NU Peduli Kemanusiaan untuk Asmat. Tim ini adalah bagian dari PBNU yang kali ini terdiri dari Dokter Makky dari Lembaga Kesehatan (LK PBNU), M Wahib dari Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI PBNU), dan saya sendiri mewakili NU Care-LAZISNU.

Tak pernah terbayangkan bahwa saya dapat turut andil mengemban tugas ini. Hal yang tergambar di benak saya adalah bagaimana susahnya menuju Asmat. Lebih-lebih ancaman penyakit malaria maupun campak yang saya dengar sebelumnya membuat bulu kuduk saya berdesir setiap kali membayangkannya.

Kamis (25/1) bermodal nekad dan tawakal, dan mengingat bahwa ini adalah tugas mulia dari NU, saya siapkan mental dan segala keperluan.

Seminggu sebelum keberangkatan, saya dan tim yang akan diberangkatkan ke Asmat harus menjalani vaksin campak dan minum obat antimalaria—obat ini masih harus diminum sampai sekarang—supaya tubuh kita kebal. 

Kami berangkat naik pesawat dari Jakarta menuju Surabaya-Makassar-Timika. Dari Timika menuju Asmat kami harus mengendarai pesawat kecil seperti capung. Itu pun dengan jadwal penerbangan yang tak menentu.

Beruntung Tim NU Lokal Timika dengan segala upaya berhasil membantu kami untuk mendapatkan tiket keberangkatan pada keesokan harinya. Di jadwal awal kami berangkat jam lima pagi. Namun, tiba di bandara subuh-subuh, seperti belum ada tanda-tanda ‘kehidupan’.

Hujan deras menemani waktu fajar kami hingga petugas bandara menyampaikan bahwa keberangkatan pesawat diundur menjadi jam 10 pagi.

Perjalanan Timika-Asmat kami tempuh dengan durasi 45 menit. Setiba di bandara Ewer, Kabupaten Asmat, kami disambut oleh PCNU Kabupaten Asmat dan beberapa tokoh masyarakat. Untuk menuju lokasi KLB, kami naik speedboat. Itu pun kita tak disediakan pelampung. Ketika ombak datang menghantam kapal, seketika itu pula jantung saya berdentum.

Perasaan saya sedikit lega ketika speedboat tiba di Distrik Agast. Distrik adalah kecamatan bila kita di Jawa. Di sini kami beruntung karena salah satu pengurus NU setempat adalah salah satu tetua adat di kampungnya. Ia bernama Leo Rahamtulloh Piripas. Pak Leo adalah juga Ketua Badan Musyawarah Kampung (Bamuskam).

Kehadiran beliau membuat kami bisa disambut hangat oleh masyarakat Asmat. Hambatan komunikasi dan memahami kultur warga setempat yang dialami oleh beberapa NGO lain setidaknya tidak terlalu kami pusingkan.

Untuk meninjau bagaimana kondisi anak-anak Asmat, Pak Leo mengajak kami untuk silaturahmi terlebih dahulu dengan tetua adat di Kampung Syuru. Kami diterima oleh para tetua di rumah adat. Mereka menyebut itu Jew. Di tempat inilah kami mengutarakan kedatangan kami. 

Pak Leo sudah otomatis jadi penyambung lidah di antara kami. Perbincangan berlangsung semakin gayeng (akrab) dan akhirnya forum tetua adat mempersilahkan kami untuk menjalankan program di Kampung Syuru.

Di sepanjang jalan kami menyusuri rumah-rumah. Banyak sekali anak-anak Asmat yang ingin di foto dengan segala tingkah lucu mereka. Saya mengira tampaknya mereka pun merasa sangat bahagia atas kedatangan kami. 

Hanya saja ada sedikit pemandangan yang ganjil menurut saya. Anak-anak balita di sini seringkali makan buah kedondong dengan dicampur micin dan juga penyedap rasa lainnya. Kata ibu-ibu mereka, makanan itu sudah menjadi cemilan anak-anak. 

Hal ganjil lainnya yang saya lihat adalah ingus anak-anak seolah tak pernah berhenti keluar dari hidung mereka. Kemudian saya tahu, itu disebabkan karena setiap hari mereka minum air mentah. Ketersedaiaan air bersih di Asmat hanya mengandalkan turunnya air hujan.
*

Keesokan harinya kami bersama Tim Lokal mengumpulkan anak-anak untuk diikutkan pada screening. Ada sekitar 300 anak yang menjalani screening bersama Dokter Makky. Selain itu, anak-anak juga mendapatkan vitamin, susu, dan biscuit. Dari hasil screening sekitar 14 anak terindikasi kekurangan gizi. Jumlah ini kemungkinan akan terus bertambah karena ini baru screening yang dilakukan hanya di satu kampung. 

(Baca: 300 Anak Kampung Syuru Asmat Terima Bantuan dan Screening Tim NU)

Salah satu anak yang masuk dalam daftar kami adalah Susana. Umurnya 1,5 tahun. Namun, Susana hanya memiliki berat badan 4 kilogram. Dalam sehari Susana hanya makan nasi atau sagu dua kali. Di waktu pagi ia hanya minum teh atau kopi. Waktu kami beri susu dan biscuit, tangan Susana gemetar. Kata dokter ia sangat kekurangan protein.

Untuk memonitor anak-anak ini NU Peduli Kemanusiaan bersama tim lokal berinisiatif mendirikan rumah gizi. Dalam bahasa lokal mereka sebut Cem Gizi. Cem Gizi ini akan menjadi tempat anak-anak diberikan asupan gizi. Setiap minggu dalam 4 kali mereka akan datang di Cem Gizi untuk diberikan asupan makanan bergizi.

Cem Gizi akan menjadi rumah bagi anak-anak Asmat supaya tetap bisa sehat seperti anak-anak di wilayah Indonesia lainnya. Oleh karena itu, NU Care-LAZISNU juga melakukan penggalangan dana untuk anak-anak Asmat melalui NU Peduli Asmat.

Banyak cerita yang belum bisa saya tuliskan tentang pengalaman berharga di Asmat. Ini adalah kali pertama saya menginjakan kaki di tanah Asmat yang kenangan dan kesannya akan terus tertancap dalam lembaran hidup saya. 

Orang bilang Asmat adalah penyingkatan dari Asal Mau Tahan. Sepertinya saya belum teruji sepenuhnya untuk menjadi Asmat. 
*
Penulis adalah Ketua BEM FIB UI 2016, bergiat di PMII, staf NU Care-LAZISNU, dan anggota Tim NU Peduli Kemanusiaan.

Baca tulisan Moh. Agus Fuat lainnya DI SINI