::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kisah Sembuh dari Lumpuh Berkah Gerombolan Perampok

Kamis, 08 Februari 2018 07:30 Hikmah

Bagikan

Kisah Sembuh dari Lumpuh Berkah Gerombolan Perampok
Ilustrasi (viralpos.info)
Suatu malam, ada segerombolan perampok yang keluar untuk merampas harta suatu kabilah. Malam semakin larut. Mereka mendatangi sebuah penginapan yang berada di tengah-tengah padang sahara. Mereka terus mengetuk pintu  dan memanggil-manggil pemilik penginapan. Mereka berkata, “Kami adalah pasukan perang. Malam ini kami ingin menginap di sini.”

Kemudian pemilik penginapan itu membuka pintunya dan melayani mereka dengan baik layaknya tamu istimewa dengan niatan ingin beribadah kepada Allah dan berharap mendapatkan berkah lantaran melayani mereka. Karena ia mengira bahwa mereka adalah tentara Allah yang berjuang di jalan-Nya.

Pemilik penginapan itu memiliki seorang anak yang lumpuh. Lalu dia mengambil sisa-sisa makanan dan minuman mereka. Dia berkata kepada istrinya, “Usapkan air ini ke seluruh tubuh anak kita, semoga saja anak kita bisa sembuh dengan lantaran berkah dari para tentara  Allah ini.” Istrinya lalu mengerjakan perintah suaminya dengan baik. 

Saat menjelang fajar, para perampok yang berpura-pura sebagai tentara itu melakukan aksinya di tengah-tengah sahara. Mereka merampas harta benda para kabilah yang saat itu lewat. Setelah sore hari dan mereka puas mendapatkan harta jarahannya, mereka kemudian kembali ke penginapan. Saat masuk ke penginapan itu, mereka dibuat terkaget-kaget lantaran melihat seorang anak berdiri tegak. Mereka bertanya kepada pemilik penginapan, “Apakah ini anak yang kemarin kami lihat hanya duduk saja?”

“Ya benar! Aku mengambil sisa makanan dan air minum kalian dan mengoleskanya pada sekujur tubuhnya. Tak disangka Allah memberi kesembuhan padanya lantaran berkah kalian,” jawab si pemilik penginapan.

Setelah mendengar penuturan sang pemilik penginapan, para perampok itu mendekatinya sambil menangis penuh penyesalan dan berkata kepadanya, “Ketahuilah wahai bapak! Kami ini sebenarnya adalah segerombolan perampok yang keluar untuk merampok. Bukan pasukan perang. Dan Allah menyembuhkan putramu lantaran ketulusan niatmu. Dan saat ini juga kami bertobat kepada Allah.”

Setelah mereka bertobat, jadilah mereka pasukan perang, benar-benar tentara Allah dan berjuang di jalan yang diridhai-Nya sampai akhirnya mereka syahid. Demikian diceritakan dalam kitab Al-Nawadir karya Syekh Ahmad Syihabuddin bin Salamah al-Qalyubi.

(Baca juga: Ketika Syekh Abdul Qadir al-Jailani Dirampok)
Melalui kisah singkat ini, kita dapat belajar bagaimana berbaik sangka kepada orang lain—sekalipun orang itu jahat—akan mendatangkan kebaikan kepada kita. Dengan didasari rasa percaya dan hanya mengharap kebaikan dari Allah semata.

Tentu saja berkah yang diterima keluarga dalam kisah di atas tidak datang akibat perilaku merampok yang memang tak diketahui si pemilik penginapan. Kecuali komplotan perampok itu berposisi sebagai tamu, dan keluarga tersebut menghormatinya dengan niatan bersih untuk beribadah kepada Allah. Bukankah memuliakan tamu adalah sikap yang amat dianjurkan dalam Islam? (Zaenal Faizin)