::: NU: Kepastian awal Ramadhan akan diikhbarkan pada 15 Mei 2018 petang hari ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Menulis Sejarah Secara Cermat

Kamis, 08 Februari 2018 10:25 Opini

Bagikan

Menulis Sejarah Secara Cermat
Abdul Mun'im DZ
Oleh Abdul Mun'im DZ

Belum lama ini KH Hairuman Nadjib (Gus Heru), cucu Kiai Wahab Chasbullah, Tambakberas menghubungi saya untuk mengonfirmasi kebenaran tulisan anonim yang menjelaskan tentang lahirnya lambang NU.

Beliau konfirmasi kepada saya karena tulisan itu berbeda dengan tulisan sejarah lambang NU yang saya tulis dalam buku Fragmen Sejarah NU. Dalam buku saya tersebut, penggagas lambang NU adalah KH Hasyim Asy'ari. Dari sumber KH Sholahuddin Azmi dari KH Mujib Ridwan dari KH Ridwan Abdullah.

Sementara dalam tulisan ini penggagasnya adalah Kiai Wahab. Dengan sumber Kiai Ridwan dan Kiai Mujib. Ini yang saya sarankan agar Gus Heru menyelidiki kesahihannya.

Di situ juga ada kekeliruan, bahwa pidato Bung Karno tentang kecintaan kepada NU itu bukan disampaikan dalam Muktamar NU di Purwokerto tahun 1946, melainkan disampaikan Bung Karno saat Muktamar NU di Solo tahun 1962.

Ketika masih dalam pengecekan tulisan itu, ternyata sudah menyebar di berbagai grup Whatsapp (WA) dan media sosial lainnya. Hal ini bisa menimbulkan khilaf berkepanjangan.

Sejarah adalah sumber informasi dalam mengambil sikap dan tindakan. Karena itu, para pimpinan NU dan penulis sejarah NU harus cermat dalam menulis. Sebab kita telah beberapa kali melakukan ketidakcermatan, di antaranya:

Pertama, saat NU menggunakan foto Haji Hasan Gipo, kemudian diprotes oleh keluarga karena foto tersebut ternyata foto Kiai Mas Manshur.

Kedua, NU memasang foto KH Cholil Bangkalan, ternyata itu bukan foto pendiri NU. Karena saat ini keluarga sedang mencari foto yang sesungguhnya.

Ketiga, gambar KH Hasyim Asy'ari yang muncul belakangan dengan serban hijau serta berjenggot.

Ternyata belum ada di antara sembilan kiai sepuh santri Mbah Hasyim yang menerima kebenaran gambar tersebut. Mereka semua menegaskan bahwa wajah Mbah Hasyim Asy'ari persis seperti gambar yang lama.

Mengingat terjadinya penyimpangan sejarah seperti itu, maka kembali kita dituntut untuk lebih cermat dalam menulis sejarah NU dan pesantren. Untuk menjaga integritas dan martabat organisasi.

Penulis adalah peminat sejarah NU.