::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

LPNU Sragen Wujudkan Kemandirian NU Tidak Sekadar Tulisan

Jumat, 09 Februari 2018 10:00 Daerah

Bagikan

LPNU Sragen Wujudkan Kemandirian NU Tidak Sekadar Tulisan
Pameran LPNU Sragen pada Rakornas NU Care 2018. Foto: Pria Santi
Jakarta, NU Online
Ketua Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama(LPNU) Kabupaten Sragen, Agung Prakoso, mengungkapkan kemandirian Nahdliyin dalam menyongsong 100 tahun NU adalah cita-cita besar yang memang harus diemban LPNU.

“Gerbang ekonomi (Nahdliyin) adalah LPNU. Kalau gerbang ini tidak pernah diisi, akan mustahil mewujudkan kemandirian NU,” kata Agung di sela-sela Pameran LPNU pada ajang Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) NU Care-LAZISNU di Pesantren Walisongo, Sragen, Jawa Tengah, akhir Januari lalu.

(Baca: Program LPNU Sragen dari Sekolah Entrepreneur hingga Jual Pakaian Dalam)

Pemilik sejumlah showroom itu menegaskan ketika disebut membesarkan NU dalam konteks 100 tahun sebagai visi besar NU yang mandiri, gerbang tersebut harus dimanfaatkan betul.

“Kalau dibiarkan hanya akan menjadi tulisan saja,” imbuhnya.

Karenanya melalui LPNU Sragen Agung terus memperluas gerakan ekonomi Nahdliyin.
(Baca: Pameran LPNU Meriahkan Rakornas)
Penggerakan peran tersebut diawali dengan merekrut para pengusaha dan calon pengusaha yang berjiwa militan untuk bergabung bersama LPNU.
 
“Nyuwun sewu (mohon maaf) mereka yang bergabung di LPNU masuk rangking pengusaha militan. Kapasitas mereka untuk berbagi itu tinggi. Dengan begitu, barulah orang-orang terakomodir dengan bagus,” papar Agung BH, sapaan populernya.

Menurut Agung jika barisan ini sudah kuat hingga tingkat ranting NU, ranting tidak membebankan pihak lain dalam persoalan finansial untuk kegiatan-kegiatan NU.

“Karena finansial juga penting,” Agung menegaskan.

Ia menyadari anggapan sebagian pihak terhadap LPNU yang disebut sebagai lembaga yang tidak favorit dan tidak bonafid.

”Dengan mengatakan LPNU cuma mengurusi duit,” ujar pria 51 tahun ini.

Berangkat dari anggapan tersebut, LPNU Sragen berkomitmen memaksimalkan peran.

“Ketika LPNU dijelek-jelekkan orang, teman-teman LPNU menjadikan sebagai barang antik yang dengan itu kami ingin terus berkomitmen menggerakkan usaha ekonomi kepada Nahdliyin,” tandasnya. (Kendi Setiawan)