::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Dua Jam Melayang-layang di Langit Papua

Jumat, 09 Februari 2018 12:15 Opini

Bagikan

Dua Jam Melayang-layang di Langit Papua
Screnshot video perjalanan Tim NU. Dok. M Wahib
Oleh M Wahib Emha
Perjalanan Tim NU Peduli Kemanusiaan yang ditugaskan ke Asmat, Papua dimulai dengan keberangkatan dari Jakarta-Surabaya-Makassar-Mimika pada Kamis (25/1). Tujuan kami adalah Agats, salah satu distrik di Asmat. Sebelumnya kami dapatkan informasi banyak anak-anak Asmat mengalami gizi buruk dan campak.

Karena belum adanya kepastian penerbangan Mimika-Agas, kami menginap di Mimika. Setelah berkoordinasi dan dibantu oleh PCNU Mimika yang bekerjasama dengan Bandara Mozes Kilangin—bandara ini milik PT Freeport—kami mendapatkan tiket pesawat seharga 3 juta rupiah per orang.

Penerbangan dijadwalkan pukul 05.00 WIT, namun dengan kondisi dan alasan teknis tim diterbangkan jam 10.00 WIT, itu pun setelah adanya berbagai pertimbangan.  Kami bisa membeli tiket karena pendekatan NU dengan pihak bandara. Jika tidak, kami mesti menyewa pesawat dengan harga sewa 45-50 juta rupiah. 

Penerbangan Mimika-Agas ditempuh sekitar 45 menit. Sesampainya di Bandara Ewer Agast, kami dijemput Ketua PCNU Kabupaten Asmat yang juga Ketua Badan Musyawarah Kampung (Bamuskam) Leo Rahamtulloh Piripas. Pak Leo adalah juga salah satu tokoh adat di Distrik Agats.

Perjalanan dilanjutkan ke Agats, ibu kota Asmat menggunakan speedboat sekitar 20 menit. Harga sewa speedboat 500 ribu rupiah.

Tiba di Agats, Tim NU langsung berkoordinasi dengan Posko Utama yang terdiri dari Bupati, Danrem, Kapuskrisis Kemenkes, Polri. Kami melakukan pembagian peran dan wilayah tugas. Konsentrasi kami adalah di Kampung Syuru, Kaye dan Aswet di Distrik Agats. Tim lain bertugas di 21 distrik  berbeda. Perjalanan ke distrik-distri tersebut juga menggunakan speedboat; ada yang memakan waktu tempuh 4 jam, dan pula yang mencapai 8 jam. Perjalanan dikawal ketat oleh persnil TNI.

Namun, ancaman keamanan yang benar-benar sedang kami hadapi adalah gempuran dahsyat nyamuk-nyamuk Asmat yang menghantui, yaitu malaria. Karenanya seminggu sebelum keberangkatan, kami sudah harus diberi vaksin untuk kekebalan tubuh. Kami juga mesti minum obat antimalaria 2 hari sebelum berangkat dan selama bertugas serta beberapa hari setelah meninggalkan Asmat.

Koordinasi dengan berbagai pihak terus kami lakukan selama bertugas di Asmat. Hal-hal yang kami temukan tidak bisa diselesaikan dalam waktu yang singkat, karena pola kehidupan warga Asmat yang sangat jauh dari apa yang kita bayangkan selama ini. Salah satunya adalah persoalan air bersih yang mereka andalkan hanya dari air hujan. Untuk mandi dan minum mereka menggunakan air hujan tanpa dimasak terlebih dahulu. Terus terang memikirkan itu, pertanyaan kami bukan "Berapa kali mandi?” tapi “Kapan terakhir mandi?"

(Baca: Asmat Saya Belum Teruji)
Selama menjalankan misi, alhamdulillah kami dapat memberdayakan Tim Lokal dengan melibatkan NU, para tokoh agama, tokoh adat untuk melakukan program secara berkelanjutan. Ada 15 tim lokal  yang merupakan penduduk Asmat yang sampai saat ini memberikan sosialisasi, membantu memberikan makanan dan gizi kepada anak-anak 4 hari dalam seminggu, dan 2 kali (pagi dan sore) dalam sehari. Hal ini dilakukan sampai perkembangan kondisi anak yang malnutrisi menjadi cukup nutrisi / bergizi baik.
*

Selesai tugas kami di Agast, kami merancang kepulangan ke Jakarta. Namun, belum ada kepastian karena tidak ada pesawat yang ke Mimika atau Jayapura. Sementara kapal laut bersandar di Agats diperkirakan tanggal 1 Februari 2018, saat yang bersamaan juga terjadi gerhana bulan. Kami menerima informasi akan terjadi pasang air laut yang berdampak pada tingginya ombak. 

Selain itu, perjalanan kapal laut dari Agats ke Merauke ditempuh hampir 30 jam. Jika berangkat tanggal 1 Februari, diperkirakan kapal bersandar di Merauke tanggal 3 Februari 2018. Membayangkan itu betapa lelah dan capeknya perjalanan yang harus ditempuh. 

Tetapi jika tidak berangkat tanggal 1 Februari, kami akan menghadapi persoalan lain, karena kapal hanya ada 2 kali dalam sebulan. Tiket pesawat kami dari Merauke ke Jakarta sudah pula dibeli untuk penerbangan tanggal 2 Februari 2018. Saya meminta Mba Fitria Ariyani di LPBI Jakarta untuk menjadwalkan ulang atau refund dengan risiko ada pemotongan 4 juta rupiah.

Di tengah-tengah kebingungan itu, akhirnya kabar gembira menghampiri Tim NU. Akan ada pesawat dari Jayapura yang akan membawa logistik ke Asmat dan pulangnya kosong alias tak membawa penumpang. Kami segera mendaftar untuk ikut pesawat ke Jayapura dengan harga tiket 2,5 juta rupiah per orang.

Dalam pemikiran saya pesawat logistik adalah pesawat yang ukurannya agak besar. Ternyata pesawat itu berpenumpang 7 orang dan berbaling-baling satu.

Beberapa teman meledek kami,  “Itu bukan pesawat, tapi layang-layang."

Ledekan teman-teman nyaris benar adanya. Pesawat logistik yang membawa kami melayang-layang di angkasa dengan sesekali terpelanting karena menabrak awan. Turbulensi tak dapat kami hindari utamanya tabrakan angin kencang di lembah-lembah Wamena.

Semua doa yang kami hafal, kami panjatkan kepada Allah, Tuhan pemberi selamat. Dua jam kami bertabrakan dengan awan dan melayang-layang seperti bertahun-tahun dalam kesengsaraan dan ketidakpastian.

Alhamdulillah, sujud syukur kami panjatkan saat atap-atap rumah dan gedung terlihat dari atas. Ada harapan terlihat di bawah, terlebih saat pesawat dapat mendarat dengan baik. Semua penumpang turun. Mereka ada yang langsung ke kamar mandi, ada yang mancari tempat duduk, ada yang lesehan di lapangan. Ada juga yang mencari makanan.

Semua merasakan pusing, mual, dan ingin muntah.

Sujud syukur yang tadi ternyata sujud syukur pertama yang kami perlu lakukan lagi seandainya tantangan berikutnya berhasil kami lewati. Hal itu lantaran pesawat hanya transit, alias belum sampai di Bandara Sentani Jayapura. Lokasi transit kami masih berada di Wamena. Artinya masih 50 menit lagi kami harus berjuang melawan lembutnya awan.

Saya beranikan bertanya kepada pilot, “Bagaimana kondisi menuju Jayapura?”

Pilot menjawab, ”Penerbangan akan lebih cepat karena dibantu angin yang punya arah sama ke Jayapura.”

Setelah 45 menit dari Wamena kami dapat mendarat dengan baik di Sentani Jayapura. Meski bukan yang pertama kali naik pesawat kecil, namun kali ini yang paling dahsyat yang saya rasakan.

Saya merasakan perjalanan ke Bangladesh dalam penanganan Rohingnya meski sempat ditahan pihak militer, belum sedahsyat perjalan di Asmat Papua ini.
(Baca: Rohingya, Etnis Paling Tertindas)
Namun demikian, saya merasa bersyukur dapat terlibat bersama Tim NU Peduli Kemanusiaan untuk Asmat.

Permasalahan gizi buruk dan campak sebenarnya bukan hanya kali ini.  Persoalan tersebut sudah terjadi sejak lama, dan tidak hanya di Asmat. Namun persoalan gizi buruk yang dialami anak-anak Asmat menjadi booming diantaranya karena adanya media sosial yang mengungkap kejadian tersebut, dan menjadi salah satu Kejadian Luar Biasa.

Kami menganggap penanganan gizi buruk dan campak anak-anak Asmat harus disegerakan. Darul mafasid muqadam alaa jalbil mashalih; Mencegah kemudaratan lebih prioritas dibanding menarik kemanfaatan. 

Karena permasalahan yang sudah lama dan akut, maka penanganannya juga tidak bisa hanya sekejap. Tim NU yang yang berada di luar Asmat, mungkin tidak bisa membantu secara langsung dalam waktu yang lama. Tapi bukan berarti NU tdak bisa. Kaeuntungan NU adalah memiliki struktur sampai tingkat kecamatan di Papua. 

Sebagai santri kami memiliki landasan teori berdasarkan pada kaidah fiqhiyah: Ma la yudraku kulluhu la yutraku kulluhu; Pekerjaan yang tidak bisa kita kerjakan semuanya jangan ditinggalkan keseluruhannya. Bahwa kami tidak mungkin bisa membantu ke semua distrik, namun bukan berarti kami tidak membantu sama sekali.

Alhamdulillah, dengan melaksanakan penguatan kapasitas yang melibatkan masyarakat lokal merupakan investasi dan amal jariyah yang tak ternilai. Meski kami sudah di Jakarta, program terus berjalan. Setiap hari mereka melaksanakan kegiatan di Cem Gizi NU. 

Cem dalam bahasa Asmat berarti tempat  atau ruang. Cem digunakan sebagai tempat mengontrol anak-anak yang sudah di screening dan diagnose. Tim yang ditugaskan di Cem Gizi juga memberikan makanan pokok dan makanan tambahan. Hal ini dilaksanakan 4 kali dalam 1 minggu. Pagi diberi makanan pokok, sore makanan tambahan. Tim lokal melaporkannya ke Jakarta, sehingga kami pun tahu perkembangannya setiap waktu. 

Dukungan masyarakat untuk Cem Gizi Asmat dapat disalurkan melalui NU Peduli Asmat.

Semoga ini menjadi amal ibadah kita sebagaimana janji Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih berfirman,  “Dan siapa pun yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.”  (QS: Al-Maidah 5:32).

Artinyajika kita bisa menolong seorang untuk bisa hidup, nilai pahalanya sama dengan telah memberikan penghidupan kepada seluruh manusia. 
*

Penulis adalah Ketua Tim NU Peduli Kemanusiaan untuk Asmat, bergiat di LPBI PBNU.