::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Direktur NU Care: Kami Tidak Menolak Wacana Menag soal Zakat ASN

Jumat, 09 Februari 2018 21:15 Nasional

Bagikan

Direktur NU Care: Kami Tidak Menolak Wacana Menag soal Zakat ASN
Foto: Wahyu Noerhadi
Jakarta, NU Online
Direktur NU Care-LAZISNU Syamsul Huda menyatakan tidak menolak atas pernyataan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin terkait pemotongan zakat dari gaji Aparatur Sipil Negara (ASN), karena hal itu masih berupa wacana.

“Kalau rencana ini masih sumir (sekilas) seperti ini kita tidak bisa menanggapi karena yang baru beredar juga wacana dan hanya berupa draft pemotongan gaji saja,” papar Syamsul kepada wartawan usai pernyataan sikap Persatuan Organisasi Pengelola Zakat (Poros) di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (9/2) sore.
(Baca: Enam Lembaga Zakat Berbasis Ormas Apresiasi Pemerintah terkait Zakat ASN)
Menurut Syamsul wacana tersebut masih mentah sehingga kemudian menjadi polemik seolah-olah Pemerintah sedang memerlukan uang dengan menerapkan pemotongan gaji ASN untuk zakat.

“Kami ingin Pemerintah duduk bareng dulu sama Poroz, karena kita selama ini belum dilibatkan, belum diajak bicara bagaimana pengelolaan, bagaimana pentasharufannya (penyalurannya),” lanjut dia. 

“Ini yang harus kita tata ulang bagaimana proses ini kita diajak rembug (diskusi),” Syamsul menegaskan. 

Pihaknya juga menyampaikan adanya aspirasi masyarakat supaya tidak terjadi pemotongan ganda dengan adanya zakat maupun pajak. 

“Kami ingin bagaimana wacana zakat ini lebih dikembangkan lagi bahwa zakat mengurang pajak. Ini akan kami setujui dan kami akan mendorong bahwa tidak ada pemotongan ganda di dalam program ini,” ujar dia.

Dikatakan roadmap perzakatan ke depan harus lebih komprehensif. 

“Artinya zakat ini harus bisa sampai pada tujuannya, yaitu delapan ashnaf itu. Ini bisa mengangkat kemiskinan dan bisa banyak menbantu,” tandasnya. (Kendi Setiawan)