::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ketika Masyarakat dan Pemerintah Hijrah ke Yogyakarta

Senin, 12 Februari 2018 18:02 Fragmen

Bagikan

Ketika Masyarakat dan Pemerintah Hijrah ke Yogyakarta
Tahun 1946, Indonesia masih mencekam. Teror dari NICA masih menghantui masyarakat, termasuk pemerintahan Indonesia yang baru seumur jagung. Ibu kota Jakarta menjadi target utama. Jatuhnya korban pun tak terelakkan.

Dalam bukunya, Berangkat dari Pesantren, KH Saifuddin Zuhri menceritakan peristiwa tertembaknya Ketua Komite Nasional Jakarta Raya Mohamad Roem pada 21 November 1945. Di rumahnya, Jalan Kwitang 10, ia sedang makan siang bersama Brigjen Pirngadi dan Islam Salim, putra Agus Salim.

Tiba-tiba serdadu Belanda menyerbu mereka. Mendengar keributan dari luar itu, seketika mereka bersembunyi guna menyelamatkan diri. Pintu didobrak, serdadu menanyakan keberadaan senjata. Mohamad Roem pun keluar dari persembunyiannya di kamar menyatakan bahwa ia tidak menyimpan senjata. Tapi nahas, peluru serdadu melesat menembus pahanya. Ia tak sadarkan diri dan dirawat selama dua bulan di Rumah Sakit Pusat Jakarta. Akibat tembakan tersebut, ia mengalami sedikit cacat, berjalan dengan agak pincang.

Bandung pun tidak jauh berbeda dengan Jakarta. Hal itu pun membuat masyarakat berbondong-bondong meninggalkan Jakarta dan Bandung. Terlebih ada ultimatum dari Inggris di tanggal yang sama, 21 November 1945, untuk mengosongkan ibu kota Priangan tersebut.

Mengingat gentingnya situasi dan kondisi ibu kota, maka Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Moh Hata beserta keluarganya diungsikan ke Yogyakarta pada tanggal 4 Januari 1946. Hal itu dilakukan guna menyelamatkan dan mengamankan mereka dari ancaman dan teror yang bertubi-tubi.

Mereka berangkat pada malam yang begitu menegangkan. Kereta dengan satu gerbong khusus disiapkan di rel belakang rumah Bung Karno, Jalan Pegangsaan Timur 56 setelah kereta dijalankan mondar-mandir antara Manggarai dan Gambir agar dikira langsir. Gerbong itu sengaja diberi penerangan agar proses pengungsian proklamator itu benar-benar rahasia, tidak diketahui orang-orang. Rombongan yang terdiri dari proklamator beserta keluarganya dan para pengawalnya masuk ke daerah Bekasi sampai tiba di Yogyakarta. Dengan sampainya mereka di pusat Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat itu, ibu kota resmi pindah ke Yogyakarta.

Faktor hijrah mereka jelas karena keamanan yang belum tercipta. Sementara hari ini, Indonesia masih dalam keadaan aman dan kondusif. Maka masyarakat Indonesia tidak perlu lagi hijrah ke wilayah Suriah atau Irak. Hijrahnya Nabi dan para sahabat ke Madinah juga karena faktor keamanan, demi keselamatan jiwa mereka. Jika pun alasan mereka, bangsa Indonesia, hijrah ke dua negara tersebut atas dasar hadis Nabi, bahwa Nabi Muhammad pernah mendoakan keberkahan wilayah tersebut, juga tidak dapat diterima.

Abdul Karim Munthe dkk menulis dalam bukunya Meluruskan Pemahaman Hadis Kaum Jihadis, bahwa hal tersebut tidak bisa dijadikan dasar. Kalaupun Nabi mendoakan keberkahan untuk wilayahnya, belum tentu penduduknya mendapatkan keberkahan tersebut.

Oleh karena itu, tugas bangsa Indonesia pascamerdeka saat ini adalah menjaga keamanan dan keutuhan NKRI. Bukan malah memperkeruh kondusifitas yang telah tercipta dengan mengangkat isu rasial atau agama. (Syakirnf)