::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pakar Sejarah Ungkap Upaya KH Masjkur Lestarikan Kebinekaan

Selasa, 13 Februari 2018 06:55 Nasional

Bagikan

Pakar Sejarah Ungkap Upaya KH Masjkur Lestarikan Kebinekaan
KH Masjkur (1902-1992).
Malang, NU Online
Cinta akan tanah air adalah ajaran yang selalu disematkan oleh kiai-kiai Nahdlatul Ulama dengan sistem pesantren yang selalu meneguhkan kebhinekaan, cinta akan bangsa, dan mengadopsi nilai-nilai budaya lokal.

Nilai kebinekaan dan cinta tanah air inilah yang ingin terus dilestarikan KH Masjkur dengan membangun pesantren bernama Misbahul Wathan di Singosari Malang. 

Menurut Guru Besar Sejarah Universitas Negeri Malang Prof Hariono dalam Forum Group Discussion (FGD) di Malang, Sabtu (10/2) lalu, Kebinekaan itu diajarkan KH Masjkur dengan sistem belajarnya sebagai santri lelono.

“Yakni santri yang mengembara dari satu guru kepada guru yang lain. Ajaran leluhur yang ada dalam Kitab Sutasoma telah dilakukan oleh KH Masjkur dan kebinekaan ini harus terus dilestarikan oleh sistem pesantren,” ujar salah seorang Deputi di UKP-PIP ini.

Seperti diketahui, KH Masjkur sejak kecil belajar di Pesantren KH Thahir Bungkuk Singasari Malang. Selepas itu, ia belajar khusus tentang gramatikal arab (nahwu shorof) di Pesantren Sono, Buduran, Sidoarjo.

Keingintahuannya yang mendalam akan fiqih memantapkan langkahnya untuk kembali nyantri di Pondok Pesantren Siwalan, Panji, Sidoarjo. Selepas itu, melanjutkan memperdalam Ilmu Tafsir dan Hadits di Tebuireng Jombang kepada KH Hasyim Asy’ari.

Tak berhenti di situ, KH Masjkur belajar Qira’atul Qur’an di Pondok Pesantren KH Cholil Bangkalan Madura. Lepas itu, kiai yang menjadi pimpinan Laskar Sabilillah ini meneruskan pelajaran pesantrennya di Solo, di Pondok Jamsaren. 

Semua hasil belajarnya dari satu pesantren ke pesantren yang lain ia terapkan di Pondok Pesantren yang kemudian KH Masjkur dirikan yakni Misbahul Wathan atau Pelita Tanah Air. 

Mula-mula Misbahul Wathan hanya menerima santri laki-laki, baru selang beberapa tahun menerima santri perempuan dengan memberi pembatan papan saat pelajaran berlangsung. 

Beberapa tahun berjalan, kendala demi kendala dihadapi KH Masjkur, tak banyak yang menerima nama Misbahul Wathan ini. Walhasil KH Masjkur mengubahnya menjadi Nahdlatul Wathan atas arahan KH Wahab Chasbullah dan menjadi cabang dari Nahdlatul Wathan di Surabaya.  

Uswah inilah yang harus dicontoh dari KH Masjkur untuk santri generasi milenial saat ini. Tak pernah berhenti belajar dan dari guru manapun.

“Sejak dulu, Pesantren menjadi mercusuar lahirnya pemikir kritis dan Islam moderat, dan terbuka terhadap berbagai macam perbedaan, pesantren selalu menancapkan rasa cinta terhadap tanah air,” jelas Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya Prof Abd A’la dalam kesempatan yang sama. (Diana Manzila/Fathoni)