::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Sebelas Kunci Sehat ala Cak Nun

Selasa, 13 Februari 2018 08:01 Nasional

Bagikan

Sebelas Kunci Sehat ala Cak Nun
Cak Nun dan Gus Mus. (Foto: caknun.com)
Muhammad Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Cak Nun merupakan tokoh nasional yang dikenal masih aktif berdakwah melalui berbagai media, baik tulisan, pagelaran, serta ceramah budayanya di berbagai kota baik di dalam maupun luar negeri.

Meski bukan dokter, dalam suatu kesempatan, ia mengaku diamanahi untuk mengungkapkan hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan, ketika diminta oleh keluarga besar Bani Latief Jombang untuk memberikan pesan-pesan kesehatan.

“Itu tidak berarti saya yang paling sehat diantara kita semua. Alhamdulillah, Allah selalu sayang dan memelihara, merawat kesehatan saya, sampai umur 64 sekarang,” terangnya, seperti diuangkapkan dalam video di akun resmi youtube miliknya, caknun.com.

“Tapi tidak berarti sayalah yang pantas untuk ngomong apa-apa tentang kesehatan. Karena mungkin saja orang yang paling tahu kesehatan adalah orang yang sakit. Jadi, tolong, yang pentaing apa yang diungkapkan, tidak usah dipertimbangkan apakah saya sehat atau sakit,” imbuhnya.

Berikut 11 (sebelas) tips sehat Islami menurut ayah dari vokalis Noe Letto yang ditranskrip dari youtube caknun.com:

Pertama, hidup sehat atau kesehatan hidup itu merupakan gabungan antara kesehatan jiwa, kesehatan badan, dan kesehatan hubungan manusia dengan Tuhan. Gabungan itu artinya dia bersifat dialektis, terkait satu sama lain. Serta bersifat komprehensif atau dia saling mendukung satu sama lain, di antara unsur-unsur badan atau jasad, dengan jiwa atau rohani, dengan posisi hubungan manusia atau makhluk atapun dengan Tuhan. Itu prinsip dasarnya.

Tuhan adalah yang bikin manusia, yang bikin rohani dan jasadnya, serta yang memberi ketetapan tentang sistem kehidupan yang hasilnya adalah hidup sehat. Oleh karena itu, ketergantungan makhluk untuk sehat atau tidak sehat itu, nomor satu adalah pada yang menciptakannya, yaitu Allah SWT.

Kedua, oleh karena prinsip dasar seperti itu maka kesehatan jasad tidak bisa berdiri atau bekerja sendiri. Ia berposisi saling tergantung dengan kesehatan jiwa atau rohani, serta dengan sehatnya hubungan manusia dengan Tuhan, dari hari ke hari. Kita tahu, ilmu kesehatan modern sangat rajin meneliti dengan seksama, hal-hal yang menyangkut kesehatan jasad. Ada juga sedikit ditemukan kaitannya dengan kesehatan psikologi atau psikis. Tetapi, tidak sampai pada spektrum kesehatan rohani, dimana Tuhan disadari sebagai pangkal ujung sehat dan sakitnya semua makhluk. Termasuk kita semua.

Khusus untuk mengenali posisi Tuhan, Tuhan itu memiliki hak mutlak atas sakit atau sehatnya apa saja yang Ia ciptakan. Tuhan tidak berpihak pada sehatnya manusia berdasarkan konsep manusia tentang sehat. Sehat dan sakit menurut Tuhan berbeda, atau sangat berbeda, atau bahkan bisa sangat terbalik, dibanding sehat dan sakit menurut ilmu kita. Menurut keperluan dan kepentingan manusia.

Kesehatan di “mata” Tuhan, adalah keberadaan manusia di dalam kepatuhannya kepada kehendak-Nya. Maka pemahaman atas kesehatan manusia, bisa terbalik dari konsep kesehatan menurut Tuhan.

Keempat, ada kemungkinan-kemungkinan, yang mungkin tidak terbatas jumlahnya. Tuhan bisa memberi sakit kepada manusia, tetapi fungsinya adalah penyehatan jiwa. Tuhan memberi sakit atau penyakit kepada manusia, maksud atau posisinya bisa saja sebagai ujian atau pendidikan, atau peringatan, atau mungkin hukuman. Sebaliknya, Tuhan memberi sehat kepada manusia juga bisa merupakan ujian, pendidikan, peringatan atau hukuman. Jadi, sehat dan sakit menurut kita bisa sangat terbalik dengan sehat dan sakit menurut Tuhan, tergantung, kita bisa menemukan ndak, latar belakang kenapa Tuhan bikin kita sakit; kenapa Tuhan bikin kita sehat?

Sakitnya manusia, bisa membuatnya rendah hati dan sadar ketergantungannya kepada Tuhan. Sementara sehatnya manusia bisa merupakan semacam azab bagi manusia, yang membuatnya sombong dan tergelincir hidupnya, serta kelak tiba di Tuhan, tidak seperti posisi yang Tuhan menghendaki ketika Tuhan menciptakan kita semua.

Kelima, demikian juga konsep Tuhan tentang hidup dan matinya manusia tidak sama dengan pemahaman kita, pemahaman manusia. Banyak dialami, banyak kita alami, bahwa sakit berlanjut ke kematian. Tapi bisa juga terjadi kematian tanpa sakit sebagai sebab-musababnya. Di dalam konsep Tuhan, hidup dan mati bisa berkait, bisa juga tidak berkait, terserah-terserah Tuhan.

Tuhan menghidupkan dan Tuhan mematikan hanya terkait dengan kehendak-Nya itu sendiri. Tidak harus berhubungan dengan sakit atau tidak sakit. Hidup dengan selalu menjaga kesehatan, tidak harus diartikan supaya awet hidup dan tidak cepat mati. Yang paling murni dan masuk akal adalah: menjaga kesehatan karena kesetiaan kepada Tuhan, yang menitipkan jasad dan ruh ini kepada manusia dan kita semua.

Keenam, manusia mencari dan menemukan amat sedikit dari ilmu kesehatan yang Tuhan Maha Menguasai keseluruhannya. Manusia wajib berikhtiar merawat kesehatannya, tetapi hakikinya Allah yang mengambil keputusan tentang sehat-tidaknya manusia. Manusia wajib menjalani hidup yang sehat, tetapi Tuhan berhak menentukan orang yang merawat kesehatannya diambil nyawanya terlebih dulu dibanding dengan orang yang berlaku seenaknya terhadap kesehatan hidupnya. Itu terserah-terserah Tuhan. Dan Kita sebaiknya tidak usah membantah. Mengabdi dan ikut saja kepada Tuhan.

Untuk itu, tidak ada salahnya, tidak ada gunanya, menyalahkan Tuhan dengan keputusannya yang dari sudut kepentingan kita seolah-olah semena-mena dan diktator itu. Sebab, setiap kondisi sehat atau sakit di suatu titik di suatu area, penggalan atau petak dalam proses kehidupan, baru bisa dinilai kesejatian sehat atau tidaknya kelak, pada momentum tertentu, di alam yang rumusnya adalah komprehensi dunia-akhirat sekaligus. Kita mengenal hanya sepetak kecil dari urusan dunia. Dan kita sebenarnya tidak berada dalam posisi yang ilmiah untuk mengambil keputusaan saat ini juga mengenai kita sehat atau sakit.

Itulah sebabnya manusia tetap memerlukan iman, takwa dan tawakkal kepada Tuhan, dalam keadaan sakit maupun sehat. Semua kondisi ilmu dan pemahaman tentang kesehatan atau  apapun saja, selalu dimasukkan ke dalam spektrum iman, takwa dan tawakkal. Kalau mau mudahnya, ya sehat silakan, sakit ya silakan, asal tetap berada dalam iman, takwa dan tawakkal. Ukurannya itu.

Ketujuh, manusia meneliti sakit dan sehat, kemudian berikhtiar mengobati, tetapi manusia tidak mampu berposisi untuk menyembuhkan. Manusia menanam benih, Tuhan yang menyemaikan. Manusia berjuang, Tuhan yang menentukan pencapaian atau kegagalan.

Tuhan bisa berlaku sesuai dengan rumus kesehatan manusia, misalnya menyembuhkan orang yang sakit, yang diobati oleh manusia. Tapi juga Tuhan berhak melakukan berbagai vasiari perilaku yang lain: Dia bisa tidak menyembuhkan orang yang diobati, atau menyembuhkan orang yang tidak diobati. 

Tuhan bisa mengabulkan kesembuhan seseorang berdasarkan pengetahuan kedokteran dan farmasi, bisa juga tidak menyembuhkannya, atau malah menyembuhkan dengan obat dan sebab yang lain sama sekali, atau bahkan ditentang oleh kedokteran dan farmasi.

Kedelapan, kalau dokter, tabib, dukun atau siapapun disebut menyembuhkan seseorang dari sakitnya, dengan menggunakan obat, atau ramuan atau perlakuan yang dikenal baku dan diakui oleh ilmu manusia, mohon izin, kesimpulannya bukan ilmu dan obat itu pasti benar. Kesimpulan yang lebih waspada adalah, Tuhan mengabulkan kesembuhan melalui apa yang diyakini, dan dipergunakan oleh dokter atau tabib dan dukun itu.

Sementara disaat yang lain, Tuhan bisa tidak mengabulkannya atau justru memberi manusia pengalaman, di mana seseorang menjadi sembuh tidak berdasarkan ilmunya manusia tentang kesehatan dan pengobatan, melainkan ilmu yang tidak dikenal oleh manusia sama sekali.

Kesembilan, seseorang yang dekat dengan Tuhan mengeluh: “Ya Allah, sembuhkan(lah) perutku.” Tuhan menjawab: “Baiklah, ambil daun itu dan makanlah.” Belum sampai ia ia memakan daun itu perutnya sembuh. Kemudian ketika perutnya sakit lagi, orang itu langsung mengambil daun itu, ternyata perutnya tidak sembuh-sembuh, meskipun sudah sekian lembar daun telah ia makan. Orang itu memprotes: “Ya Allah, ketika aku sakit perut Engkau memerintahkanku untuk menyembuhkan pakai daun itu, kenapa kali ini tidak sembuh perutku?”. Tuhan menjawab:

“Waktu sakit yang pertama, engkau mengeluh dan minta tolong kepada-Ku. Tetapi yang kedua, engkau tidak minta tolong kepada-Ku, melainkan langsung mengambil daun itu. Maka perutmu tetap sakit, karena daun dan apapun tidak bisa menyembuhkan sakit perut dan sakit apapun. Yang bisa menyembuhkan dan yang berkehendak menyembuhkan adalah kemauan dan kasih sayang-Ku.” 

Kesepuluh, oleh karena itu, syarat kesehatan hidupnya manusia ada dua, yang sebaiknya kita pilih, meskipun kita bisa saja dibiarkan oleh Tuhan tetap sehat tanpa memilih keduanya. Pertama, memastikankan secara permanen dan simultan pemfokusan hati kita kepada Tuhan. Hati kita bertauhid. Pikiran kita bertauhid.

Setiap helaan nafas bertauhid. Setiap langkah bertauhid. Arah hidup kita bertauhid. Pekerjaan kita bertauhid. Senang dan susah kita bertauhid. Kaya dan miskin kita bertauhid. Yang kedua, berpikir hakiki. Berpikir sehat. Berpikir jujur. Berpikir positif. Berpikir kompatibel dengan kemauan Tuhan.

Roh dan jasad manusia adalah sebuah organisme, sebuah sistem, suatu putaran ekosistem, hardware maupun bersama dengan software-nya. Setiap ketidakjujuran rohani, ketidakjujuran hati dan pikiran, akan mengubah manajemen ekosistemik di dalam hidup kita, sehingga potensial untuk menjadi destruksi, dismanageman, kekacauan, dekonstruksi, atau kerusakan susunan-susunan. Kerjasama di dalam roh dan jiwa kita, termasuk semua unsur jasad-jasad kita, sehingga produknya adalah sakit.

Kesebelas, maka hidup yang paling potensial untuk sehat adalah menghormati dan patuh kepada hakikinya kehendak Tuhan, kemudian membuka diri pada setiap kemungkinan pada ilmu manusia yang menyangkut sehat dan sakit. Tidak ada ukuran ilmu kesehatan modern atau tradisional.

Tidak ada acuan-acuan ini dokter atau dukun atau tabib, atau mungkin orang biasa yang tidak dianggap expert (ahli) dalam kesehatan. Ukuran yang sejati, dan yang lebih dekat kepada kesehatan hanyalah kejujuran ilmu kesehatan di tangan atau di pihak siapapun, serta sadar ketergantungan kepada kehendak Allah. Dari Allah kita hindari amarahnya, dan kita upayakan dekat dengan kasih sayang-Nya.

Di akhir pemaparan, guru bangsa yang sampai sekarang masih aktif keliling bersama kelompok musik Kiai Kanjeng itu memberi pengertian, utama bagi Anda yang belum paham. 

“Tidak harus dipahami sekarang. Tapi mudah-mudahan, setiap yang kita dengarkan, bisa menjadi benih yang tertanam, sehingga ia akan ditumbuhkan oleh Tuhan, bersemai, berdaun, berbatang, kemudian muncullah buah-buah kesehatan di dalam hidup kita masing-masing dan semuanya. Entah dalam waktu berapa lama, terserah Allah SWT,” tutup Cak Nun. 

Ditranskrip oleh Ahmad Naufa.