::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Tak Ada Persaudaraan Tanpa Komunikasi

Selasa, 13 Februari 2018 20:01 Daerah

Bagikan

Tak Ada Persaudaraan Tanpa Komunikasi
Banyuwangi, NU Online
Beberapa hari terakhir headline media nasional gencar memberitakan peristiwa penyerangan gereja oleh salah seorang pemuda asal Banyuwangi. Namun di Banyuwangi sendiri, sejumlah pelajar justru mengunjungi Paroki Maria Ratu Damai di Jl. A. Suprapto No. 36 Banyuwangi dengan damai. 

Pelajar-pelajar yang menamakan Pelajar NU Blambangan itu disambut langsung Romo Sugeng, Romo Surya, dan sejumlah pemuda Kristen di antaranya Wawan, Toni, dan Anton.

Pada kesempatan tersebut, perwakilan pelajar NU, Ibnu Tsani Rosyada, menyampaikan, kedatangan mereka adalah salah satu upaya untuk menjaga komunikasi dengan pemeluk agama lintas agama. Dengan adanya komunikasi, persaudaraan dan rasa solidaritas antarsesama manusia akan terjalin.

''Tidak ada persaudaraan yang muncul tanpa adanya komunikasi. Oleh karena itu, kami mengajak kawan-kawan generasi muda NU untuk terus menjaga komunikasi dengan semua pihak termasuk dengan saudara lintas agama," ujar Ibnu.

Sementara itu, Romo Surya berterima kasih atas kunjungan itu. Ia berkeinginan agar di lain waktu baik pelajar NU maupun pemuda Katolik bisa bertemu dan mengadakan kegiatan secara bersama-sama.

''Terima kasih atas kunjungan kawan-kawan Pelajar NU. Kami ingin suatu saat nanti  pemuda Kristen dan NU bisa bertemu dan mengadakan kegiatan bersama-sama. Kebetulan yang ada di sini, semuanya generasi tua," ungkap Romo Surya yang disambut gelak tawa.

Romo Sugeng juga mengisahkan ketika bertugas di Malang, dirinya tidak jarang berkomunikasi dengan anggota Fatayat maupun Ansor. Jadi, dirinya sudah akrab dengan pemuda NU baik secara struktural maupun personal.

''Di Malang kami sering mendapat kunjungan dari Fatayat maupun Ansor untuk sekadar diskusi ringan semacam ini. Hal semacam inilah yang sebenarnya kita butuhkan. Akan habis secara sia-sia tenaga kita jika berbicara soal perbedaan yang menjurus kepada tindakan kekerasan," jelas Sugeng.

Penyataan tersebut ditanggapi dengan santai oleh Ayunk Notonegoro. 

"Sebenarnya baik umat Katolik maupun NU ini sama-sama Korban," kata Ayunk dengan nada datar. 

“Korban Apa, Mas Ayunk?” tanya Romo Sugeng.

"Korban sama-sama dikafirkan," jawab Ayunk disambut gelak tawa semua.

Pertemuan mengalir secara santai, sekali-sekali muncul celetukan-celetukan dan joke-joke yang mencairkan suasana. Apalagi ketika membahas sosok Gus Dur, banyak sekali cerita-cerita yang membuat peserta diskusi tak dapat menahan gelak tawa.

Selanjutnya, Yohanes Toni dari Pemuda Kristen menyampaikan bahwa beberapa hari mendatang umat kristiani akan menjalankan ibadah di hari suci. Toni, meminta doa kepada segenap pemuda NU agar semuanya berjalan lancar. (M. sholeh Kurniawan/Abdullah Alawi)