::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Valentine Day yang Islami? Why Not?

Rabu, 14 Februari 2018 00:02 Opini

Bagikan

Valentine Day yang Islami? Why Not?
Oleh Ahmad Naufa Khoirul Faizun
Di antara hal yang selalu diributkan umat Islam di Indonesia menjelang pertengahan bulan Februari adalah fenomena perayaan Hari Valentine. Pro kontra pun terjadi di tengah-tengah masyarakat: ada yang menolak (bahkan mengharamkan) dan ada yang memperbolehkan, yang tentu dalam batas-batas tertentu.

Wajar kalau Google Trends menempatkan penelusuran tentang valentine ini (per hari ini, 13/2) di peringkat dua dengan 20.000 lebih pencari. Tulisan ini mencoba menjawab kedua polarisasi itu dengan pijakan sejarah, budaya, dan sebuah tawaran solusi.

Hari Valentine (bahasa Inggris: Valentine's Day) atau disebut juga dengan Hari Kasih Sayang banyak dirayakan pada tanggal 14 Februari. Sebagaimana definisi dari Wikipedia, Hari Valentine adalah sebuah hari di mana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya di Barat.

Hari valentine ini sekarang diasosiasikan dengan para pencinta yang saling bertukaran tanda atau simbol dalam bentuk "valentines". Simbol modern Valentine antara lain termasuk sebuah kartu berbentuk hati dan gambar sebuah Cupido (Inggris: cupid) bersayap. Mulai dari abad ke-19, tradisi penulisan tanda pernyataan cinta mengawali produksi kartu ucapan secara massal. The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS) memperkirakan bahwa di seluruh dunia sekitar satu miliar kartu valentine dikirimkan per tahun (liputan6.com).

Di Amerika Serikat, mulai pada paruh kedua abad ke-20, tulis Wikipedia, tradisi bertukaran kartu diperluas dan termasuk pula pemberian segala macam hadiah yang biasanya diberikan oleh pria kepada wanita. Hadiah-hadiahnya biasa berupa bunga mawar dan coklat. Mulai tahun 1980-an, industri berlian mulai mempromosikan hari Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memberikan perhiasan.

Di Indonesia sendiri, saya melihat Hari Valentine diekspresikan dengan berbagai cara. Ada yang cukup dengan saling memberi ucapan, tukar hadiah, kencan, bahkan yang paling ekstrem dijadikan ajang untuk mesum, dalihnya saling melepas kasih sayang. Namun, saya memprediksi bahwa masih banyak para pelajar dan remaja kita yang mengekspresikan dengan cara-cara biasa, yaitu saling memberi coklat atau hadiah, yang merupakan korban dari tren (saya sendiri dulu pernah jadi korban ketika SMP).

Jadi, jika ditilik lebih dalam, perayaan Hari Valentine di Indonesia yang sudah menjadi budaya, khususnya di kalangan remaja, tidak serta merta dimaknai secara teologis bahwa itu berasal dari tradisi non-Muslim. Juga tidak serta merta harus dihukumi secara fiqih bahwa itu tasyabbuh dengan budaya yang tak Islami. Lebih dari itu, Hari Valentine harus dilihat dari kacamata budaya dan substansi, baru kemudian bisa dihukumi.

Jika harus dihukumi, maka Hari Valentine hanyalah sebuah bungkus, seperti layaknya hukum infotainmen. Tinggal apakah isinya? Jika dalam kasus infotainmen di televisi-televisi Indonesia macam-macam, ada yang sekadar memberitakan keseharian para selebritis, itu boleh-boleh saja. Namun jika sudah masuk para fitnah dan mengumbar keburukan dan bahkan gosip, itu yang dilarang. Hari Valentine pun seperti itu, tinggal bagaimana merayakannya? Jika dirayakan dengan cara yang tidak dilarang agama, maka itu sah-sah saja. Seperti banyak umat Islam yang menggunakan kata “minggu” dan bulan-bulan non-hijriyyah untuk berbagai kegiatan, tergantung pada perilaku kita sendiri bagaimana.

Valentine Days untuk Generasi Muda Islam.
Kita maklumi bersama bahwa secara historis Islam memang sudah punya Hari Valentine, yaitu hari Pembebasan Kota Suci Mekkah. Peristiwa yang terjadi pada tahun 630 M atau tepatnya pada tanggal 10 Ramadan 8 H itu, Nabi Muhammad SAW beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Mekkah, dan kemudian menguasai Mekkah secara keseluruhan tanpa pertumpahan darah sedikitpun. Nabi mengampuni orang-orang yang dulu membuatnya terusir dari Tanah Airnya. Keburukan dan kekasaran yang ditimpakan kepada Nabi dibalas dengan cinta dan kasih sayang.

Selain itu, ada juga tradisi di Bulan Muharram, di mana banyak umat Muslim tanah air yang menjalankan 10 kesunahan di bulan mulia itu, yang salah satunya adalah mengasihi anak yatim dan fakir miskin. Berbagai kegiatan di bulan Muharram adalah cerminan bahwa umat Islam adalah orang yang peduli kepada anak yatim dan kaum papa. Ini adalah kasih sayang yang agama Islam ajarkan.

Namun demikian, sebenarnya secara substansi ajaran kasih sayang dalam Islam adalah ajaran yang tidak berlaku surut. Dalam artian, di mana dan kapan pun kita umat Islam dituntut untuk saling mengasihi dan menolong sesama tanpa harus menunggu momentum tertentu. Setiap hari kita diharuskan menyayangi yang muda, dan menghormati yang tua, terlebih kepada orang tua sendiri. Tetapi juga tidak melarang adanya tradisi atau momentum tahunan, yang di Indonesia ini berlaku, seperti tradisi silaturrahmi Halal Bihalal, Tahlilan, dan lain sebagainya.

Nah, berangkat dari keterangan di atas, bagaimana sebaiknya generasi muda Islam menyikapi Hari Valentine?

Pertama, bahwa generasi muda Islam–khususnya kaum muda NU–tak perlu mengutuk-ngutuk Hari Valentine. Karena itu tidak hanya soal sejarah dan budaya, namun juga industri. Semakin digembar-gemborkan, mereka akan semakin laris jualan coklat. Jika dikutuk-kutuk, bahkan dengan fatwa sekalipun, itu justru tidak memberikan solusi yang cerdas, alih-alih justru upaya yang sia-sia. Intinya, Hari Valentine hanyalah label dan bungkus. Isinya? Itulah para tugas generasi muda Islam untuk mengisi dan merayakannya dengan hal yang tak bertentangan dengan agama. Jika hanya memberi kado dan hadiah lain, saya kira itu tak masalah.

Kedua, generasi muda Islam–khususnya kader muda NU–mesti bisa membikin budaya tandingan Hari Valentine, yang isinya positif, konstruktif dan inspiratif. Misalnya, membikin Valentine Days dengan kongko budaya, bedah buku, kajian cinta dalam Islam, bedah film, atau hal yang kekinian dan hits lain. Dengan begitu, bungkus yang memang dari budaya Barat itu kita filter menjadi budaya yang secara substansi tak bertentangan dengan ajaran Islam.

Mengapa tidak? Sesepuh-sesepuh kita Walisongo–penyebar Islam di Tanah Jawa–telah mencontohkan, bagaimana tradisi dan budaya non-Islam berhasil diislamisasi secara substansi. Wayang yang dulu hanya dikenal dengan wayang beber, diubah secara revolusioner bentuknya menjadi wayang kulit, bahkan isinya dengan cerita yang mendekatkan kepada ajaran tauhid. Misalnya, para dewa-dewa yang ada di wayang itu, silsilah-silsilahnya berhenti sampai Nabi Adam AS, juga banyak memuat ajaran kebaikan.

Secara istilah, karena kita orang Nusantara sudah banyak tradisi dan budaya, tidak serta merta dihilangkan begitu saja ketika Islam masuk. Ini berkesesuaian dengan ajaran Islam itu sendiri yang tidak membasmi yang telah ada, namun menyempurnakan. Walisongo menjaga dan berhasil mengonversi itu dengan baik. Istilah “kiai” yang sudah ada di sini tetap digunakan, tidak dengan kata “ustadz” atau “syekh.” Istilah “sembahyang” tetap dipakai meski isi dan perilakunya adalah shalat. Istilah “langgar” tetap di pakai, tidak langsung dengan masjid atau mushalla. Bahkan, para pendahulu tidak langsung dengan kata ganti Allah melainkan kata “Pangeran” yang dipakai. Namun, pelan tapi pasti, bungkus itu isinya dimasuki ajaran yang Islami.

Selain itu, banyak sekali tradisi pra-Islam yang kemudian dikonversi oleh Walisongo menjadi tradisi Islami yang sampai saat ini ada di Indonesia dan menjadikan Islam mengakar dan kuat.

Intinya, Islam–khususnya NU–tidak serta merta mengutuk bungkus, namun yang lebih penting dari itu adalah isi dan substansi. Pun demikian Hari Valentine. Jika kemudian santri dan generasi Islam zaman now mampu mengubah isinya menjadi hal yang positif, inspiratif, konstruktif, bukankah itu lebih hebat dampaknya dari sekadar fatwa? Dan, sanggupkah generasi yang mengaku penerus Walisongo melakukannya?


*) Penulis adalah santri, kader muda NU, tinggal di Purworejo, Jawa Tengah.