::: NU: Kepastian awal Ramadhan akan diikhbarkan pada 15 Mei 2018 petang hari ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ketika Masyarakat Ramai-ramai Ingin Jadi PNS

Rabu, 14 Februari 2018 08:30 Opini

Bagikan

Ketika Masyarakat Ramai-ramai Ingin Jadi PNS
Foto ilustrasi: tempo.co
Oleh Muhammad Syamsudin

Setiap tahun, halaman-halaman media pemberitaan di Indonesia selalu dihiasi dengan berita-berita yang serba-update dan fenomena yang menarik perhatian masyarakat. Tak urung, bukan hanya media pemberitaan besar, bahkan blog-blog gratisan yang ditulis oleh komponen masyarakat sebagai corong suara yang masuk ranah privasi juga turut memberitakannya. Dan salah satu objek yang senantiasa menarik untuk diberitakan setiap saat dan setiap waktu adalah fenomena pendaftaran CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil), bursa lowongan kerja di perusahaan-perusahaan, serta kesempatan meniti karier lainnya. Berbagai fenomena ini setidaknya menjadi gambaran bahwa masing-masing objek berita tersebut hingga saat ini masih menyedot perhatian khalayak, atau bisa jadi masih menjadi prestis untuk jenjang karier seseorang. Dengan menjadi PNS, atau berhasil menempati kedudukan dan jabatan di suatu bidang pekerjaan tertentu masih dianggap sebagai tolok ukur keberhasilan seseorang. Pertanyaannya adalah mengapa?

Sebuah data publikasi ilmiah hasil penelitian tentang pilihan pekerjaan yang diminati oleh para Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Sam Ratulangi yang dilakukan oleh Bernhard Tewal (2014), seorang dosen dan guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sam Ratulangi Manado yang dipublikasikan dalam Seminar Nasional dan Call Paper (Sancall 2014) melaporkan bahwa 33,8% objek penelitian mahasiswa Sam Ratulangi adalah lebih suka bercita-cita meniti karier sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), 28,2% ingin berwiraswasta, 17,6% ingin menjadi Pegawai Bank, 12,0% ingin menjadi Pegawai Swasta, 4.9% ingin berkarier di TNI/POLRI, dan sisanya hanya sebesar 3.5% yang ingin meniti karier di bidang yang lain. Ketika hasil penelitian ini diperluas dengan objek semua jurusan yang ada di Universitas tersebut, didapatkan hasil penelitian bahwa karier yang senantiasa menjadi cita-cita unggulan mahasiswa adalah PNS. 

Ketika mahasiswa ditanya dengan instrumen berupa alasan mengapa menyukai bidang pekerjaan yang dipilihnya, ditemukan alasan bahwa 85,9% responden menyatakan karena melihat orang-orang dekat mereka yang berhasil, 95,8% ingin mengaktualisasikan diri, 61,3% tersedianya peluang untuk kemajuan, 52,1% adanya fleksibilitas karier, 78,9% adanya prestis profesi, 75,4% ingin menerapkan ilmu dan keterampilan. Data ini setidaknya memberitahukan kepada kita bahwa pilihan karier memiliki hubungan yang erat dengan pengalaman keseharian tentang keberhasilan yakni: orang yang ada didekatnya sehingga ia perlu mencontoh, ingin mengaktualisasikan diri [dipandang sebagai orang yang berguna oleh masyarakat], adanya peluang untuk maju, fleksibelitas karier [kenaikan pangkat], prestis dan profesi dan terakhir adalah berjuang menerapkan ilmu dan keterampilan. 

Dengan demikian, jika kita tarik pada angka tingginya pilihan karier menjadi PNS dengan latar belakang minat keinginan berkarier mahasiswa pada waktu itu, adalah tidak bisa lepas dari beberapa faktor yang disebutkan di atas, yang salah satunya adalah karena melihat keberhasilan orang yang ada disekitarnya setelah menjadi PNS, prestis, aktualisasi diri, dan lain sebagainya. Dan ini sekaligus menjadi kesimpulan, bahwa karier PNS adalah identik dengan keberhasilan. 

Pertanyaannya adalah mengapa mahasiswa tidak ingin menjadi petani? Bisa jadi orang akan menjawab sebab tidak ada kolom pilihan jawaban atau memang dimasukkan ke dalam bagian kolom lain-lain. Padahal kolom lain-lain bisa mencakup semua bidang/unit pekerjaan. Dan sedikitnya persentase pilihan minat karier pada unit bidang lain-lain ini menunjukkan sebagai antitesa dari sebuah keberhasilan atau bahkan bidang tersebut terlampau banyak resiko kegagalan. Jika kita bahasakan dengan bahasa sederhana, adalah mahasiswa tidak ingin meniti karier pada unit bidang pekerjaan yang tidak menjanjikan, dan rawan dengan kegagalan seperti layaknya bidang pertanian, dan lain sebagainya. Pertanian identik dengan kegagalan dalam perbaikan kualitas hidup dan jenjang karier, meski tidak serta merta ini bisa dibenarkan. Namun setidaknya, probabilitas keberhasilan bukan terletak di dunia pertanian. 

Paparan data hasil penelitian di atas mungkin tersusun bukan karena suatu faktor kebetulan. Namun, kenyataan di masyarakat memang memiliki korelasi dengan hasil riset. Laporan membludaknya angka pendaftar dan pemburu kesempatan berkarier menjadi PNS setiap tahunnya dan menghiasi banyak halaman media nasional adalah realitas yang tak bisa kita hindari dan kita pungkiri. Ini adalah fakta sosial, bahwa dengan menjadi PNS, ada keberhasilan perbaikan ekonomi dibanding masyarakat sekitar PNS itu sendiri. 

Sebagai penutup tulisan ini adalah, untuk anda yang saat ini menjadi PNS, anda adalah citra keberhasilan dari masyarakat. Seharusnya anda bangga menjadi bagian dari citra itu. Anda juga menjadi simbol prestis dan keberhasilan aktualisasi diri masyarakat di Jaman Now. Petani yang setiap masa panen harus dipungut 5-10% hasil panennya untuk kepentingan zakat senantiasa bermimpi untuk berkarier di posisi seperti anda. Bersyukurlah untuk menjadi sosok yang diimpikan, di tengah masyarakat yang acap digambarkan sebagai pribadi yang berkarier di bidang tak menjanjikan. Kenapa harus malu untuk bersyukur menjadi sosok yang diimpikan? Allah SWT berfirman dalam Q.S. Ibrahim 7-8:

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. Dan Musa berkata: "Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.' (Q.S. Ibrahim 7-8).


Penulis adalah Kontributor NU Online Bawean