::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Tasawuf Pancasila

Rabu, 14 Februari 2018 15:01 Opini

Bagikan

Tasawuf Pancasila
Pancasila (Dok. beritasatu.com)
Oleh Eko Supriatno

Seharusnya umat Islam, tidak perlu lagi mempersoalkan posisi antara agama dan negara. Menurut penulis, masalah agama dan negara itu sudah selesai secara politis ketika pendiri bangsa menetapkan Pancasila sebagai dasar negara. 

Pancasila adalah dasar negara sedangkan Islam merupakan akidah yang harus dipedomani. Pancasila mengakui dan menghormati nilai-nilai ketuhanan dan keagamaan dalam islam. Pancasila telah mampu berdampingan dengan agama Islam dan agama lainnya di Indonesia. 

Begitulah memang bahwa sejatinya napas atau ruh dari Pancasila itu sendiri ialah Ketuhanan Yang Maha Esa. Agama (aturan Tuhan) telah hadir dimuka bumi menjadi satu paket dengan proses penciptaan manusia itu sendiri, oleh karenanya ketika siapapun mempersoalkan eksistensi agama (dengan produk peradabannya) dan atau akan memisahkan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dengan agama sama halnya memisahkan ikan dengan air atau memisahkan manusia (mahluk hidup) dengan oksigen. 

Dengan demikian Pancasila dan Agama tidak sekadar dapat berdampingan, justru lebih dari itu dalam konteks kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara Pancasila akan kehilangan makna jika tidak dijiwai dan atau mengejawantahkan nilai-nilai kebenaran universal agama (Ketuhanan) itu sendiri.

Substansi dari agama yang diturunkan oleh Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa ialah untuk menjamin tata kehidupan manusia yang berkeadaban secara holistik integral jauh dari tirani dan eksploitasi antara satu dengan yang lain baik dalam konteks individual maupun komunal. Pancasila yang merupakan sumber dari segala sumber hukum bagi Bangsa Indonesia menempatkannya sebagai dasar dan ideologi negara serta sekaligus dasar filosofis, sehingga setiap materi muatan Peraturan Perundang-undangan tidak  boleh  bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. 

Hal inilah kemudian yang belakangan sempat menjadi perdebatan ketika lahirnya regulasi (perda) berbasis syari’ah dipandang tidak selaras dengan Pancasila. Padahal Ketuhanan adalah inti dari Pancasila itu sendiri. Ketika sebuah sistem dibangun berdasarkan ketuhanan insyaallah sudah secara otomatis akan melindungi harkat martabat kemanusian dan keadilan sosial sekaligus. 

Jika dilihat dari aspek sejarah, para ulama Islam memiliki peran dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sebagai contoh: peran pendahulu Nadhlatul Ulama, KH Wahid Hasyim, yang memiliki komitmen kebangsaan saat terlibat langsung dalam menyiapkan kemerdekaan Indonesia bersama Soekarno, Mohammad Hatta dan tokoh lainnya. Kalau warga NU ditanya, pilih Islam atau Pancasila, ya dua-duanya. Islam dan Pancasila itu sejalan. Islam itu akidah sedangkan Pancasila itu dasar negara. Tidak ada pertentangan antara Islam dan Pancasila.

Sebagai negara berideologi Pancasila, Indonesia bukanlah negara sekuler atau negara yang memisahkan antara agama dengan negara. Di sisi lain, negara kebangsaan Indonesia yang ber-Pancasila juga bukan negara agama atau negara yang berdasarkan atas agama tertentu. Negara Pancasila pada hakekatnya adalah negara kebangsaan yang Berketuhanan Yang Maha Esa.

Pancasila dan ajaran Islam sama-sama mengajarkan budi pekerti luhur. Pancasila sebagai jati diri bangsa Indonesia adalah objektivikasi ajaran Islam. Jika dihayati dengan benar pancasila juga bisa menjadi pengendali tingkah laku, karena pancasila juga berisi ajaran moral.

Pancasila merupakan cerminan ajaran Alquran tetapi dibahasakan dengan budaya setempat sehingga bisa diterima oleh kelompok Non-Muslim sekalipun. 

Beberapa hal yang dapat menjadi pertimbangan keselarasan Pancasila dengan ajaran Islam adalah Pancasila bukan agama dan tidak bisa menggantikan agama. Pancasila bisa menjadi wahana implementasi Syariat Islam dan Pancasila dirumuskan oleh tokoh bangsa yang mayoritas beragama Islam. Selain hal-hal di atas, keselarasan Pancasila dengan ajaran Islam juga tercermin dari kelima silanya yang selaras dengan ajaran Islam. 

Islam mengajarkan sebuah ajaran kerohanian yang disebut dengan tasawuf. Tasawuf menekankan pentingnya manusia untuk mengenal Tuhannya, yang pada implikasinya akan bisa mengendalikan tingkah lakunya. Ajaran tasawuf lebih menekankan pada pendidikan hati, pengamalan dan penghayatan terhadap agama yang dalam hubungan sosial akan mengakibatkan terkendalinya tingkah laku maupun perbuatannya karena senantiasa merasa melihat ataupun dilihat oleh Tuhannya.

Setidaknya ada dua makna yang disebut dengan Tasawuf Pancasila. Pertama, Tasawuf Pancasila adalah dimana nilai Islam dan kebangsaan berpadu dalam cinta dan perdamaian dengan ungkapan ad-diin huwa al-hubb, agama adalah cinta. Inilah perangkat moral dan etik untuk mengajarkan nilai dasar Islam sebagai agama yang membawa kedamaian, mengajarkan cinta dan kasih sayang.

Kedua, Tasawuf Pancasila sebagai spiritualitas baru diharapkan menjadi energi gerak kolektif bangsa Indonesia untuk perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik. Pancasila dan tasawuf sama-sama sebagai penegak moral, Pancasila dalam konteks kenegaraan dan kebangsaan, sedangkan tasawuf dalam konteks keagamaan.

Pancasila dan Tasawuf sebagai sama-sama penegak moral maka menarik untuk bagaimana melihat pancasila dalam perspektif tasawuf sebagai inti dari ajaran Islam, karena penekanan dari ajaran tasawuf  ialah konsep ihsan, yaitu selalu merasa melihat atau dilihat oleh Allah yang pada implikasinya dapat mengendalikan tingkah laku maupun perbuatannya dalam hubungan sosial, berbangsa, dan bernegara

Ketiga, Konsep Tasawuf Pancasila adalah dimana agama dan negara tidak bisa dipisahkan dalam sejarah bangsa Indonesia. Oleh sebab itu Indonesia hari ini memerlukan sosok yang bisa menjadi jembatan antara ketiga konsep tersebut. Saat ini Indonesia mulai kehilangan sosok yang mampu menjembatani antara Pancasila, agama dan negara. 

Saya berharap kepada organisasi kemasyarakatan yang berbasis agama seperti NU, Muhammadiyah, Mathla’ul Anwar, dan lain-lain harus berperan aktif dalam membumikan Tasawuf Pancasila ini.

Untuk itu, ayo mari saya mengajak sahabat untuk ber-Tasawuf Pancasila, karena penulis adalah sebagai pendidik, dalam mimbar ini setidaknya memberikan sumbangsih saran, yaitu: kita harus ada kesadaran kolektif terkhusus dari lingkungan pendidikan, misal perguruan tinggi dengan menggagas wacana diskusi dan implementasi mengenai peran Tasawuf Pancasila sebagai memanifestasi rahmatan lil alamin, rahmat untuk seluruh umat manusia, melalui cinta, dan perdamaian. 

Menurut penulis ini penting, keterlibatan “orang-orang tercerahkan” itu akan meneguhkan sinergitas dan integrasi dua arus pendekatan sekaligus yaitu: teoretis praktis, ilmi dan amali. 

Penulis adalah penganggit buku “Politik Zaman Now”, Tenaga Ahli DPRD Provinsi Banten.