::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Mengabdi kepada Doa Kiai NU

Ahad, 18 Februari 2018 15:01 Hikmah

Bagikan

Mengabdi kepada Doa Kiai NU
Mengabdi kepada Doa Kiai NU 
Suatu malam di awal di bulan puasa tahun 2013 saya mengikuti pengajian KH Zezen Zainal Abidin Bazul Asyhab (selanjutnya Ajengan Zezen). Pengajian yang diikuti orang tua dan anak muda itu berlangsung selepas tarawih hingga menjelang sahur. Nuansanya tasawuf. Memang ia adalah tokoh Tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah (TQN) melalui mursyid Abah Anom Suryalaya, Tasikmalaya. 

Ternyata itu adalah pertemuan terakhir saya dengan Ajengan Zezen, dai populer kelahiran Sukabumi karena beberapa tahun kemudian saya tak pernah lagi bertemu dengannya secara langsung. 

Waktu itu, sebenarnya sungkan saya untuk mengobrol dengan kiai yang telah kelelahan mengajar. Pagi, siang, sore dan hingga larut malam. Namun, ketika turun dari kursinya, beberapa jamaah mengantre untuk ngobrol dengan mungkin rupa-rupa urusan, saya juga memberanikan diri untuk bertanya beberapa hal.  Ternyata dia masih berkenan untuk menngobrol. 

Hingga giliran saya, setelah memperkenalkan diri, satu pertanyaan yang tak mungkin saya lupakan jawabannya. Pertanyaan itu adalah, “Pak Kiai, kenapa mau aktif atau tercatat di NU? Bukankah di NU, Pak Kiai tidak digaji? Bahkan kalau berangkat harus merogoh kocek sendiri? begitu kira-kira pertanyaan saya waktu itu. 

Ia meminum larutan Penyegar Cap Kaki Tiga yang tersedia di sampingnya. Suaranya serak memang saking terus-menerus berbicara. Begitu pula di luar bulan puasa, ia terus-menerus berceramah, tidak hanya di daerah Jawa Barat, tapi luar Jawa hingga luar negeri. Di samping itu, ia juga mengajar santri-santrinya di Pondok Pesantren Az-Zainiyah, Nagrog, Selabintana, di kediamannya.  

Saya lupa kalimat persis dari jawaban Ajengan Zezen itu. Namun maksudnya adalah demikian. 

“Saya di NU bukan mengabdi kepada pengurus. Siapa pun dan bagaiamanapun pengurusnya, saya akan tetap di NU. Karena saya di NU bukan mengabdi kepada pengurus, tapi kepada doa kiai. Jika keluar dari NU, saya takut kualat dari guru-guru saya yang juga aktif di NU.” 

Bagaimanakah mengabdi kepada doa kiai dalam sebuah organisasi? Mungkin ini adalah hal aneh bagi orang yang melulu menggunakan akal dalam tindakannya. 

Di antara guru-guru Ajengan Zezen adalah Mama Ajengan KH Muhammad Syujai’i Ciharashas, Cianjur. Ia mengabdi di NU dianjurkan oleh tiga habib dan satu kiai. Tiga habib itu adalah Habib Muhammad Al-Haddad, Tegal, Jawa Tengah, Habib Syekh bin Salim Al-Attas, Sukabumi, dan Al-Habib Utsman Al-Idrus, Bandung. Sementara seorang kiainya adalah KH Mansur Jembatan Lima, Jakarta. 

Guru lain Ajengan Zezen adalah KH Mahmud Mudrikah Hanafi yang saat ini menjadi rais Syuriyah PCNU Kabupaten Sukabumi. Serta mungkin ada kiai-kiai lain yang aktif di NU yang tidak diketahui penulis. 

Begitulah santri kepada kiainya. (Abdullah Alawi)