NU: IDUL FITHRI 1439 H MENUNGGU HASIL RUKYAH KAMIS 14 JUNI 2018::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ini Ciri-ciri Ulama Su’, Ulama Matre, dan Ulama Dunia

Ahad, 18 Februari 2018 13:02 Bahtsul Masail

Bagikan

Ini Ciri-ciri Ulama Su’, Ulama Matre, dan Ulama Dunia
(via tribunnews.com)
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Pengasuh rubrik Bahtsul Masail NU Online yang terhormat, saya mau bertanya. Selama ini saya sering mendengar istilah ulama su atau ulama dunia. Mohon keterangan siapakah ulama us’ atau ulama dunia tersebut. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Zainal Arifin/ Bogor)

Jawaban
Wassalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya dan pembaca yang budiman. Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada kita semua. Dalam sejumlah kitab kita menemukan istilah ulama su’ atau ulama yang jahat sebagai lawanan dari ulama akhirat atau ulama agama.

Ulama su’ sebagaimana yang kami pahami bukan hanya mereka yang menguasai ilmu agama, tetapi mereka yang menguasai ilmu di luar ilmu agama. Artinya, ilmuwan dalam bidang apapun bisa saja menyandang predikat ulama su’.

Lalu bagaimana ciri ulama su’? Sayyid Bakri bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi dalam Kifayatul Atqiya mengatakan sebagai berikut:

وهم علماء الدين للتمييز بينهم وبين علماء الدنيا وهم علماء السوء الذين قصدهم  من العلم التنعم بالدنيا والتوصل إلى الجاه والمنزلة إلى أهلها

Artinya, “Mereka adalah ulama agama untuk membedakan antara mereka dan ulama dunia; mereka adalah ulama jahat yang dengan ilmunya bertujuan untuk kesenangan dunia, mendapatkan pangkat dan kedudukan pada penduduk,” (Lihat Sayyid Bakri bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, Kifayatul Atqiya wa Minhajul Ashfiya, [Indonesia: Al-Haramain Jaya, tanpa tahun], halaman 70).

Sebenarnya, apa yang disampaikan Sayyid Bakri bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi bukanlah pertama kali. Sebelumnya, Imam Al-Ghazali sudah menulis ini terlebih dahulu dalam Ihya Ulumiddin, (Mesir: Musthafa Al-Babi Al-Halabi, 1358 H/1939 H), juz I, halaman 64-65.

Berikut ini kami kutip Syarah Ihya Ulumiddin karya Sayyid Muhammad Al-Husaini Az-Zabidi:

ونعني بعلماء الدنيا علماء السوء) وصفهم بذلك لخسة منزلتهم عند الله تعالى ودناءة همتهم حيث استعملوا ما به يمدح فيما يذم وهم (الذين قصدهم  من) تحصيل (العلم التنعم بالدنيا) والترفه بزخارفها بتزيين المنازل بالفرش الطيبة وتعليق الستور عليها وتزيين الملابس الفاخرة والتجمل بالمراتب الفارهة (والتوصل) بذلك (إلى الجاه والمنزلة) الرفيعة (إلى أهلها) أي الدنيا

Artinya, “(Yang kami maksud dengan ulama ulama dunia adalah ulama jahat) Imam Al-Ghazali menyifati mereka demikian karena kerendahan kedudukan mereka di sisi Allah dan kehinaan semangat mereka di mana mereka menggunakan sesuatu yang terpuji untuk sesuatu yang tercela. Mereka adalah orang (yang dengan) meraih (ilmunya bertujuan untuk kesenangan dunia,) hidup senang dengan perhiasan dunia, yaitu menghias rumah dengan permadani mewah, menggantungkan gorden padanya, menghiasi diri dengan pakaian luks, dan memperindah rumah dengan kasur yang elok, (mendapatkan) dengan ilmunya (pangkat dan kedudukan) yang tinggi (pada penduduk) dunia,” (Lihat Sayyid Muhammad Al-Husaini Az-Zabidi, Ithafus Sadatil Muttaqin bi Syarhi Ihya’i Ulumiddin, [Beirut: Muassasatut Tarikh Al-Arabi, 1994 M/1414 H], juz I, halaman 348).

Dari sini kita mendapatkan gambaran bahwa ulama su’ adalah ilmuwan secara umum yang menyalahgunakan ilmunya untuk kepentingan duniawi apapun bentuk kepentingannya. Artinya, jangan dipahami bahwa ulama su’ adalah sarjana-sarjana yang mempelajari ilmu sekuler. Pemahaman ini tidak relevan sama sekali.

Sedangkan dalam konteks ahli ilmu agama, Imam Al-Ghazali menyebut sejumlah ciri-ciri ulama su’. Imam Al-Ghazali menjelaskan tiga jenis niat orang dalam menuntut ilmu. Salah satunya adalah ulama yang salah niat dalam menuntut ilmu agama. Inilah yang kemudian disebut sebagai ulama su’ sebagai keterangan Imam Al-Ghazali dalam Kitab Bidayatul Hidayah berikut ini:

ورجل ثالث استحوذ عليه الشيطان؛ فاتخذ علمه ذريعة إلى التكاثر بالمال، والتفاخر بالجاه، والتعزز بكثرة الأتباع، يدخل بعلمه كل مدخل رجاء أن يقضى من الدنيا وطره، وهو مع ذلك يضمر في نفسه أنه عند الله بمكانة، لاتسامه بسيمة العلماء، وترسمه برسومهم في الزىّ والمنطق، مع تكالبه على الدنيا ظاهرا وباطنا. فهذا من الهالكين، ومن الحمقَى المغرورين؛ إذ الرجاء منقطع عن توبته لظنه أنه من المحسنين، وهو غافل عن قوله تعالى (يَأيُها الَّذين آمنوا لِمَ تَقولونَ مالا تَفعَلون). وهو ممن قال فيهم رسول الله: (أنا من غير الدجال أخوف عليكم من الدجال) فقيل: وما هو يارسول الله؟ فقال: (علماء السوء). وهذا لأن الدجال غايته الإضلال، ومثل هذا العالم وإن صرف الناس عن الدنيا بلسانه ومقاله فهو داع لهم إليها بأعماله وأحواله، ولسان الحال أفصح من لسان المقال، وطباع الناس إلى المساعدة في الأعمال أميل منها إلى المتابعة في الأقوال؛ فما أفسده هذا المغرور بأعماله أكثر مما أصلحه بأقواله، إذ لا يستجرىء الجاهل على الرغبة في الدنيا إلا باستجراء العلماء، فقد صار علمه سببا لجرأة عباد الله على معاصيه، ونفسه الجاهلة مدلة مع ذلك تمنيه وترجيه، وتدعوه إلى أن يمن على الله بعلمه، وتخيل إليه نفسه أنه خير من كثير من عباد الله

Artinya, “Penuntut ilmu ketiga adalah orang yang kesetanan. Ia menjadikan ilmunya sebagai jalan untuk memperkaya diri, menyombongkan diri dengan kedudukan, dan membanggakan diri dengan banyaknya pengikut. Ia masuk terperosok ke banyak lubang tipu daya karena ilmunya itu dengan harapan hajat duniawinya terpenuhi. Ia di tengah kehinaan itu merasa dalam batinnya memiliki tempat mulai di sisi Allah karena ia bergaya dengan gaya ulama dan berpenampilan soal pakaian dan ucapan sebagaimana penampilan ulama di saat ia secara lahir dan batin menerkam dunia semata. Orang ini termasuk mereka yang celaka dan mereka yang dungu lagi terpedaya. Tiada harapan untuk pertobatannya karena ia sendiri merasa sebagai orang baik (muhsinin). Ia lalai atas firman Allah, ‘Wahai orang yang beriman, kenapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian lakukan?’ Ia termasuk orang yang dikatakan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya, ‘Ada sesuatu yang aku khawatirkan pada kalian daripada selain Dajjal.’ Para sahabat bertanya, ‘Apakah itu wahai utusan Allah?’ Nabi Muhammad SAW menjawab, ‘Ulama yang jahat.’ Kenapa demikian? Karena tujuan Dajjal hanya menyesatkan orang lain. Sedangkan ulama seperti ini sekalipun memalingkan orang lain daripada dunia melalui ucapan dan perkataannya, ia mengajak orang mencintai dunia melalui perbuatan dan perilaku kesehariannya. Sementara bahasa tubuh lebih efektif daripada bahasa verbal. Tabiat manusia menurut tabiatnya lebih cenderung membantu pada perbuatan dibanding mengikuti perkataan. Mafsadat yang ditimbulkan oleh perilaku ulama jahat yang terpedaya ini lebih banyak dibanding kemaslahatan yang ditimbulkan oleh perkataannya. Pasalnya, orang awam takkan nekat mencintai dunia tanpa sebab kenekatan dari ulamanya sehingga ilmunya menjadi sebab atas kenekatan hamba Allah yang lain dalam bermaksiat. Sementara nafsunya saat demikian mempermainkan dirinya, menghadirkan impian, memberi harapan, mendorongnya untuk mengungkit-ungkit atas ilmunya di sisi Allah, dan memberinya ilusi bahwa ia lebih baik daripada sekian banyaknya hamba Allah yang lain,” (Lihat Imam Al-Ghazali, Bidayatul Hidayah, [Indonesia: Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah, tanpa catatan tahun], halaman 7-8).

Dari keterangan ini, kita mendapatakan keterangan cukup jelas terkait ciri-ciri ulama su’ dalam konteks ilmu agama. Secara ringkat, kita dapat mengatakan bahwa ulama su’ adalah mereka yang tidak memiliki integritas pribadi dan tidak memiliki tanggung jawab intelektual. Ringkasnya, mereka yang memiliki niat duniawi dalam menuntut ilmu yang pada praktiknya adalah penyalahgunaan ilmu pengetahuan.

Kalau selama ini beredar bahwa ulama su’ adalah ulama yang mendekatkan diri kepada penguasa dan kekuasaan, itu jelas keliru. Pasalnya, agama tidak membatasi pergaulan ulama atau ilmuan. Artinya, mereka boleh bergaul dengan siapa saja.

Kalau selama ini beredar bahwa ulama su’ adalah ulama yang kaya, ini juga jelas keliru. Pasalnya, agama tidak membatasi ulama untuk hidup miskin atau sederhana. Ulama boleh memiliki rumah, pakaian, dan kendaraan yang bagus. Tidak ada masalah sampai di situ.

Kedudukan mereka sebagai ulama su’ atau ulama akhirat ditentukan oleh niat. Sementara niat adalah sesuatu yang ghaib sehingga keterangan perihal ciri-ciri ulama su’ ini tidak boleh digunakan menilai siapa saja di sekitar kita yang dipanggil ulama atau ustadz oleh masyarakat. Dan kita tidak bisa menghukumi niat seseorang.

Artinya, kita tidak boleh berburuk sangka (su’uzzhan) kepada para ulama. Buruk sangka kepada orang awam saja tidak boleh, apalagi kepada ulama. Pasalnya, menyakiti mereka sama saja memasukkan racun mematikan ke dalam tubuh kita.

Demikian jawaban singkat ini. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.



(Alhafiz Kurniawan)