NU: IDUL FITHRI 1439 H MENUNGGU HASIL RUKYAH KAMIS 14 JUNI 2018::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ketika Banser Dikucilkan, Habib Lutfi Angkat Derajatnya

Senin, 19 Februari 2018 08:15 Daerah

Bagikan

Ketika Banser Dikucilkan, Habib Lutfi Angkat Derajatnya
Kotawaringin Barat, NU Online
Gema shalawat di lapangan Sampuraga Pangkalan Bun Kotawaringin Barat (Kobar)  Kalimantan Tengah, Sabtu (17/2), nampaknya membawa cerita tersendiri bagi Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdhatul Ulama.

Pasalnya, panitia Kobar Bershalawat yang semula melibatkan Banser, ternyata pada rangkaian kegiatan tidak lagi disebutkan, termasuk saat penjemputan Maulana Al-Habib Muhammad Lutfi Bin Yahya maupun pelaksanaan kegiatan inti.
Meski demikian, mengingat Habib Lutfi adalah Panglima Besar Banser serta budaya warga NU adalah tawadu atau menghormati, maka tanpa diminta pun anggota Banser Kobar dan Lamandau segera menyesuaikan dan mengambil bagian pada pengawalan tersebut.

Sebagai wujud pengawalan dan kecintaan anggota Banser, saat Habib Lutfi memasuki lapangan Sampuraga sontak ratusan Banser segera memblokade jalan, guna mengatur perjalanan menuju panggung agar tidak terhalang para hadirin yang ingin bersalaman.

Seakan sudah menjadi kebiasaan, tanpa canggung apalagi kikuk, seluruh anggota Banser mengambil posisi masing-masing sesuai standar operasional prosedur (SOP). Mereka sudah terbiasa di lapangan, sesuai instruksi dari pimpinan untuk cepat tanggap.

Malam itu, usai mengawal Habib Lutfi di atas panggung, ada peristiwa yang tidak patut ditiru yakni saat Banser berjaga di samping panggung. Di sana ada kelompok jamaah lain yang menggunakan seragam merah mengusir anggota Banser yang sedang berjaga. Perlakuan tersebut sontak menyulut emosi anggota, namun akhirnya dapat dilerai dan terselesaikan dengan baik.

"Anggota kami diusir dari dalam pagar. Padahal untuk pengamanan panglimanya, mungkin mereka belum paham siapa Habib Lutfi. Mereka terlihat arogan dan itu sangat disayangkan, apalagi tujuan utamanya adalah bershalawat," beber A. Rozikin Z Kasatkorcab Banser kepada NU Online usai kejadian.

Bagi Banser, kata Rozikin, insiden tersebut dianggap hal lumrah. Apalagi dalam diri Banser sudah ditanamkan mental yang terlatih. Artinya, setiap anggota mampu mengatasi persoalan yang dihadapi dengan mengedepankan tabayun. Maka, imbuhnya, saat gema shalawat oleh Maulana Al-Habib Ali Zainal Abidin Assegaf dan tausiah dari Maulana Al-Habib Ahmad Al-Habsyi, semua personil Banser lebih memilih siaga di belakang panggung.

"Semua anggota Banser kami kondisikan siaga di belakang panggung. Karena kami tidak diberikan tempat oleh kelompok yang menamakan dirinya jamaah silaturrahmi. Mestinya dengan nama itu, akan lebih bisa menerima siapapun sesuai namanya, " ucap Rozikin sambil tersenyum.

Sekitar pukul 10 malam pada acara inti tausiah, tiba-tiba pembawa acara menyampaikan bahwa Habib Lutfi meminta kepada seluruh anggota Banser untuk naik di atas panggung. Khusus Banser diminta mengawal dan mendampingi ceramahnya.

Pengumuman itu rupanya membuat sekelompok jamaah lain yang sedari awal dinilai ingin terlihat tampil mewah di depan publik menjadi terkejut. Tanpa diminta lagi, mereka mulai turun dari panggung dan menjauh dari gelanggang shalawat.

"Suatu organisasi tidak perlu dipaksakan untuk tampil hebat di mata publik. Banser jalan sesuai rel saja, biar masyarakat yang memberikan penilaian. Kehormatan dan kehebatan itu urusan Allah SWT, " papar Rozikin. (Suhud/Ibnu Nawawi)