NU: IDUL FITHRI 1439 H MENUNGGU HASIL RUKYAH KAMIS 14 JUNI 2018::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Tahun Politik dan Isu PKI

Selasa, 20 Februari 2018 22:30 Opini

Bagikan

Tahun Politik dan Isu PKI
Oleh Muchamad Nabil Haroen
Mencermati perkembangan beberapa bulan terakhir ini, isu dan praktik kekerasan di negeri ini tengah menjadi perbincangan. Tentunya kita harus pandai, bijak, dan cerdas dalam mencerna segala informasi yang tengah berkembang.

Mengenai isu bangkitnya PKI (Partai Komunis Indonesia), isu semacam ini akan sering berembus pada tahun politik. Tahun politik ini menjadi ajang kontestasi gagasan, kekuatan, sekaligus isu-isu yang saling memengaruhi.

Mengapa? Karena sebagaimana kita tahu, bahwa isu ini sangat sensitif dan mudah menyulut emosi dan perasaan segenap lapisan bangsa ini. Kita semua sepakat bahwa PKI telah menjadi partai terlarang secara hukum dan sampai sekarang masih berlaku. 

Kalau saya ditanya, bagaimana jika PKI hidup kembali? Saya tentu akan dengan tegas menjawabnya, tidak. Namun, akan lain soal jika pertanyaannya adalah, bagaimana mengenai wacana/polemik bangkitnya PKI? Tentu jawabannya akan sangat panjang dan tidak mungkin saya tuangkan dalam renungan pendek ini. Sebuah jawaban yang paling sederhana adalah dulu tentara yang membasmi PKI, kalau sekarang PKI akan bangkit lagi, tentu tentara tidak akan tinggal diam. Kecuali jika tentara sudah tiada semuanya, bolehlah kita sedikit gusar atas isu bangkitnya PKI.

Saya sangat mencermati kejadian-kejadian mutakhir mengenai ancaman teror kepada para pemuka agama, terlebih pada para anutan kita: Kiai. Seringkali saya jumpai bahwa fakta dan isu yang dikembangkan melalui broadcast di sosial media tidaklah sama. Sebaran informasi yang tidak bertanggungjawab itu sudah dibumbui, ditambahi penyedap, supaya menjadi gorengan, murahan.

Kita seringkali terjebak pada sebuah broadcast. Kita terima dan langsung kita share, tanpa terlebih dahulu melakukan ricek, sehingga kita akan menjadi bagian yang tidak bertanggungjawab atas sebaran informasi yang telah secara tidak sengaja ikut kita kembangkan itu. Atas berita yang kita terima, jika kita tidak mampu melakukan ricek, akan lebih baik jika kita diamkan dan menunggu informasi valid dari pihak-pihak yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sebagai satu contoh, saya mengapresiasi langkah yang diambil oleh Pondok Pesantren Al Falah Ploso (Kediri) tempo hari. Begitu mendapati sesuatu yang mencurigakan, langsung diserahkan kepada pihak yang berwajib untuk diproses. Inilah karakter pesantren yang menjadi jati diri kita. Kejadian di Al Falah Ploso hampir saja menjadi isu besar yang tidak bertanggungjawab jika tidak segera diambil langkah antisipatif. 

Kalau bicara soal pembelaan kita terhadap kiai, tentu tidak perlu kita pertanyakan lagi. Semboyan kita adalah, "Bela Kiai Sampai Mati!" Artinya apa, kita tidak akan pernah mundur sejengkal pun ketika para kiai kita diteror, diancam, dan sederet perbuatan tidak pantas lainnya. Dalam membela kiai, kita tentu akan mematuhi aturan hukum yang berlaku. Bukan karakter kita untuk main hakim sendiri.

Disuruh atau tidak, diminta atau tidak, sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga para kiai kita. Apakah kita menjaga kiai karena kiai tidak mampu menjaga dirinya? Tidak! Mereka sudah tidak ambil pusing soal keamanan dirinya. Karena bagi mereka yang terpenting adalah bagaimana mengayomi dan menemani umat dan masyarakat dan kehidupan sehari-harinya. Dan soal menjaga kiai adalah bagian dari kewajiban kita sebagai Pagar NU dan Bangsa.

Oleh karenanya, mengapa saya serukan untuk selalu sowan (kunjungan silaturahim) kiai, karena banyak hal yang akan kita terima dari mereka. Tidak hanya menjaga energi, tapi juga sekaligus menjaga para kiai sepanjang waktu.

Kiai kita adalah para kiai yang selalu teduh dalam bersikap, ramah dalam ber-mu'asyarah, dan bijak dalam bertindak. Kiai mengajari kita bagaimana beretika dan bersopan santun. Kita juga belajar apa dan bagaimana arti penting tabayyun dari mereka. Pelajaran banyak dan dahsyat ini akan selalu kita temui dalam keseharian kiai, bukan hanya teori. Dan teror atau ancaman yang kini tengah terjadi adalah bagian kecil dari perjuangan kiai.

Akhirnya, saya mengajak semua pendekar untuk bergandeng tangan menjaga kiai kita dan merapatkan barisan kita. Secara berkala, kita harus berkoordinasi dengan pengurus NU dan aparat yang berwenang. Tujuannya untuk menjaga keamanan juga perlu peran serta masyarakat mewujudkan dan menciptakan rasa aman. Juga untuk menciptakan rasa aman, tidak perlu terlebih dahulu diciptakan rasa tidak aman.

Semoga Allah senantiasa meridlai segala langkah kita.
*
Penulis adalah Ketua Umum PP Pagar Nusa