NU: IDUL FITHRI 1439 H MENUNGGU HASIL RUKYAH KAMIS 14 JUNI 2018::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Anak Stunting Rentan Kena Penyakit Tidak Menular

Kamis, 22 Februari 2018 16:45 Nasional

Bagikan

Anak Stunting Rentan Kena Penyakit Tidak Menular
Jakarta, NU Online
Pimpinan Pusat Fatayat NU menggelar Diseminasi Program Kampanye Gizi Nasional Cegah Stunting, Kamis (22/2) di Gedung PBNU, Jakarta Pusat.

Pada kegiatan tersebut dijelaskan bagaimana kondisi anak stunting yang tidak mampu bersaing dengan anak seusianya. Selain itu, dampak dari stunting sendiri akan terlihat ketika anak berusia 18 tahun. Secara umum anak stunting akan rentan menderita PTM (penyakit tidak menular) dan obesitas di usia dewasanya. 

Disebutkan pula kasus stunting terus menjadi keprihatinan semua pihak karena 37% anak Indonesia mengalami stunting. Kondisi kekurangan gizi dalam jangka waktu yang lama menyebabkan anak gagal tumbuh kembang dan mengalami gangguan metabolisme. Akibat dari hal itu, anak stunting secara fisik dia lebih pendek dari anak seusianya, imunitas rendah sehingga gampang sakit dan memiliki IQ rendah pula.

Ketua Umum PP Fatayat NU Anggia Ermarini menyatakan keprihatinannya karena kita hidup di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi, namun tercatat ada 9 juta anak Indonesia yang mengalami kurang gizi kronis atau stunting.

“Bangsa ini kehilangan satu generasi (lost of generation) akibat stunting. Keluarga dan masyarakat mengalami kerugian besar. Anak stunting ini dampaknya luar biasa menjadi beban bagi negara terutama dari segi perekonomian,” imbuhnya. 

Secara detail Anggia menjelaskan bahwa anak stunting mengalami fase tidak baik pada setiap level perkembangannya. Ketika usia balita anak stunting badannya lebih kurus dan tumbuh kembangnya lebih lambat. Pada usia sekolah dia tumbuh lebih pendek dan karena IQ rendah jadi sulit bersaing atau berprestasi. Pada usia dewasa anak stunting memiliki potensi obesitas yang mana pada kondisi obesitas seseorang sangat rentan terhadap penyakit kronis. 

Jika kondisi anak stunting seperti itu maka negara akan terbebani dengan bengkaknya anggaran untuk kesehatan ditambah kualitas SDM yang rendah tidak akan mampu bersaing di pasar global. Secara tidak langsung kondisi stunting ini memang luar biasa mengancam. 

"Nah, kalau 9 juta anak Indonesia saat ini mengalami stunting berarti pada 15-20 tahun ke depan bangsa ini akan dipimpin oleh generasi yang kurang berkualitas," jelas Anggia. (Kendi Setiawan)