::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Fanatisme Pintu Masuk Setan Menguasai Manusia

Jumat, 02 Maret 2018 11:01 Nasional

Bagikan

Fanatisme Pintu Masuk Setan Menguasai Manusia
Jakarta, NU Online
Ada beberapa pintu masuk atau cara setan menggoda dan menguasai manusia. Salah satunya yaitu fanatisme atau sifat fanatik. Fanatisme yang dimaksud adalah fanatisme terhadap madzhab dan juga fanatisme atas ahwa (pendapat).

Penjelasan di atas disampaikan oleh Ulil Abshar Abdalla dalam pengajian bulanan 'Kopdar Ngaji Ihya' di Masjid An-Nahdlah PBNU, Kamis (1/3) malam.

"Madzhab ini maksudnya aliran di dalam fiqih, sedangkan ahwa yaitu pendapat atau teori dalam ranah teologi. Di dalam fiqih pun ada fiqih ihtiyathi yang galak (tegas, red) karena hati-hati,  dan ada juga fiqih taisiri yang lebih enteng, lebih santai," jelas Ulil sembari mengamati kitabnya.

Dari Kitab Ihya Ulumuddin karya filsuf Islam terkemuka Imam Al-Ghazali, Ulil memaparkan bahwa fanatisme atas madzhab dan pendapat itu bisa melahirkan sifat dengki atau iri hati kepada seseorang yang berbeda madzhab dan pendapat.

"Memandang (yang berbeda) dengan mata merendahkan serta mengejeknya," ucap Ulil.

Ulil mengungkapkan, fanatisme tersebut adalah kehancuran dan bisa menjangkiti baik ahli ibadah maupun seorang yang fasik.

"Orang yang nyinyir kepada orang lain dan sibuk menyebut-nyebut kekurangan orang lain sifatnya seperti binatang buas," ungkap menantu Gus Mus ini sembari mengatakan bahwa fanatisme dari dulu sampai sekarang sama.

"Imam Ghazali menulis kitab Ihya Ulumuddin saat muncul fanatisme pada zamannya. Dan sekarang fanatisme tetap ada. Meski konteksnya berbeda tapi secara substansi sama. Meski kitab ini ditulis seribu tahun yang lalu tetapi selalu relevan, karena kitab ini ditulis berdasarkan pada pengalaman spiritual Imam Ghazali sendiri," paparnya.

Usai pemaparan kitab Ihya, Ulil menambahkan bahwa bukan berarti orang yang bermazhab itu pasti fanatik, melainkan orang yang fanatik itu pasti bermazhab.

"Artinya tidak semuanya yang bermazhab itu fanatik. Justru ketika ada orang-orang yang menggalakkan anti mazhab, lalu mereka mendirikan mazhab baru di luar mazhab empat (Syafi'i, Hanafi, Hambali, Maliki), muncullah fanatisme," imbuh Ulil. (Wahyu Noerhadi/Fathoni)