::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Perjuangan KH Wahid Hasyim Lewat Karcis Cap ‘Ceker Ayam’

Sabtu, 03 Maret 2018 16:00 Fragmen

Bagikan

Perjuangan KH Wahid Hasyim Lewat Karcis Cap ‘Ceker Ayam’
KH A. Wahid Hasyim. (Dok. NU Online)
Ente jangan lupa, Nabi kita Muhammad SAW pernah mengatakan, Al-Harbu Khid’ah, bahwa peperangan selamanya penuh dengan tipu muslihat.” (Guruku Orang-orang dari Pesantren, LKiS, 2001)

Pernyataan tersebut dikatakan oleh KH Ahmad Wahid Hasyim (1914-1953) ketika membincang strategi perjuangan menghadapi penjajah Nippon atau Jepang dengan Konsul Nahdlatul Ulama wilayah Kedu, KH Saifuddin Zuhri pada tahun 1943.

Al-Harbu Khid’ah diungkapkan oleh Kiai Wahid karena bangsa Indonesia saat itu dalam kondisi peperangan melawan penjajah. Kondisi ini diperhatikan betul oleh para kiai pesantren untuk membebaskan rakyat Indonesia dari kungkungan kolonialisme, bukan tipu muslihat dalam artian negatif.

Dalam obrolan ringan ditemani seduhan teh hangat di tengah panasnya peperangan, Kiai Wahid Hasyim mengeluarkan sebuah tas dan memberikan isinya kepada Kiai Zuhri. Awalnya Kiai Saifuddin Zuhri terheran dengan sesuatu yang dibungkus oleh plastik tersebut dan diberikan kepadanya.

Setiap kali dipanggil Kiai Wahid di kediamannya, Kiai Zuhri memang dipersiapkan menerima komando. Tidak jarang Kiai Zuhri harus berkeliling mengunjungi tokoh-tokoh kiai dan pemuda di Karesidenan Kedu (Purworejo, Temanggung, Wonosobo, Kebumen, Kabupaten dan Kota Magelang) untuk menyampaikan pesan perjuangan Kiai Wahid Hasyim.

Kiai Saifuddin Zuhri sendiri berasal dari Sokaraja, Banyumas. Di wilayah ini, Kiai Zuhri pernah memimpin pemuda Ansor Nahdlatul Ulama. Jadi, Kiai Wahid mennilai, peran perjuangan Kiai Zuhri cukup luas. Di samping punya komando di Karesidenan Kedu, ia juga punya jaringan luas di Karesidenan Banyumas (Cilacap, Banjarngera, Banyumas, dan Purbalingga).

Setelah isi plastik itu dibuka, Kiai Wahid Hasyim berkata, “Ini, saudara bagi-bagikan kepada teman-teman yang bisa membantu tugas-tugas perjuangan.”

“Apa ini?” kata Kiai Saifuddin Zuhri sambil di amat-amati. Isinya setumpuk kartu ukuran lebih kecil daripada kartu pos.

“Karcis cap ceker! Itu vrijkaart, karcis kereta api cuma-Cuma sebanyak 30 helai. Bisa dibagikan untuk teman-teman yang membantu perjuangan kita,” jawab Kiai Wahid.

Kok cap ceker?” tanya Kiai Zuhri masih belum mengerti.

“Iya, sebab ada stempel dari pembesar Jepang dengan huruf-huruf Jepang yang seperti ceker ayam itu,” jelas Kiai Wahid.

“Karcis itu berlaku untuk kereta api ekspres kelas 1 untuk seluruh Jawa dan Madura,” sambungnya.

“Dapat dari mana,” Kiai Zuhri masih terheran-heran.

“Jangan ditanya. Ingat, Al-Harbu Khid’ah,” tegas Kiai Wahid Hasyim.

Serdadu Nippon ikut ngakak

Menghadapi penjajah Jepang, jurus serupa juga dilakukan para kiai saat mendampingi penggembengan Laskar Hizbullah. Saat itu Pusat latihan Hizbullah di Cibarusa itu dikeola oleh Markas Tertinggi Hizbullah yang dipimpin oleh Zainul Arifin.

Sebagai sebuah strategi perang, latihan ini perlu dilakukan oleh sebanyak-banyaknya pemuda. Namun, disayangkan latihan Hizbullah ini diselenggarakan secara minim sekali. (Berangkat dari Pesantren, LKiS, 2013)

Kondisi ini menjadi perhatian serius KH Wahid Hasyim sebagai penanggung jawab politik dalam Laskar Hizbullah. “Kita dikejar waktu. Nippon sebenarnya mencurigai tujuan Hizbullah. Yang menyetujui Hizbullah kan Cuma kita,” ucap Kiai Wahid mengemukakan kegelisahannya.

Tetapi, ayah dari KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini tidak mau ketinggalan kereta. Walau bagaimana pun, perjuangan kemerdekaan harus dipersiapkan, baik kekuatan militernya, di samping kekuatan politiknya. 

Kekuatan politik yang dimaksud ialah politik kenegaraan yang berkepentingan memerdekakan Indonesia dari kungkungan penjajah. Langkah ini membutuhkan ongkos yang tidak sedikit.

Kegundahan Kiai Wahid tersebut mendapat siraman petunjuk dari KH Abdul Wahab Chasbullah. Kiai Wahab menilai, para kiai dan pemimpin laskar jangan hanya melihat dari ukuran lahir. Karena menurutnya, belum tentu jika disediakan biaya besar akan berdampak pada hasil yang maksimal. 

“Bia menderita asal penggemblengan jiwanya hebat seperti pemuda-pemuda Ashabul Kahfi, hasil akhir yang maksimal bisa tercapai juga,” tutur Kiai Wahab memberi masukan.

Bicara tentang Ashabul Kahfi, sebenarnya berapakah jumlah pemuda-pemuda itu persisnya?” tanya KH Mukhtar, salah satu anggota di bawah kepemimpinan Zainul Arifin.

“Al-Qur’an sendiri dengan tegas mengatakan, yang tahu jumlah persisnya hanyalah Allah. Kita tidak usah berselisih mengenai berapa sebenarnya jumlah pemuda-pemuda Ashabul Kahfi itu,” jawab Kiai Wahab.

“Dalam Al-Qur’an Cuma disebut bertiga. Adapun yang keempatnya adalah anjing mereka. Roobi’uhum kalbuhum,” Kiai Wahab melanjutkan.

“Tapi ada yang mengatakan mereka berlima yang keenamnya adalah anjing, saadisuhum kalbuhum,” sela KH Farid Ma’ruf, anggota lainnya.

“Ada lagi yang mengatakan Ashabul Kahfi itu tujuh orang, yang kedelapan adalah anjing mereka. Wa tsaaminuhum kalbuhum,” kali ini Kiai Wahid Hasyim menimpali.

Di tengah diskusi mereka perihal jumlah pemuda Ashabul Kahfi, tetiba masuklah seorang Nippon berseragam Sersan Mayor, Sidokan, salah satu pelatih Hizbullah. Kedatangannya sekonyong-konyong tanpa diperkiarakan sebelumnya. Tentu saja menjadi sebuah kejutan tersendiri bagi para kiai.

Namun, Kiai Wahab bereaksi secara cepat dengan datangnya tentara Nippon tersebut. Dengan nyaringnya ia mengatakan: “Wa taasi’uhum...qirduhum” (yang kesembilan adalah...monyet mereka).

Seketika meledaklah gelak tawa serentak. Orang Nippon tersebut juga ikut ngakak meskipun dia sama sekali tidak tahu apa yang dimaksud Kiai Wahab kepadanya. (Fathoni Ahmad)