::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Ijazah Kiai Baedlowie Syamsuri saat Istri Hilang

Ahad, 04 Maret 2018 18:30 Hikmah

Bagikan

Ijazah Kiai Baedlowie Syamsuri saat Istri Hilang
(Dari kiri) KH Mahrus Ali, KH Arwani Amin, dan KH Baedlowie Syamsuri
Saat musim haji tahun 2006 silam. Ada sepasang suami-istri yang sedang khusyuk berdoa di pelataran Masjidil Haram. Saking khusyuknya, ia tak menghiraukan apa pun yang terjadi di sekitarnya dan bagaimana kondisi saat itu juga.

Sang suami terutama, terlihat sangat konsentrasi menikmati momen bermunajat kepada Allah subhânahu wata‘âlâ. Sambil menengadah tangan dan menutup rapat kedua bola mata, laki-laki itu berkomat-kamit merapalkan untain harapannya.

Betapa kagetnya ia saat selesai bermunajat dan kembali membuka matanya. Sang istri yang sangat  ia cintai, mendadak hilang dari pengamatannya. Pandangannya semakin terbatas karena berjubel dengan lalu lalang jamaah dari seluruh dunia. Ia begitu bingung. Gelisah nan gundah gulana begitu menyelubung dalam relung hatinya. Maklum, manusia manakah yang tidak akan gelisah ketika seseorang yang dicinta tiba-tiba menghilang entah ke mana.

Ia bergegas melangkah gontai berbalik arah menuju maktab penginapannya. Di tengah perjalanan, nalurinya memberikan isyarat untuk meminta pertolongan kepada seorang kiai yang juga satu daerah dengannya. Ya, itu adalah Kiai Ahmad Baedlowi Syamsuri, putra keempat dari pendiri Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, Kiai Syamsuri Dahlan.

"Yai, tolong saya. Saya kehilangan  istri," adu suami tersebut pada Kiai Baidlowie

Setelah mendengar bagaimana kronologi hilangnya sang istri dengan seksama. Kiai Baidlowie lantas memberikan ijazah:

وَاللهُ مُخْرِجٌ مَّا كُنْتُمْ تَكْتُمُوْنَ

…Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan." (QS al-Baqarah: 72)

"Sekarang kembalilah ke Masjidil Haram. Selama di perjalanan, ayat itu bacalah berulang-ulang. Dibuat dzikiran. Sesampainya di sana laksanakanlah shalat hajat,"  jelas Kiai Baidlowie.

Dengan penuh harap, bapak itu kemudian kembali menuju Masjidil Haram sembari merapalkan ijazah dari Kiai Baidlowie. Sesekali, matanya menelisik meraba pemandangan kerumunan manusia yang sedang melakukan ibadah haji. Dengan harapan, mungkin saja ia bisa menemukan bayangan istri tercintanya di antara jutaan orang tersebut.

Dan benar, ia berhasil menemukan istrinya di pelataran Masjidil Haram. Betapa bahagianya ia. Pasangan pasutri ini kemudian bergegas menuju ke maktab kiai guna mengucapkan terima kasih dan meluapkan kebahagiaannya.

Kiai Baidlowie terlihat juga ikut senang atas kejadian tersebut. Namun sebelum beranjak pamit, sang kiai lantas berujar:

"Oh ya, lha tadi juga sudah shalat hajat?" selidik Kiai.

"Ehm... Ya tidaklah kiai. Saya tidak jadi shalat hajat. Kan, hajat saya sudah terkabul. Istri saya sudah ketemu."

Sontak mereka semua tertawa begitu lepasnya mendengar jawaban lugu dari bapak-bapak yang sempat kehilangan istri itu. (Ulin Nuha Karim)