::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Sepilihan Puisi

Ahad, 04 Maret 2018 20:45 Puisi

Bagikan

Sepilihan Puisi
Ilustrasi (fineartamerica.com)
Oleh Syihabul Hajj

Purgatori

Setelah Dante mengemas
Wajah di topeng porselen dan
Tubuh digelandang ke
Pejagalan, malaikat serupa
Murung

Sebab senandung sang pecinta
Telah punah di surga Ilahi

dosanya bagi manusia: cinta
kutuk baginya: kemartiran

seumpama wadag suwung
ruh membubung ke
adiluhung

bawa serta sekian kealpaan
manusia, dalam isyarat
silap

di surga esensi, senandung
Dante nyanyian kehadiran
Sementara malaikat tahniah

Ada Hafiz, Farid, Sa’di, Rumi
Attar, Hallaj serta Nizami
Berjubah syair
Bermahkotakan cinta
Singgasana rindu
Pepilar Iman

Dan bumi bungkam
Sesaat setelah majnun kini nganga
Dari pepatah, sebab kini tubuh
Tak lain daripada prosesi purgatori

Namun, tersebab cinta
Sekental darah, semerah tanah
Maka abu dari jasad pecinta
Serupa saja kesturinya
Serupa saja auradnya

Al-Haqq
Al-Haqq
Al-Haqq

/2017/



Doa sabat

Puan,
Sabankali biduk kukayuh
Dirimulah yang goyah

Kiranya mafhum,
Kita arungi jeram curam
Tak sekalem danau

Mungkin memang entah kapan
Sampai ke bibir pantai

Sebelum semua sirna dirayu badai
Dibuai kealpaan masingmasing kita

Moga kemarau tak datang
Tenung air jadi batu, jadi pasir
Kecuali kita Baudolino
Siasati sungai pasir berbatu

Di sabat yang sunyat
Oleh minggu yang libur

Atau biduk musti kita usung
Ke terjal karang pesisir
Sampai jumpa air

Namun kau tahu kedaifanku
Sebab telah aus tubuh ini
Jadi biduk itu sendiri, dan
Renta panjati julur urat
Di rekah jemari yang dayung

Sampai tinggal jadi kayuh
Tempuh saban tak mungkin

Puan,
Tak usah lagi kupepatahkan
Sabar di kupingmungilmu
Sebab ia telah disuwungkan
Tabah, oleh waktu dan geming
Meski syak sesekali mampir
Menampar bagai debu jeram

Tapi bukankah kita telah lebih dulu
Tangkas tampik masygul dan
Memutuskan arus terjal ini
Tak lain sebagai tungku dan lelucon

Sebelum semuanya sirna
Dan kau tergeletak di biduk
Rela dibawa arus ke muara

/2017/


Geometri Ilahi

Tak ada sabda
Sepurba Ada

Sebelum La menafikan
Liyan tuhan
Ia singularitas
Tak bersyarat

Bahkan oleh
Sabda

Tibatiba Ahad
Terniscayakan
diriNya sendiri

:titimangsa bermula

Seumpama cahaya
Tanpa lentera
 Api tak bersuluh

Ia sebabkan diriNya
Sendiri sejak
1 tak bisa dihitung:
Sebab Ia Mulamula

Sebagaimana sehabis
9 manifestasi
Ia rentang geometri
Ke tubir diriNya sendiri
Demi 0 yang pejal

:yang tanpa sudut
Tak bisa menepi
Atau sembunyi

Ia tampak dalam
Keterserakan
Namun sembunyi
Sesunyi
1 yang Alif

Sementara 0
Jadi noktah bagi Ba’
Di bahtera mahagaib

Maka, siapa pergi
Ke magrib, ke mayriq
Ke 8 arah mataangin
Tak pernah beranjak

Selain bergerak
Dari pusat
Ke pusat

Sebab bagaimana
Yang terbatas
Mengeja keseluruhan
Geometri Ilahi
Selain dengan
Keterbatabataan

Dan akbarlah Ia
Dari segala nama

Suci dari syak
Serta prasangka
Manusia

/2018/


Spektrum Bulan

Di hening puncak
Tak kupanjatkan
Apaapa
Selain tubuh
Koyak digerus
Tangga iman
Dan kesaksian
Dan gunting "la"
Yang tumpul
Rompal oleh karang
Dadaku, batu
Kepalaku
Sementara altar
Hatiku laron
Yang rindu
Jadi lelatu
Cahayamu
Adakah ia percik
Api di ujung malam
Atau
Jelaga kelambu
Wajahwajah muram
Durjana dilegamkan
Belanga hatinya
Kini tak sudah gema
Robek jala takdir
Sebab ikan tak lagi
Milik batin sungai
Batu terjal
Pendakian,
Adakah hendak sudah
Seumpama aku sampai
Di garba "illa Allah"
Sebab konon
Buih laut tak pernah
Tinta, selain bagi
Titimangsa
Yang Tak Terbahasakan

/2018/


Sfera Bintang Fajar

Laut surut
Seturut bulan
Tenggelam di
Ufuk subuh

Basuh bashirah
Dari tatap
Kalap orang kalah
Ditelan paginya sendiri
Zarah embun

Beranjak jadi
Butir tasbih
Subhanallah
Di tepi langit
Ke 100

Sauh subuh
Di rimba pagi
Dijelang penjelajah
Malam
Bertenda bintang
Berterompah sabit bulan

Mahkota lazuli
Bimasakti
Kubah geometri
Di bentang aflak
Syuhudul katsrah
Memancar dari
Keningnya
Yang atsar
Tasbih sir
Munajat
Khafi

Sebab bagi majdub
Syariat seumpama
Tapalbatas
Ke negeri tak berbatas
Amsal mikraj
Sayap buraq
Kalbarqilkhatif
Sampai di
Allah

Surga Esensi
Esensi Surga
Nubuwat salat
Gerbang syahadat
Payapaya tubuh
Lindap daging
Licin syahwat
Illat bagi
Turun
Ayat

Tangkap
Sabda oleh
Dada serta kepala
Sebab cahaya
Pinta piala
Cawan kalbumu
Nyala Intelek
Tatap mantap
Al-Haqq

Sebab ufuk
Boleh subuh
Boleh siang
Bisa sore
Bisa malam
Berwarna atau bias
Cahaya atau gelap
Selama Al-Haqq
Selamanya Al-Haqq
Di atas Al-Haqq
Di bawah Al-Haqq
Di depan Al-Haqq
Di belakang Al-Haqq
Realitas Al-Haqq
Indra Al-Haqq
Sarwaindra Al-Haqq
Dikuduskanlah
Al-Haqq oleh Al-Haqq

Urat-urat waqaf
Di mushaf Utsmani itu
Bukan arah bagi sudah
Melainkan istirah
Dari tirakat dan kasab
Dari perjalanan panjang
Sebab bukankah
Seluruhnya bermuara

Di nadi
Manusia
Paripurna

Al-Insan
Al-Kamil

Al-Haqq
Al-Haqq
Al-Haqq

/2018/


Syihabul Furqon (Syihabul Hajj) lahir di Sumedang 6 Maret 1992, merupakan alumnus Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung (2013) dan Program Pasca Sarjana UIN Bandung prodi Religious Studies (2016). Bergiat di komunitas Verstehn sekaligus mengampu Verstehn: Jurnal Gumam dan Memoar (2010-2016). Memprakarsai S[OUR]CE: Stream Of Consciousness Reading Club untuk santri dan taman baca (2015-2017). Aktif di  FAS Bandung (Forum Alternatif  Sastra) dan HHM (Haji Hasan Mustapa Society). Sekarang menangani jurnal Scientia Sacra. Kini ia tinggal di Lingga Buana: Pondok Pesantren Al-Ma’aarij, Darmaraja-Sumedang, sambil mengurus Perpustakaan Al-Khawarizmi. Sesekali mengisi perkuliahan dan memediasi sejumlah perbincangan di sekitar kampus UIN SGD Bandung. Bisa ditemui di akun sosial media fb: Syihabul Furqon, surel: syihabulhajj2@gmail.com.