::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Saat Allah Tertawa

Senin, 05 Maret 2018 15:00 Humor

Bagikan

Saat Allah Tertawa
Tidak hanya manusia, ada beberapa riwayat yang menceritakan bahwa Allah pun tertawa. Namun, yang pasti tertawanya Allah tidak sama dengan tertawanya makhluknya. Salah satu cerita tentang Allah tertawa adalah dikisahkan oleh sahabat Anas bin Malik sebagaimana yang termaktub dalam buku Tertawa Bersama Al-Qur’an, Menangis Bersama Al-Qur’an karya Hasan Tasdelen. 

Suatu ketika Nabi Muhammad saw. menyampaikan pengajian di hadapan para sahabatnya. Pada saat itu, ia mengulas ayat 65 Surat Yasin (Pada hari ini kami tutup mulut mereka). Tiba-tiba saja ia tertawa hingga gigi gerahamnya terlihat. 
Melihat hal tersebut, para sahabat yang ikut kajian tersebut menjadi penasaran dan bertanya langsung kepada Nabi Muhammad saw. tentang ihwal yang membuatnya tertawa.  

Lalu kemudian, Nabi Muhammad saw. menjelaskan mengapa ia sampai tertawa ketika mengulas ayat tersebut. 

“Aku tertawa karena Allah yang Maha Penyayang tertawa ketika ada seorang hamba yang mendebat-Nya,” kata Nabi Muhammad menjawab sahabatnya sembari memberikan penjelasan tentang isi dari ayat 65 Surat Yasin tersebut.

Rasulullah menceritakan bahwa hamba tersebut ‘meragukan’ keputusan Allah. Ia mempertanyakan ulang apakah Allah telah benar-benar memutuskan untuk mengazabnya. 

“Aku telah memutuskannya,” tegas Allah. 

Mendengar jawaban itu, hamba tersebut balik ‘menantang’ Allah. Ia mengajukan banding dan menginginkan saksi dari dirinya sendiri untuk membuktikan kesalahan-kesalahannya. Allah menyetujui hal itu dan berkata ‘Cukuplah dirimu sebagai saksi hari ini.’

Selanjutnya, Allah menutup mulut hamba tersebut dan membiarkan organ tubuh hamba-Nya tersebut untuk memberikan kesaksian. Satu persatu organ tubuh hamba tersebut memberikan kesaksian akan tindak perbuatan yang dilakukan selama hidup di dunia. 

Setelah organ-organ tubuhnya memberikan kesaksian, hamba tersebut diberi kesempatan untuk berbicara. Sontak saja hamba tersebut mengumpat organ-organ tubuhnya sendiri. Mulanya, ia berpikir organ-organ tersebut akan memberikan kesaksian sesuai dengan apa yang dikatakan mulutnya. Namun ternyata tidak, karena organ-organ tersebut memberikan kesaksian dengan sejujur-jujurnya.

“Sungguh memalukan! Menjauhlah dariku! Kupikir kalian akan membela ku, tetapi kalian malah menjerumuskan ku,” umpat hamba tersebut.

Selain itu, Allah juga tertawa dengan kisah Abu Thalhah yang memuliakan tamu Nabi Muhammad saw. 

Suatu hari ada seorang yang sangat miskin mendatangi Nabi Muhammad saw. Lalu, Nabi Muhammad saw. mengajak orang tersebut ke rumah salah satu istrinya dengan tujuan agar bisa menjamunya. Namun ternyata, istrinya tersebut tidak memiliki makanan untuk dihidangkan.

Mengetahui hal itu, Nabi Muhammad saw. mengajak orang miskin tersebut ke rumah sahabat-sahabatnya sehingga orang tersebut mendapatkan jamuan. 

“Siapa yang mau memuliakan tamuku ini, maka balasannya surga,” kata Nabi Muhammad kepada sahabat-sahabatnya.

Dengan cepat, Abu Thalhah menerima tawaran Nabi Muhammad saw. tersebut. Yang ada dipikirannya adalah memuliakan tamu Rasul Allah tersebut. Tak terbersit sama sekali kalau pada hari itu ia tidak memiliki makanan banyak.

“Kita tidak punya makanan malam ini, kecuali untuk si kecil anak kita!” kata sang istri kepada Abu Thalhah ketika sahabat nabi itu meminta istrinya untuk menjamu tamu tersebut.

Abu Thalhah tidak kehabisan akal. Ia meminta istrinya untuk tetap menghidangkan makanan tersebut untuk tamu. Di samping itu, ia meminta istrinya untuk menidurkan anaknya. Untuk ‘mengelabuhi’ tamunya tersebut sehingga tamu tersebut nyaman memakannya, maka istri Abu Thalhah mematikan lampu penerang. Maklum, makanan yang dihidangkan hanya cukup untuk satu orang, di meja tersebut hanya sang tamu yang makan sementara yang lain tidak. 

Pada esok harinya, Abu Thalhah menemui Nabi Muhammad saw. dengan senyuman. Lalu kemudian, Nabi Muhammad bersabda; Allah tertawa (ridla) dengan yang kalian lakukan berdua (Abu Thalhah dan istri) tadi malam. (A Muchlishon Rochmat)