NU: IDUL FITHRI 1439 H MENUNGGU HASIL RUKYAH KAMIS 14 JUNI 2018::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kiai Said: Timur Tengah Pecah karena Medsos

Rabu, 07 Maret 2018 04:00 Nasional

Bagikan

Kiai Said: Timur Tengah Pecah karena Medsos
Jakarta, NU Online
Saat Orde Baru, rakyat Indonesia sama sekali tidak bisa bergerak sedikit pun. Namun, begitu masuk era reformasi dengan dibarengi derasnya arus teknologi informasi, semua orang menjadi bebas berbuat apa pun.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj pada sambutan Istighotsah dan Diskusi Politik dan Cyber Menuju Medsosul Karimah, di Masjid An-Nahdlah, Gedung PBNU, Jl Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, Selasa (6/3) malam.

"Istighotsah itu memohon pertolongan kepada Allah dengan berjamaah. Kalau sendirian, namanya munajah. Nah, malam ini istimewa karena ada diskusi tentang politik. Kita sekarang memasuki era reformasi, kebebasan dijamin," ungkapnya.

Kiai asal Cirebon ini mengatakan bahwa peristiwa Arab Spring dimulai dari Tunisia. Di sana, ada seorang yang hidupnya sangat miskin berpidato di depan kantor parlemen. Sayangnya, tidak ada yang menggubris.

"Akhirnya dia ambil bensin dan membakar diri. Nah, dari situ mulai-lah digerakkan demonstrasi atau unjuk rasa besar-besaran melalui media sosial. Singkat cerita, Presiden Zainal Abidin bin Ali berhasil digulingkan," katanya.

Merambah ke Mesir. Kiai Sa'id mengungkapkan bahwa tergulingnya Husni Mubarok yang berkuasa selama 30 tahun juga diawali dari gerakan yang dilakukan melalui media sosial. Banyak korban berjatuhan, besar kerugian yang dialami.

"Di Libya pun demikian. Presiden Muammar Khadafi tertembak di gorong-gorong. Itu karena medsos tuh. Kemudian, Suriah sampai sekarang. Nah, Bashar Assad itu di-back up Rusia. Kalau dia terguling, habislah pengaruh Rusia di Timur Tengah," katanya.

Akhirnya, lanjut Pengasuh Pesantren Al-Tsaqafah Jakarta itu, di sana terjadi tumpang-tindih kepentingan. Ada Wahabi, antek Barat, dan ISIS, sehingga, ada banyak asumsi soal peperangan yang terjadi di sana. 

"Parahnya, seorang ulama Sa'id Ramadhan Al-Bouthi tewas karena dibom saat sedang mengajar tafsir di Masjid," katanya.

Terkait ISIS, ia mengungkapkan bahwa pada mulanya kaum ekstremis itu didukung Amerika Serikat (AS) untuk menakut-nakuti Iran. Namun, karena saat ini ISIS mulai meneror siapa saja, termasuk AS,negeri Paman Sam itu juga serius menghabisi ISIS.

"Nah, tempat yang paling aman dan nyaman untuk ISIS bersembunyi ya hanya di Indonesia. Di sini banyak orang yang menyambut baik ISIS. Heran saya," katanya.

Ia berharap agar kegiatan yang dilakukan Pagar Nusa mampu memberi dampak positif bagi negeri.

"Semoga, malam ini mampu mengurangi adu-domba di media sosial di negeri ini yang berpotensi untuk memecah-belah anak bangsa," pungkasnya.

Usai sambutan, Kiai Sa'id menuntun seorang Kristiani bernama Richard Jonathan bersyahadat. Diskusi diawali dengan Istighosah yang dipimpin oleh Wakil Rais Aam KH Miftachul Akhyar.

Hadir pula Wakil Ketua Umum PBNU Mochammad Maksum Machfoedz, Duta Pagar Nusa Sabrang Mowo Damar Panuluh, Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Restu Mulya Budyanto, Wakil Sekretaris PBNU Suwadi Damartyas Pranoto, dan Praktisi Bahtsul Masail M Asnawi Ridlwan. (Aru Elgete/Kendi Setiawan)