NU: IDUL FITHRI 1439 H MENUNGGU HASIL RUKYAH KAMIS 14 JUNI 2018::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Muallaf dari Jepang Kisahkan Sejarahnya Masuk Islam

Jumat, 09 Maret 2018 00:00 Internasional

Bagikan

Muallaf dari Jepang Kisahkan Sejarahnya Masuk Islam
Tokyo, NU Online
Masa depan adalah misteri. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok pada kehidupan manusia. Begitu juga ketika hidayah datang  menghampiri seseorang, tidak ada yang akan bisa menghalanginya walaupun berlangsung singkat dan diluar akal manusia.

Inilah yang terjadi pada kehidupan seorang muallaf asal Negeri Sakura, Jepang. Awal sejarah yang mengubah drastis kehidupan pria Jepang ini dikisahkannya saat bertemu dengan salah satu Pengurus Lembaga Dakwah NU KH Muhammad Nur Hayid di Masjid Al Ikhlas Kabukicho The Red Light Distrik, Tokyo, Rabu (7/3).

Namanya Iwai San yang bernama Muslim, Abdul Malik. Ia adalah seorang muallaf dari Negeri Sakura, Jepang. Ia masuk Islam ketika membaca Injil dan tiba-tiba terdengar suara dari langit, "Bukalah Al-Qur'an, Muhammad Rasul akhir zaman." Suara itu memerintahkannya untuk membaca Al-Qur'an karena ia akan mendapatkan penjelasan lebih tentang siapa itu Muhammad.

Begitulah kurang lebih pesan suara tanpa rupa itu saat ia masih menganut agama nasrani. Ia pun langsung bergegas ke toko buku untuk mencari Al-Qur'an. Dan atas izin Allah ia langsung mendapatkan informasi tentang Nabi Muhammad. Melalui terjemah ayat Al-Qur'an yang didapatkan, akhirnya ia mengetahui bahwa Muhammad adalah rasul akhir zaman melalui ayat "min bakdismuhu Ahmad".

Pria yang saat ini menjadi Mursyid Thoriqoh Qodiriyah dan pengikut Khalwat Rofiiyyah ini semakin yakin dengan suara dari langit itu. Merasakan kelelahan, ia pun tertidur dan bermimpi ditemui orang yang gagah tinggi dan tampan di dalam taman surga. 

Dalam mimpinya diketahui bahwa lelaki tersebut adalah Sayyidina Umar bin Khattab. Tak ada obrolan dalam pertemuan itu. Sayyidina Umar hanya tersenyum bahagia kepada Iwai San. 

Mimpi serupa yang membuatnya semakin yakin dengan Islam juga ia alami kembali saat bertemu dengan Ja'far Attayyar atau Ja'far bin Abi Thalib seorang syuhada perang Mu'tah di Timur Jordania, dimana 3 ribu pasukan muslim berperang melawan 200 ribu pasukan Nasrani pimpinan kaisar dan panglima Heraclius. Hanya ada senyuman dalam mimpi itu. Tak ada dialog antara Iwai San dengan Ja'far bin Abi Thalib.

Setelah mengalami dua mimpi yang serupa ini,  Iwai San yang masih nampak di telinganya bekas tindik anting inipun bergegas mandi dan berangkat menuju Masjid Kobe yang sangat jauh dari rumahnya saat itu. 

Di masjid inilah Iwai San mengucapkan dua kalimat syahadat 20 tahun yang lalu dan langsung belajar serta menekuni Islam dengan melaksanakan ibadah seperti shalat dan puasa bulan Ramadhan.

Untuk lebih memperdalam pengetahuannya tentang Islam, setelah Ramadhan, ia pergi ke Suriah selama 10 tahun. Ia pun belajar pada guru-guru  aswaja dan ikut tariqah qadiriyyah dan ikut praktik kholwat syekh Ahmad Rofii atau tariqah Rofiiyah. 

Setelah 10 tahun 'mondok' di Suriah, dia pun kembali ke Jepang dan menjadi penyebar Islam di Jepang. Cara dia berdakwah setelah pulang dari Suriah adalah dengan membuat selebaran penjelasan Islam dan ajakan mengucapkan kalimah syahadat. 

Dia mengaku sudah menyebarkan selebaran itu kurang lebih 5 juta lembar di berbagai kantor, terminal dan tempat umum lainnya. Dia sudah berusaha berdakwah dengan cara itu, sehingga dia tidak tahu berapa banyak yang sudah masuk Islam dari efek selebaran itu. Namun ia mengungkapkan yang langsung bersyahadat di hadapannya kurang lebih 10 sampai dengan 20 orang. 

Untuk lebih memperdalam lagi keilmuan tentang Islam, kini ia ingin belajar kembali tentang hadits di Indonesia dan ingin mengenal NU lebih jauh dengan mondok di Indonesia. 

Ketika KH Muhammad Nurhayid yang akrab disapa Gus Hayid menjelaskan soal NU yang ikut madzhab 4 dalam Fiqh, ikut Asy'ariyah dan Al Maturidiyah dalam ilmu kalam dan ikut Imam Ghozali dan Junaid Al Baghdadi dalam tasawuf, Iwai San langsung ingin gabung dengan NU. 

"Apalagi saat saya jelaskan soal dalil-dalil dziikir habis shalat yang dilakukan secara jahr di Masjid Al Ikhlas Kabukicho yang merupakan masjid markasnya warga Nahdliyin di Jepang, dia makin semangat untuk gabung dengan NU. Singkat cerita dia senang dengan kajian NU dan amaliyahnya. Dan kini dia suka sambang ke Masjid Kabukicho yang ada di pusat areal hiburan komplitnya Tokyo Jepang. Yaitu kawasan red light distrik. Semoga ikhtiar menyebarkan Islam rahmatan lil alamin di tengah penyebaran islam yang keras dan suka mengumbar bid'ah ini diridloi Allah SWT," pungkasnya. (Red: Muhammad Faizin)