NU: IDUL FITHRI 1439 H MENUNGGU HASIL RUKYAH KAMIS 14 JUNI 2018::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Hadapi Seabad NU, Rais Aam Minta Perkuat Empat Hal Ini

Jumat, 09 Maret 2018 08:00 Nasional

Bagikan

Hadapi Seabad NU, Rais Aam Minta Perkuat Empat Hal Ini
Lampung Tengah, NU Online
Saat memberikan tausiyah kebangsaan pada Konferwil ke-10 PWNU Provinsi Lampung di Pondok Pesantren Darussaadah Lampung Tengah, Kamis (8/3), Rais 'Aam PBNU KH Ma'ruf Amin mengingatkan bahwa dalam waktu yang tidak lama lagi Jamiyah NU akan memasuki usianya yang ke-100 tahun.

Menghadapi era tersebut, Kiai Ma'ruf mengajak seluruh Jamaah NU untuk memperkokoh pondasi atau landasan sehingga Jamiyah NU akan benar-benar kuat.

Dalam rangka penguatan Jamiyah, Ketua Umum MUI ini mengingatkan 4 hal yang harus difokuskan untuk dilakukan sebagai penguatan oleh NU. Empat hal tersebut meliputi penguatan di bidang dakwah, pendidikan, kesehatan dan ekonomi.

Penguatan di bidang dakwah ditujukan  untuk penguatan dan pengamalan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah dan Fikrah Nahdliyyah. Hal ini menurutnya sesuai dengan tantangan zaman saat ini dimana mulai bermunculan kelompok tekstualis yang berpatokan pada nash saja.

Penguatan di bidang pendidikan perlu dilakukan sebagai langkah regenerasi kader yang akan meneruskan Jamiyah warisan para ulama ini. Oleh karenanya Kiai Ma'ruf mengingatkan agar warga NU mendidik putera-puterinya di pondok pesantren.

"Kirim putera-puteri kita ke pesantren. Setidaknya satu orang yang paling pintar agar nantinya juga akan menjadi ulama yang pintar," imbaunya.

Kesehatan dan ekonomi, lanjutnya juga harus diperkuat sebagai bentuk hidmah nahdliyah. NU harus mampu menguatkan arus baru ekonomi Indonesia dengan sistem bottom up (bawah ke atas) bukan top down (atas ke bawah).

Menurutnya sudah terbukti sistem ekonomi top down yang digunakan di era orde baru tidak mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. 

"Diharapkan dulu dengan sistem top down ekonomi kuat di atas dan nantinya dapat mengalir ke bawah. Faktanya, jangankan mengalir, netes pun tidak," katanya. (Muhammad Faizin/Kendi Setiawan)