::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Bencana di Brebes Bertubi, Ini Pesan Pengasuh Pesantren Al-Hikmah

Jumat, 09 Maret 2018 16:30 Daerah

Bagikan

Bencana di Brebes Bertubi, Ini Pesan Pengasuh Pesantren Al-Hikmah
KH Labib Sodiq Suhaemi bersama Bupati Brebes.
Brebes, NU Online
Pengasuh Pesantren Al-Hikmah 1 Benda Sirampog, Brebes, Jawa Tengah KH Labib Sodiq Suhaemi mengajak Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Brebes untuk melakukan gerakan membaca Istighfar.

Diakui bahwa musibah terjadi atas kehendak Allah SWT, tetapi bencana bisa diminimalisir ketika ada pengakuan kekilafan dari hamba-Nya dengan cara membaca istighfar.

"Percayalah, istighfar bisa mencegah musibah," ujar Kiai Labib Sodiq saat menyampaikan taushiyah pada pembinaan mental bagi ASN di Pendopo Bupati Brebes, Jumat (9/3).

Dari 12.000 ASN, kata kiai, bila beristighfar minimal 100 kali setiap bakda sholat wajib, diyakini Allah SWT akan mencabut musibah di Brebes.

Dia juga mengajak ASN untuk selalu meningkatkan ilmu agama dengan cara mengaji. "Kalau gak ngaji ya... Mulang ngaji bagi yang sudah pinter," ajaknya.

Secara kemanusiaan, sambungnya, manusia kalau lapar ya makan, kalau capai ya tidur, maka kalau merasa bodoh ya ngaji, kalau merasa pinter ya mulang (mengajar).

Manusia selalu terkena musibah, hanya saja tidak mengetahui itu musibah karena tidak memahami. Ketika ilmu yang dimilikinya tidak bermanfaat, maka itu dikategorikan musibah. Ketika diberi harta melimpah, dan tidak dibelanjakan kejalan yang diridhoi Allah, itu juga musibah.

Untuk itu, manusia harus butuh dengan ilmu, butuh kiai agar memahami apa yang harus diberbuat selama di bumi. Kalau manusia tidak butuh dengan kiai, tidak butuh dengan orang yang berilmu maka dianggap bukan manusia.

Setiap orang butuh orang lain. Maka jangan sombong, apalagi sampai menghina orang lain. "Kiai butuh santri, kalau tidak butuh santri apakah butuhnya setan apa jin?" ujarnya berkelakar.

Kalau ada persoalan tidak perlu ada gontok-gontokan, upayakan dengan jalan kedamaian karena masing-masing saling membutuhkan. Tidak benar kalau watak tak bisa diubah, karena seorang istri yang shaleha bisa mengubah watak suaminya. 

Dia memberikan  resep jitu agar tercapai kebahagiaan dunia akhirat. Kiai kharismatik di Brebes itu mengatakan, kalau jabatan tinggi tidak menjamin kebahagiaan. Resepnya antara lain,  pandai bersyukur dan selalu menggunakan lisan untuk berdzikir pada Allah SWT. (Wasdiun/Fathoni)