::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Smartphone dalam Genggaman Smart People

Sabtu, 10 Maret 2018 05:00 Opini

Bagikan

Smartphone dalam Genggaman Smart People
Ilustrasi
Oleh: Muhammad Makhdum 
Menjadi smart people ternyata tidak semudah membeli smartphone. Setidaknya itulah yang tampak dari fenomena terkini dunia teknologi informasi. 

Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan teknologi informasi melesat seolah mendahului waktu. Hampir setiap pekan, muncul varian smartphone terbaru dengan fitur dan aplikasi yang semakin bermutu. Perangkat teknologi ini mampu menjembatani komunikasi, memburu informasi, dan membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di era milenial, arus informasi melalui smartphone mengalir deras tak terbendung, menyeruak menjadi gelombang, melintasi batas geografis, dan menjangkau semua lapisan sosial. 

Berdasarkan data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2017, jumlah pengguna internet berkisar 143 juta orang atau 50 persen dari penduduk Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekitar 49,52 persen adalah mereka yang berusia 19 hingga 34 tahun. Sebagian besar dari mereka mengakses internet melalui smartphone. Mereka semua telah terkoneksi dengan perkembangan teknologi, termasuk dalam kehidupan sosialnya. 

Bagi generasi ini, dunia maya menjadi sumber utama untuk mengakses informasi, sebagai rujukan belajar, termasuk menjalin interaksi sosial. Dengan jaringan tersebut, sumber-sumber ilmu pengetahuan dapat diakses secara cepat dan tak terbatas. Derasnya informasi ini diharapkan dapat memberikan energi positif bagi perkembangan ilmu pengetahuan, peningkatan keterampilan, sekaligus kematangan dalam berpikir. 

Akan tetapi, ingar-bingar dunia maya ternyata meninggalkan ruang kosong yang perlu kita renungkan. Ruang kosong itu adalah estafet pengetahuan ilmu agama, serta minimnya kroscek (tabayyun) atau koreksi. Belajar agama tanpa sanad yang tersambung dengan guru dan interaksi langsung akan cenderung kering secara emosional, minim lelaku pengalaman, serta meniadakan gelombang spiritual.

Belajar agama menjadi kurang holistik, sepenggal-penggal, dan relatif dangkal. Akibatnya, perbedaan perspektif dalam agama membawa pada penghujatan dan penghakiman bagi yang berbeda sudut pandang. Narasi kebencian atas nama agama dan SARA menjadi tidak terhindarkan. 

Di sisi lain, merebaknya hoaks dan fitnah atas nama agama kian marak. Terbongkarnya fabrikasi hoaks dan kebencian Family Muslim Cyber Army (MCA) semakin menggenapi sisi buram dunia maya. Pada Agustus tahun kemarin juga telah terungkap sindikasi Saracen dengan narasi yang sama. Penggunaan misi agama untuk menebar fitnah justru mencederai spirit agama itu sendiri. Di satu sisi, meski membawa label agama, setelah ditelisik ternyata motif pelaku justru mengerucut pada kepentingan politik dan ekonomi belaka. 

Menariknya, pelaku atau korban hoaks dan narasi kebencian tidak hanya dari kalangan masyarakat berpendidikan rendah, tetapi juga menyasar kalangan akademisi. Artinya, hoaks cenderung menyerang sisi emosional seseorang ketimbang sisi intelektualnya.

Benar kata sosiolog Anthony Giddens bahwa dunia sampai lari tunggang-langgang mengejar kemajuan teknologi. Ketidaktangkasan mental manusia dalam menghadapi progresi teknologi akan menjadikannya terjungkal dalam lumpur peradaban. Teknologi hanyalah bungkus luar sebuah peradaban. Karena sejatinya, inti dari peradaban terletak pada pola pikir dan perilaku manusia itu sendiri. 

Di sinilah, menjadi smart people di era smartphone menemukan relevansinya. Kita tidak hanya dituntut melek teknologi, tetapi juga melek literasi. Digital literacy dan moral literacy harus digalakkan agar generasi bangsa tidak terjebak pada fitnah, hoaks, dan kesalahan menganalisis sumber data.

Sosial media semestinya menjadi wahana untuk menyebarkan gagasan positif dan membangun, bukan sebaliknya. Bukankah agama telah mengajarkan bahwa jika seseorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kita tidak mencelakakan suatu golongan karena kebodohan (kecerobohan) yang mendatangkan penyesalan di kemudian hari?

Wallahu a’lam bis shawab.

Penulis adalah pegiat sosial media, Ahlul Ma’had Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang 

Baca opini lainnya DI SINI