::: NU: Kepastian awal Ramadhan akan diikhbarkan pada 15 Mei 2018 petang hari ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ketua NU Kota Bekasi: Jabat Tangan Usai Shalat Dianjurkan

Ahad, 11 Maret 2018 13:00 Daerah

Bagikan

Ketua NU Kota Bekasi: Jabat Tangan Usai Shalat Dianjurkan
Bekasi, NU Online
Jabat tangan usai shalat sudah sejak lama berlaku dan menjadi kebiasaan baik bagi masyarakat Indonesia. Namun, sebagian orang masih saja memperdebatkan mengenai keabsahan hukum perbuatan mulia itu.

Demikian disampaikan Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bekasi KH Zamakhsyari Abdul Majid di Sekretariat NU, Jalan Veteran, Margajaya, Bekasi Selatan, Ahad (11/3) pagi.

"Bersalaman itu baik, terlebih kalau dilakukan antarsesama Muslim. Perbuatan itu sangat dianjurkan Nabi Muhammad SAW. Kemuliaan itu dimaksudkan agar persaudaraan semakin kuat dan persatuan semakin kokoh. Jika ada saudara Muslim yang datang dari bepergian jauh, misalnya sepulang dari menunaikan ibadah haji, maka disunnahkan juga saling berangkulan (mu'anaqah)," terangnya.

Ia melanjutkan, telah diriwayatkan dari Al-Barra' bin Azib, Rasulullah SAW bersabda, saat dua orang yang bertemu dan bersalaman akan diampuni dosa mereka sebelum berpisah. Berdasarkan hadits tersebut, lanjut Kiai Zamakhsyari, ulama Syafi'iyyah mengatakan bahwa hukum bersalaman usai shalat adalah sunah.

"Kalau perbuatan itu disebut bid'ah (hal baru) karena tidak ada penjelasan mengenai keutamaan bersalaman usai shalat, maka itu adalah bid'ah mubahah yaitu bid'ah yang diperbolehkan," katanya.

Kiai asal Cengkareng, Jakarta Barat itu melanjutkan, Imam Nawawi menyebut bahwa bersalaman sangat baik dilakukan. Ia merinci dua hal. Pertama, hukum berjabat tangan menjadi mubah kalau kedua orang telah bertemu saat sebelum shalat.

"Namun, jika keduanya belum bertemu sebelum shalat berjamaah, hukum bersalaman menjadi sunah. Silakan lihat Fatâwî Al-Imâm An-Nawâwî," katanya.

Sebagian ulama mengatakan, imbuh Kiai Zamakhsyari, orang shalat itu serupa dengan orang yang ghaib alias tidak ada di tempat karena dianggap sedang bepergian. Usai shalat, seakan-akan orang tersebut baru datang dan bertemu dengan saudaranya. Maka, ketika itu dianjurkan untuk bersalaman.

"Jadi, hukum bersalaman usai shalat itu mubah, bahkan menjadi sunah jika sebelum shalat kedua orang yang bersalaman itu belum bertemu. Makanya, sangat lucu kalau ada yang bilang bersalaman usai shalat itu tidak boleh hanya karena tidak ada teks (dalil) yang menyebutkan bahwa Rasulullah pernah bersalaman usai shalat," pungkasnya. (Aru Elgete/Alhafiz K)