NU: IDUL FITHRI 1439 H MENUNGGU HASIL RUKYAH KAMIS 14 JUNI 2018::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

PCINU Belanda Gelar Refleksi Situasi Keislaman Aktual Indonesia

Selasa, 13 Maret 2018 06:00 Internasional

Bagikan

PCINU Belanda Gelar Refleksi Situasi Keislaman Aktual Indonesia
Leiden, NU Online 
Ahad malam waktu Belanda(12/4), PCINU Belanda menggelar diskusi dengan tema Islam Progresif dan NU bersama Muhammad Fayyadl (Gus Fayyadl). Diskusi berlangsung di kediaman Wakil Ketua Tanfidziyah PCINU Belanda, Syahril Siddik,

Gus Fayyadl menegaskan bahwa intelektual muda NU harus berperan aktif dan rekonsiliatif terhadap sesama gerakan Islam.

“Kita perlu melakukan evaluasi agar terbentuk pemetaan Islam yang lebih komprehensif,” ujar Ketua PCINU Perancis 2013-2014 itu. 

Evaluasi dilatarbelakangi karena generasi muda NU saat ini dihadapkan pada tantangan untuk memulihkan kosmologi budaya Islam Nusantara yang mulai tergerus modernitas.

“Sudah sepantasnya keberislaman bukan lagi menjadi sebuah identitas, tetapi menjadi nilai-nilai yang diproyeksikan dalam kehidupan sehari-hari serta menjadikan Islam sebagai meta,” imbuhnya.

Founder Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) memaparkan bahwa NU memiliki dua ciri khas dibandingkan dengan gerakan Islam lainnya. Yang pertama, NU tidak bertentangan dengan ritme sosial masyarakat pada umumnya di tanah air, meskipun diakui bahwa pesantren-pesantren dewasa ini sudah mulai terpapar modernitas dalam ranah praksis.

"Sehingga, apa yang tersisa saat ini? Tidak lain hanyalah simbol-simbol dan infrastruktur budaya,” tuturnya.

Ciri yang kedua menurutnya adalah budaya patronase yang sangat melekat dalam kehidupan pesantren..Ia menganalogikan hal ini dengan caping petani, di mana patron yang berada di pucuk caping disokong Nahdliyin sebagai anyaman-anyaman bambu yang melingkar memperkuat struktur.

Caping yang berfungsi melindungi dari sengatan sinar matahari dan hujan ini,pada keadaan tertentu, saat dibalik, dapat dijadikan wadah yang sangat besar untuk menampung air atau barang lainnya. Namun, diakui Fayyadl,kondisi dan struktur caping saat ini tidak sempurna. Ada banyak ujung anyaman bambu yang mencuat sehingga tidak lagi menjadikan pucuk caping kokoh, hingga saat dibalik pun tidak dapat menampung air dengan baik.

Karena dua alasan inilah, Fayyadl berargumen bahwa peran generasi muda NU penting untuk memulihkan kosmologi Nahdliyyin yang mulai kebingungan patron. Fayyadl mengajak peserta diskusi melakukan refleksi bahwa perlu usaha untuk memperkuat modal sosial warga NU harus dilakukan dari level terkecil.Diharapkan para generasi muda NU dapat aktif dalam simpul-simpul masyarakat di level kepengurusan ranting di desa-desa.

"Jika semangat keberislaman ala NU di level ranting diperkuat, maka dapat dipastikan dapat turut memberikan sumbangsih kepada berbagai macam patologi yang dihadapi masyarakat Indonesia, termasuk saat menghadapi masalah-masalah yang mengancam keberlangsungan sumber daya alam," ungkapnya.
.
Diskusi ini dihadiri oleh beberapa pengurus PCINU Belanda baik dari jajaran syuriyah maupun tanfidziyah. M Fauzi Latif, katib syuriyah PCINU Belanda mengungkapkan bahwa tujuan digelarnya diskusi ini salah satunya adalah mempersiapkan para intelektual PCINU Belanda yang akan kembali dan mengabdi di Indonesia. (Nur Inda Jazilah/Kendi Setiawan