::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Inilah Panduan Rasul Tentang Petunjuk Teknis Menjadi Imam

Rabu, 14 Maret 2018 08:00 Daerah

Bagikan

Inilah Panduan Rasul Tentang Petunjuk Teknis Menjadi Imam

Pringsewu, NU Online
Saat ini mulai muncul sekelompok orang  yang tidak mengedepankan etika dalam berinteraksi dengan orang lain didalam urusan beribadah. Dengan dalih memiliki dasar nas dalam Al-Qur'an dan hadits mereka menafikkan kondisi sosial kemasyarakatan yang sudah terbangun dilingkungan sekitar.

Kondisi ini diungkapkan oleh Penyuluh Keagamaan Kecamatan Pringsewu Ustadz Ahmad Syaifuddin saat menyampaikan penyuluhan agama dengan mengangkat materi tentang kriteria imam shalat berjamaah di Masjid Nurul Ikhlas Pringsewu Barat, Selasa (13/3).

"Ada kelompok yang menggembar-gemborkan kesunahan tertentu namun tidak memperhatikan kesunahan yang lain di antaranya etika menjadi imam berjamaah di masjid atau mushala," kata Ustadz Saiful, sapaan akrabnya.

Ia terkadang menjumpai ada pelanggaran etika sosial dalam berjamaah di mana ada orang yang dengan percaya dirinya maju menjadi imam tanpa mempertimbangkan orang-orang sekelilingnya.

"Orang ini tidak memperhatikan petunjuk teknis atau juknis yang telah diterangkan oleh Nabi mengenai kriteria menjadi seorang imam," katanya

Dalam hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Mas’ud al-Anshari RA disebutkan bahwa ada kriteria orang yang paling berhak menjadi imam shalat. Secara berurutan, Ustadz Saiful merinci siapa saja sesuai dengan hadits tersebut yang paling berhak.

"Yang berhak menjadi imam pertama adalah yang paling pandai membaca dan hafal Al-Qur’an. Jika sama-sama pandai, maka yang diutamakan adalah yang paling mengerti tentang hadits dan sunah Nabi.Jika sama-sama mengerti, pilih yang paling pertama datang kedaerah tersebut. Jika sama dalam hal kedatangannya, siapa yang dahulu masuk Islam. Dan jika bersama masuk Islam, maka yang lebih tualah yang lebih utama," jelanya.

Etika kesopanan seharusnya dikedepankan umat Islam saat berada di tempat yang bukan merupakan daerahnya. Umat Islam harus memiliki keshalehan sosial dengan tidak merusak tatanan sosial yang sudah berjalan di sebuah wilayah.

"Jangan karena merasa paling fasih baca Al-Qur'an dan paham tentang ilmu hadits sehingga menyepelekan yang lebih tua dengan langsung maju menjadi imam," katanya.

Ketua Lembaga Dakwah NU Kecamatan Pringsewu ini mengingatkan kepada umat Islam untuk mengedepankan keshalehan sosial dengan berpedoman pada juknis dari Rasulullah tentang tata cara menjadi imam. (Muhammad Faizin)