::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Mantan Wakil Ketua MK Achmad Sodiki Nilai Ada Kesalahan Mendasar Pendidikan Indonesia

Rabu, 14 Maret 2018 17:00 Daerah

Bagikan

Mantan Wakil Ketua MK Achmad Sodiki Nilai Ada Kesalahan Mendasar Pendidikan Indonesia
Blitar, NU Online
Perubahan masyarakat yang sangat cepat, menempatkan diri sesorang pada posisi yang sangat terbuka. Kita bukan hanya menjadi anggota masyarakat lokal. Bahkan bukan hanya Indonesia, tetapi juga masyarakat internasional. Betapa sumber daya Indonesia yang kaya menjadi incaran dunia internasional, apakah hanya menjadi penonton ataukah menjadi pemain atas kekayaan itu.

Hal ini disampaikan oleh Mantan Wakil Mahkamah Konstitusi Achmad Sodiki pada seminar di Auditorium Kampus STIT Al Muslihun Tlogo Blitar, Selasa (13/3).

“Kesalahan kebijakan karena kelemahan, seperti tambang emas Freeport telah dikuras dan dibawa keluar Indonesia. Justru karena itu civitas akademika harus memikirkan selain pohon ilmu tarbiyah yang harus dikuasai, senjata lain apakah yang bisa kita selipkan dalam memberi bekal kehidupan yang semakin kompetitif ini,’’ kata Sodiki.

Melihat masa depan, ia mengatakan, mahasiswa perlu menyelipkan kemampuan bahasa Mandarin, bahasa Korea, bahkan bahasa Rusia.

“Perguruan tinggi di Eropa memantau alumninya kerja di mana. Barangkali  STIT Al-Muslihun, bisa mengadakan survei, setelah lulus kerja di mana. Juga bisa minta umpan balik, apa yang perlu diperbaiki dari pendidikan yang sekarang berlangsung,’’ ujarnya.

Karena itu, lanjut Sodiki, persaingan dengan pendidikan yang sejenis juga sedang berlangsung. Itulah mengapa penguasaan bahasa asing, untuk menjadi bekal menimba ilmu lebih lanjut dapat dipermudah.

“Banyak negera yang mengagumi kehidupan agama di Indonesia yang rukun dan damai. Oleh sebab itu tempo hari, banyak beasiswa penelitian di bidang agama yang ditawarkan kepada mahasiswa Indonesia,’’ katanya.

Apa yang menyebabkan STIT Al-Muslihun berbeda dengan STIT lainnya sehingga lulusannya diakui dan dibutuhkan oleh masyarakat.

“Hal ini tepat sasaran yang memerlukan kebijakan yang kemudian disusun dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh yang didukung oleh segenap civitas akademika,’’ tambahnya.

Ia mengungkapkan cita-cita yang hendak dilakukan di Indonesia di bidang pendidikan adalah pendidikan yang memancarkan aspek kemerdekaan, kesatuan, kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran. Civitas akademik menghadapi perkembangan masyarakat, ilmu dan teknologi, serta kesadaran perlunya melakukan perubahan dalam sikap dan prilakuserta subtansi pendidikan itu sendiri.  

Untuk itu para mahasiswa harus mampu menerapkan rumusan dari UNESCO, yakni learning to know, learning to do, learning to be and learning to live togather. Misalnya learning to know, adalah proses belajar menguasai ilmu pengetahuan, agama, ilmu dan teknologi dengan segala perkembangannya.

"Proses to know tidak cukup hanya dihapal, tetapi juga harus dipahami apa yang dihapal tersebut sehingga sampai pada tataran to acknowlege. Di sini secara konstitusi harus ada kebebasan untuk melakukan, peranan berfikir menjadi sangat penting," paparnya lagi.

Ia mengutip Rene Descartes seorang  filosuf dari perancis menyatakan Cogito ergo sum.

"Saya ada karena saya berfikir,’’ jelasnya.

Seminar dalam rangka harlah ke-44 STIT Al Muslihun Tlogo dihadiri Ketua Yayasan Pesantren Al-Muslihun KH Faqih Subaweh, Ketua STIT Al-Muslihun K Al-Djaini, dan para pembantu ketua, dosen, mahasiswa STITA dan pengurus BEM se-Blitar Raya. (Imam Kusnin Ahmad/Kendi Setiawan)