::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Akademisi UGM Nilai Politikus Lakukan Pendangkalan Politik

Rabu, 14 Maret 2018 19:45 Nasional

Bagikan

Akademisi UGM Nilai Politikus Lakukan Pendangkalan Politik
Jakarta, NU Online
Sosiolog Universitas Gajah Mada (UGM) Arie Sujito mengaku telah terjadi pendangkalan politik yang dilakukan oleh para elit politik. Mereka mendahulukan kepentingan politik daripada nalar.

Ia menjelaskan, ketika nalar tidak bekerja secara rasional karena kegagalan menghadirkan etika atau nilai dalam kompetisi politik, maka kepentingan akan menghancurkan nalar-etis di dalam kompetisi itu.

"Ketika kepentingan menghancurkan nalar etis, maka sesungguhnya demokrasi hanya memfasilitasi pertarungan kepalsuan," kata Arie saat mengisi diskusi publik di Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (14/3) dengan tema Menguak Aktor-aktor Politik Hoaks di Tahun Politik.

Menurutnya, pertarungan kepalsuan seperti bola salju yang terus menggelinding ini menimbulkan kepongahan-kepongahan politisi.

Mereka merasa berkuasa dan memiliki legitimasi. Padahal, lanjutnya, mereka lahir dari proses kepalsuan-kepalsuan informasi tersebut, tapi dianggap memiliki pembenaran karena dinilai sudah sesuai dengan prosedur hukum.

Menurutnya, korban yang sangat berisiko dari informasi yang palsu itu adalah masyarakat kelas bawah. "Siapa sesungguhnya yang paling dirugikan? Grass root (masyarakat bawah)," katanya.

Terlebih, masyarakat tidak mempunyai kesadaran kritis dan tidak mampu membedakan antara informasi yang benar dan salah. Masyarakat menjadi rentan terjebak pada konflik dan kekerasan, kata Arie. (Husni Sahal/Alhafiz K)