::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Prof. Said Agil Al-Munawwar: Al-Qur’an Tidak Bisa Ditafsirkan Sembarangan

Kamis, 22 Maret 2018 09:00 Nasional

Bagikan

Prof. Said Agil Al-Munawwar: Al-Qur’an Tidak Bisa Ditafsirkan Sembarangan
Jakarta, NU Online
Berapa banyak masjid, pesantren di luar negeri? Tidak ada di negara manapun sebanyak yang ada di Indonesia. Bagaimana kok bisa rukun? Di sinilah ajaibnya Indonesia yang memiliki prinsip persamaan, perkenalan, keadilan, permusyawaratan. Ini pesan yang mengisyaratkan bahwa kehidupan kita yang multikultural harus disikapi dengan keadilan, tidak dengan emosi. 

Demikian ditegaskan oleh Prof. Sayid Agil Al-Munawwar dalam orasi Simposiuim Tafsir Nusantara & Munas-IV Forum Komunikasi Mahasiswa Tafsir Hadis se-Indonesia (FKMTHI) Rabu (21/03) bertempat di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta.

Prof Sayid Agil yang juga pembina FKMTHI menyampaikan, saat ini dihadapkan pada orang yang menafsirkan Al-Qur’an bukan di bidangnya, ini tantangan kita bersama, yang menyampaikan tidak mengerti apalagi yang mendengarkan.

“Tidak berilmu tapi mau tampil di depan orang banyak. Selain itu kita juga sering menjumpai ada penceramah menyampaikan ayat yang salah kaprah,” tambah Prof Said

Menafsirkan Al-Qur’an itu ada syarat-syaratnya, tidak sembarangan, salah satunya yaitu menguasai ilmu dan teksnya, begitu juga ketika kita memahami ayat-ayat Al-Qur’an, harus kita maknai dengan penuh keterbukaan.

“Perdamaian itu harus kita kedepankan. Rasul tidak pernah mengajarkan permusuhan, itu kehebatan rasulullah, perbedaan itu sunnatullah. Maka tugas kita melanjutkan perjuangan pendahulu dengan melakukan penelitian, rajin menulis, apakah meringkas buku atau menterjemah, merangkum pemikiran tokoh-tokoh. Maka tidak ada kata selesai dalam mempelajari alquran dan hadits karena isi alqur’an dan hadits itu luas,” tutur Prof Said yang juga mantan Menteri Agama

Prof Sayyid Agil menambahkan, kita bisa menghormati orang karena ilmu kita yang dalam, kalau kita tidak bisa menghormati orang lain itu berarti ilmu yang dimiliki masih dangkal karena merasa paling benar sendiri. Insyaalah dari FKMTHI ini akan puncul mufassir-mufassir hadits, yang menjadikan darah yang mengalir dalam tubuhnya ini mengalir darah yang tercampur dengan berkah Al-Qur’an. (Icin/Muiz)