NU: IDUL FITHRI 1439 H MENUNGGU HASIL RUKYAH KAMIS 14 JUNI 2018::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mengenal ‘Aul pada Asal Masalah Warisan

Kamis, 22 Maret 2018 21:45 Warisan

Bagikan

Mengenal ‘Aul pada Asal Masalah Warisan
Imam Muhammad bin Ali Ar-Rahabi menuliskan nadham:

فإنهن سبعة أصـولـــ ... ثلاثــــة منهن قــد تعــول
وبعدها أربعة تمـــام ... لاعول يعروها ولا انثلام

Artinya:
"Ada tujuh asal masalah ... yang tiga terkadang terjadi ‘aul
Yang empat telah sempurna ... tak ada ‘aul dan pecah mengenainyaز"
(Muhammad bin Ali Ar-Rahabi, Matnur Rahabiyyah dalam ar-Rabahiyyatud Dîniyyah, Semarang, Toha Putra, tanpa tahun, halaman 66)

Sebagaimana diketahui bahwa asal masalah dalam menghitung pembagian warisan ada 7 (tujuh) yang dihasilkan dari 6 (enam) bagian pasti yang telah ditentukan. Ketujuh asal masalah tersebut adalah bilangan 2, 3, 4, 6, 8, 12, dan 24. 

Menurut dua bait nadham di atas dari ketujuh asal masalah tersebut 3 di antaranya bisa terjadi ‘aul dan 4 sisanya tidak akan pernah terjadi ‘aul. Menurut Wahbah Az-Zuhaili ketiga asal masalah yang bisa terjadi ‘aul adalah asal masalah 6, 12, dan 24. Sedangkan 4 asal masalah yang tak akan pernah terjadi ‘aul adalah asal masalah 2, 3, 4 dan 8. (Wahbah Az-Zuhaili, al-Mu’tamad fil Fiqhis Syâfi’i, Damaskus, Darul Qalam, 2011, juz IV, halaman 438)

Lalu apa yang dimaksud dengan ‘aul?

Menurut bahasa ‘aul berarti meningkat, bertambah dan melebihi batas.

Sedangkan menurus istilah ilmu faraidl ‘aul sebagaimana disampaikan oleh Dr. Musthafa Al-Khin adalah: 

زيادة مجموع السهام عن أصل المسألة ويلزم منه نقصان من مقادير أنصباء الورثة من التركة
 
Artinya: “Bertambahnya jumlah siham (majmû’ sihâm) melebihi asal masalah dan menjadikan kurangnya bagian warisan yang telah ditentukan untuk para ahli waris.” (Musthafa Al-Khin, al-Fiqhul Manhaji, Damaskus: Darul Qalam, 2013, jil. II, halaman 347)

Untuk lebih jelasnya definisi di atas dapat digambarkan sebagai berikut:



Pada tabel di atas diketahui bahwa asal masalahnya adalah 6. Setelah bagian (siham) masing-masing ahli waris ditetapkan ternyata jumlah keseluruhan siham ada 7 yang berarti melebihi asal masalah. Padahal semestinya jumlah keseluruhan siham harus sama dengan asal masalahnya. Itu berarti terdapat kekurangan siham untuk ahli waris yang juga berarti pada akhir pembagiannya nanti akan terjadi kekurangan harta yang dibagi kepada ahli waris. Kasus di mana jumlah siham melebihi asal masalah inilah yang disebut dengan ‘aul.

Agar lebih jelas lagi mari kita gambarkan contoh kasus di atas dengan memasukkan nominal harta warisan, umpamanya Rp. 420.000.000. Dengan asal masalah 6 maka jumlah harta waris yang ada dibagi menjadi 6 bagian di mana masing-masing bagian sebesar Rp. 70.000.000. Dengan demikian maka perolehan harta waris masing-masing ahli waris adalah sebagai berikut:

a. Suami                                              : 3 x Rp. 70.000.000 = Rp. 210.000.000
b. 2 saudara perempuan sekandung  :  4 x Rp. 70.000.000 = Rp. 280.000.000
    Jumlah harta dibagi                                                              Rp. 490.000.000

Dari uraian di atas jelas bahwa dengan asal masalah 6 dan jumlah siham 7 maka harta waris yang dibagi ternyata kurang Rp. 70.000.000. Maka perhitungan yang demikian jelas tidak bisa diterima.

Lalu bagaimana solusi agar masalah ‘aul ini terselesaikan?

Para ulama faraidl mengajarkan bila terjadi masalah ‘aul maka asal masalah yang ada tidak dipakai untuk membagi nominal harta waris yang akan dibagi. Sebagai gantinya jumlah siham (majmû’ sihâm) lah yang digunakan untuk membagi nominal harta waris tersebut.

Maka pada kasus di atas harta warisan yang sejumlah Rp. 420.000.000 dibagi menjadi 7 bagian di mana masing-masing bagian sebesar Rp. 60.000.000. dengan demikian maka perolehan harta warisan masing-masing ahli waris adalah sebagai berikut:

a. Suami                                             : 3 x Rp. 60.000.000 = Rp. 180.000.000
b. 2 saudara perempuan sekandung : 4 x Rp. 60.000.000 = Rp. 240.000.000
Jumlah harta dibagi                                                                Rp. 420.000.000

Dengan demikian maka harta warisan bisa mencukupi dan terbagi habis tanpa ada kekurangan.

Asal Masalah yang Terjadi ‘Aul

Sebagaimana dituturkan di atas bahwa asal masalah yang sering terjadi ‘aul ada tiga yakni 6, 12, dan 24. Masing-masing asal masalah ini bisa terjadi ‘aul sampai beberapa kali dengan nominal yang berbeda-beda. Rincian ‘aul ini dijabarkan oleh Wahbah Az-Zuhaili dalam kitabnya al-Mu'tamad fil Fiqhis Syâfi’i sebagai berikut:

Asal masalah 6 bisa terjadi ‘aul 4 kali, yakni 7, 8, 9, dan 10. Contoh masing-masing ‘aul tersebut sebagai berikut:






Asal masalah 12 bisa terjadi ‘aul sampai 3 kali, yakni 13, 15, dan 17. Contoh masing-masing ‘aul tersebut sebagai berikut:





Asal masalah 24 hanya terjadi 1 kali ‘aul saja, yakni 27. Contoh:



Demikian Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan. Wallâhu a’lam. (Yazid Muttaqin)