::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Etika Menyambut Hari Jumat yang Mulia

Jumat, 23 Maret 2018 10:30 Jumat

Bagikan

Etika Menyambut Hari Jumat yang Mulia
ilustrasi (ist.)
Oleh: Muhammad Nur Hayid

Tulisan ini akan menyampaikan hal-hal yang dianjurkan oleh Imam Al-Ghazali untuk kita lakukan dalam hari Jumat. Beliau memulai dengan menyamakan persepsi, bahwa hari Jumat adalah sayyidul ayyam (raja dari hari-hari lain) dan ‘idul mu’minin (hari raya bagi orang yang beriman) bagi orang Islam. Di dalam hari Jumat ada suatu waktu spesial yang dirahasiakan, yang kalau ada seorang muslim meminta sesuatu pada Allah di waktu spesial itu, Allah pasti akan mengabulkan permintaannya.

Bagaimana kita bisa mendapatkan waktu itu?. Mengingat waktu itu dirahasiakan oleh Allah, maka yang bisa kita lakukan adalah melakukan amal-amal shaleh selama hari Jumat, bahkan sejak Kamis petang. 

Dalam beberapa keterangan ulama, hari Kamis petang (atau yang bisa disebut malam Jumat oleh orang Indonesia) memiliki keutamaan yang sama dengan hari Jumat. Oleh karena itu, kita bisa mulai memperbanyak tasbih, istighfar, dan melakukan dzikir lain sejak waktu tersebut. Masih dalam rangkaian memuliakan hari Jumat dan berusaha mendapatkan waktu spesial tadi, kita dianjurkan untuk berpuasa pada hari Jumat. Namun, karena ada hadits yang menyampaikan larangan berpuasa hanya pada hari Jumat, maka kita bisa menambahkan puasa pada hari sebelumnya (Kamis) atau sesudahnya (Sabtu). Akan lebih baik lagi jika kita berpuasa di tiga hari tersebut; Kamis, Jumat, dan Sabtu.

Hal lain yang juga dianjurkan oleh Imam Al-Ghazali untuk kita lakukan adalah menyambut hari Jumat dengan membersihkan diri. Beliau menambahkan keterangan bahwa baju putih adalah baju yang paling disukai oleh Allah. Terlebih jika kita menggunakan wewangian dan melakukan berbagai cara membersihkan diri; mencukur rambut, memotong kuku, bersiwak, dan lain sebagainya. Setelah memantaskan diri secara fisik, kita juga dianjurkan untuk bergegas ke masjid dalam keadaan tenang. 

Untuk menegaskan poin ini beliau menyampaikan sebuah hadis yang merekam sabda Rasulullah SAW: “Siapapun yang mendatangi shalat Jumat di waktu yang pertama, ia akan dicatat seolah berkurban unta. Jika di waktu yang kedua, ia berkurban sapi. Jika di waktu ketiga, ia berkurban kambing. Jika di waktu keempat, ia berkurban ayam. Jika di waktu kelima, ia seperti bersedekah telur. Setelah itu, saat imam berjalan menuju mimbar, malaikat akan menutup buku dan menarik alat tulis mereka, untuk kemudian duduk di dekat mimbar dan mendengarkan dzikir”. Seorang ulama bahkan mengatakan bahwa jauh-dekatnya seseorang ketika melihat Allah di surga nanti ditentukan oleh bergegas tidaknya ia untuk mendatangi shalat Jumat.

Tidak cukup pada poin ini, Imam al-Ghazali juga memberikan penjelasan tentang cara memilih tempat duduk dan melewati orang yang telah duduk di masjid terlebih dahulu. Beliau menganjurkan untuk memillih tempat duduk yang sekiranya tidak menjadi tempat lalu lalang jama’ah. Ini berkaitan dengan anjuran beliau agar orang yang baru datang tidak melangkahi leher ketika harus melewati orang lain untuk mencari tempat duduk. 

Setelah mendapatkan tempat duduk yang layak, kita dianjurkan untuk shalat tahiyyatal masjid, empat rakaat. Apakah beliau memberikan anjuran tentang surat yang sebaiknya dibaca di tiap rakaatnya? Beliau bahkan memberi tiga pilihan. Pilihan pertama adalah membaca surat Al-Ikhlas lima puluh (50) kali di tiap rakaat. Anjuran ini berhubungan dengan hadits yang mengatakan bahwa “seseorang yang melakukan hal itu (membaca Al-Ikhlas lima puluh kali di tiap raka’at shalat tahiyyatal masjid) pasti akan melihat atau diperlihatkan jatahnya di surga sebelum ia meinggal”.

Pilihan kedua adalah membaca surat Al-An’am, Al-Kahf, Taha, dan Yasin secara berurutan di raka’at pertama, kedua, ketiga, dan keempat. Pilihan ketiga adalah Yasin, Alif Lam Mim Sajdah, Ha Mim Dukhan, dan Al-Mulk, juga berurutan. Selain itu, semua surat ini (Al-Ikhlas, Al-An’am, Al-Kahf, Taha, Yasin, Alif Lam Mim Sajdah, Ha Mim Dukhan, dan Al-Mulk) juga dianjurkan untuk dibaca pada malam Jumat.

Hal yang tidak kalah penting untuk disampaikan adalah bahwa cara yang baik untuk memperingatkan orang lain agar diam saat pelaksanaan ibadah Shalat Jumat adalah dengan isyarat. Ini karena hanya dengan mengatakan “diamlah!” kita sudah dianggap mengucapkan sesuatu dan oleh karenanya termasuk orang-orang yang lagha (yang tidak mendapatkan pahala shalat Jumat dengan sempurna). 

Setelah selesai shalat, sebelum kita mengucapkan satu patah kata pun, kita dianjurkan untuk membaca Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan Al-Nas masing-masing tujuh kali. Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa orang yang melakukan demikian akan dijaga oleh Allah dari kesempatan untuk berbuat dosa sampai hari Jumat di pekan selanjutnya. Kemudian, kita dianjurkan membaca doa : "Allahumma ya ghaniy ya hamid, ya mubdi’ ya mu’id, ya rahim ya wadud, aghnina bi halalik ‘an haramik, wa bi ta’atik ‘an ma’siyatik, wa bi fadlik ‘amman siwak". Setelah itu kita melakukan shalat sunnah dua, empat, atau enam raka’at dengan sekali salam setiap dua raka’at.

Imam al-Ghazali juga mengingatkan agar kita hanya mengikuti kelompok yang bisa memberi kita ilmu yang bermanfa’at. Menarik untuk dicatat bahwa Imam Al-Ghazali memaknai ilmu yang bermanfaat sebagai ilmu yang membuat kita lebih takut pada Allah dan lebih bisa mengurangi ketergantungan pada dunia. Jika ilmu yang ditawarkan pada kita malah membawa kita pada posisi yang sebaliknya, maka ketidaktahuan kita akan ilmu tersebut lebih baik. 

Melengkapi semua ini, kita juga dianjurkan untuk bersedekah semampu kita dan memperbanyak membaca Al Qur’an. Merangkum semuanya, Imam Al-Ghazali menganjurkan kita untuk menjadikan hari Jumat ini hari yang khusus kita dedikasikan untuk akhirat, dengan harapan ia bisa menjadi kaffarah, pengganti, kekhilafan kita di hari-hari lain.

Penulis adalah Pengurus LDNU PBNU dan Pengasuh Pesantren Skill Jagakarsa, Jakarta.