: UNU Jogja adalah perguruan tinggi pertama di Indonesia yang menerapkan sistem blok pada semua program studi daftar sekarang di www.pmb.unu-jogja.ac.id atau 0822 3344 9331 :: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mengapa Perempuan Memilih Jalan Terorisme?

Jumat, 23 Maret 2018 20:00 Opini

Bagikan

Mengapa Perempuan Memilih Jalan Terorisme?

Oleh: Rohmatul Izad

Pada Januari 2017 lalu, Dian Julia Novia, salah seorang aktor yang dipersiapkan sebagai calon pengantin berniat melakukan aksi bom, meski sebelum aksi itu dilakukan ia tertangkap di daerah kota Bekasi. Fenomena ini menunjukkan bahwa betapa perempuan tidak hanya menjadi sekedar pendukung, tetapi sebaliknya ia mampu menjadi aktor dan bahkan menjadi penentu terhadap aksi terorisme.

Perempuan yang terlibat aktif dalam kegiatan teror berbasis agama sering bermula dari hubungan perkawinan, majelis pengajian, persaudaran, pertemanan, atau bahkan perkencanan dengan anggota teroris tertentu. Media sosial juga menjadi cara-cara yang ampuh dalam melakukan rekrutmen terhadap perempuan.

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa ternyata memang ada tren baru di mana perempuan banyak memiliki keterlibatan terhadap aksi teror di dunia, fenomena ini juga terjadi di Indonesia. Ini adalah fenomena baru. Sebelumnya, orang selalu melihat bahwa setiap aksi terorisme, bahkan di luar konteks agama, hanya melibatkan laki-laki semata.

Banyaknya kasus tentang keterlibatan perempuan dalam aksi teror, ditengarai bermula ketika gerakan organisasi politik ISIS mulai menguat. Perempuan yang terlibat, bahkan lebih agresif daripada laki-laki.

Secara teritorial, Indonesia memang tidak mengalami langsung dampak kekuatan politik ISIS di Suriah dan Irak. Tapi sebagai gerakan trans-nasional, ISIS berkembang dengan begitu pesat hingga melakukan perekrutan di tanah air.

Ada beberapa faktor penting yang dapat menjelaskan mengapa perempuan terlibat dalam aksi teror. Kebanyakan dari mereka memiliki motif-motif tertentu yang pada akhirnya memilih untuk bergabung dengan teroris. Motif ini bisa dari ekonomi, sosial, maupun politik.

Ada penelitian yang menunjukkan bahwa motif kemiskinan juga menjadi faktor penting seseorang terlibat dengan terorisme. Selain itu ketidakadilan dan ketimpangan sosial di negeri ini juga tidak kalah pentingnya sebagai faktor penentu gerak mereka di lingkaran teroris.

Seorang pakar bidang radikalisme, Guru Besar UIN Alayudi Makassar mengatakan bahwa fenomena ketelibatan perempuan dalam terorisme karena perempuan lebih mudah untuk diajak atau bergabung dengan kelompok teroris. Misalnya, seorang suami yang sudah terlebih dahulu menjadi teroris akan mengajak istrinya dengan pendekatan yang lebih soft (halus). Perempuan lebih banyak menggunakan perasaannya, jika mereka dipengaruhi maka secara psikologis akan lebih kuat.

Belum lagi ada beberapa informasi dari lingkaran ISIS di Suriah yang menuding bahwa perempuan akan dijadikan sebuah 'pabrik manusia’. Bukan untuk berjihad dalam arti perang, tetapi untuk melayani kaum jihadis yang siap tempur agar perempuan dapat memberikan kontribusi nyata dengan melahirkan para jihadis baru.

Keberadaan dari perekrutan para teroris baru bahkan tidak hanya melalui penjaringan dari luar ke dalam, tetapi mereka dalam jangka panjang melahirkan seorang bayi yang suatu saat akan meneruskan misi jihadis-teroris itu.

Selain itu, ada anggapan umum bahwa perempuan memiliki pengetahuan yang minim (meski ini tidak berlaku secara kolektif). Sedikit pengetahuan yang dimiliki, akan semakin memudahkan proses rektutmen. Tapi ada pula yang memang memiliki pengetahuan yang baik, jadi pada intinya ini lebih berkaitan dengan persoalan keterpengaruhan.

Tapi umumnya keberadaan mereka bukanlah perempuan yang bodoh atau tidak terdidik. Kebanyakan dari mereka adalah lulusan perguruan tinggi, juga mereka lebih banyak dari kalangan menengah dengan berbagai profesi yang cukup beragam.

Menurut data dari BNPT 2017, ada 18 deportan dari Suriah yang sebelumnya pernah bergabung dengan ISIS, mereka tinggal di Cipayung.13 orang diantaranya adalah perempuan dan anak-anak. Dari 18 orang, hanya ada 2 lelaki dewasa. Mereka sudah tidak memiliki apa-apa lagi.Jika mereka tetap tinggal di Suriah, maka akan mudah terpengaruh lagi masuk ke ISIS.

Memang ada banyak faktor yang menyebabkan mereka mudah terpengaruh sebagaimana disebutkan di atas. Pengaruh itu bisa karena faktor ekonomi, keluarga, agama, dan keyakinan. Banyak korban perempuan yang masuk jejaring teroris adalah para mahasiswi.Secara tidak terduga mereka tiba-tiba hilang begitu saja.

Saya mempunyai seorang teman berinisial SW. Ia adalah salah seorang mahasiswi di salah satu kampus negeri di Surakarta. Pernah suatu ketika ia terlibat langsung dalam proses rektutmen organisasi Islam militan. Mula-mula ia diajak untuk makan-makan, makin hari menunjukkan komunikasi dan keakraban yang intim di mana para rektutmen tersebut selalu bersikap baik sehingga calonnya akan mudah diajak untuk ikut mereka.

SW pada saat itu merasa nyaman berkumpul dengan mereka. Pada suatu ketika ia diajak untuk ikut acara pengajian yang pada saat itulah proses doktrinasi agama mulai dilakukan. SW semakin terhipnotis dengan misi-misi yang menjanjikan, sampai-sampai ia rela mengeluarkan sejumlah uang yang tidak sedikit yang kemudian diberikan kepada kelompok militan itu. Meski pada akhirnya SW disadarkan oleh salah seorang temannya dan ia mulai mengakui bahwa tindakannya sudah diluar kontor dari kesadaran subjektifnya.

Fenomena ini pada akhirnya menunjukkan bahwa betapa cara-cara yang dilakukan oleh kelompok teroris ini begitu terselubung dan menggunakan berbagai macam pendekatan. Bukan hanya orangnya yang akan diajak masuk tetapi juga mengambil sisi material yang ia miliki, yakni uang.

Ada lagi satu cerita tragis dari seorang ibu-ibu yang melapor sambil menangis ke BNPT, bahwa anaknya yang baru lulus SD  sudah berani mengkafirkan ibunya. Tenyata, sang ibu memondokkan anaknya di pesantren yang salah. Bahkan sebulan dari peristiwa itu sang ibu disuruh menggunakan pakaian tertutup dengan mengirimkan poster-poster. Selama ini, beberapa pesantren di Indonesia yang terindikasi mengajarkan doktrin keras adalah beraliran Salafisme.

Disamping itu, posisi dan peran perempuan di lingkaran terorisme juga beragam, yang paling ekstrim mereka bisa sampai angkat senjata atau bahkan melakukan bom bunuh diri. Di Suriah ada yang menjadi juru masak, banyak dari mereka juga diperlakukan secara intimidasi dan diancam. Selain itu, di Indonesia misalnya, peran mereka juga beragam, seperti pendidik, agen perubahan, pendakwah, pencari dan sekaligus mengumpul amal.

Namun demikian, sebenarnya motif pertama dan yang utama dari keterlibatan perempuan dalam terorisme adalah urusan teologis. Mereka, sengaja atau tidak, telah terlebih dahulu dirasuki pemahaman Islam yang radikal, seperti misalnya, kepercayaan bahwa membunuh orang kafir itu merupakan suatu kewajiban.

Keberadaan perempuan yang masuk pada jaringan terorisme sebenarnya memiliki dua kecenderungan, yakni antara pelaku teroris sekaligus korban. Jadi mereka bukan benar-benar sebagai pelaku yang sesungguhnya. Sebagai pelaku teroris, bisa dibuktikan dari keterlibatan mereka secara langsung dengan aksi bom bunuh diri misalnya.

Sementara sebagai korban, karena memang merupakan kepanjangan dari perkawinannya, di mana sang suami memang sejak awal akan merekrutnya sebagai teroris melalui jalur pernikahan.

Selain itu, juga bisa disebut sebagai korban indoktrinasi agama, korban stigmatisasi dari masyarakat, korban media, atau juga dapat berasal dari korban ekses konflik.Ini bisa dikatakan bahwa ternyata perempuan hanyalah sebagai korban dari kekuatan dan kekuasaaan yang tercipta dari tradisi patriarki yang begitu menggurita.

Tetapi perlu disadari bahwa dalam bentuk dan cara bagaimana pun seseorang masuk dalam jajaran teroris, tipikal pelaku dan korban-betapapun perlu dibedakan, tidak selalu mendapatkan penegasan yang berbeda. Karena teroris tetaplah seorang teroris.

Jikapun harus digeneralisir secara keseluruhan, orang-orang yang direkrut, baik itu laki-laki atau pun perempuan, sebenarnya adalah sama-sama korban yang sudah terlanjur masuk dalam jejaring terorisme.

Terorisme adalah masalah kita bersama, bukan hanya masalah segelintir kelompok tertentu dan bukan hanya pemerintah yang bertanggungjawab dalam menumpas para pelaku teror. Kejahatan mereka telah menimbulkan berbagai keresahan bagi kita semua, bukan hanya bagi umat Islam secara luas. Oleh sebab itu, adalah sesuatu yang berlebih-lebihan jika kita harus acuh tak acuh terhadap masalah ini dan membebankan semua kepada pemerintah.

Kita sebagai elemen masyarakat yang seringkali merasakan dampak langsung dari perilaku teror, sudah seharusnya bekerja sama satu sama lain. Melalui elemen terkecil dari diri kita, keluarga, masyarakat dan institusi pendidikan harus bersama-sama menyadari betapa aksi-aksi mereka begitu berbahaya bagi kelangsungan hidup kita sekarang dan di kemudian hari.

Kita perlu memupuk sikap toleransi yang lebih intens, menanamkan nilai-nilai Islam yang penuh kasih dan damai, serta membuktikan kepada mereka (kelompok jihadis dan teroris) bahwa cara berislam secara inklusif dan dan penuh kasih adalah cara-cara terbaik dalam menjaga perdamaian, kesejahteraan dan harmoni antar sesama umat manusia.

Penulis adalah Ketua Pusat Studi Keislaman dan Ilmu-Ilmu Sosial Pesantren Baitul Hikmah Krapyak Yogyakarta.